Film Lokal, Sebuah Identitas atau Sebatas Komersialisasi?

Film Lokal, Sebuah Identitas atau Sebatas Komersialisasi?
Film Maipa Deapati dan Datu Museng (youtube)

POROSMAJU.COM, MAKASSAR- Ada sebuah fenomena menarik dalam kebudayaan Bugis-Makassar. Berbagai upaya dilakukan untuk merekam persoalan yang menyangkut fenomena sosial.
Untuk saat ini, salah satu medium yang banyak merekam pesoalan kebudayaan Bugis-Makassar adalah medium film. Sebut saja, salah satu film fenomenal seperti “Uang Panaik” yang mampu menarik jumlah penonton yang luar biasa.
Ketenaran uang panaik kemudian menjadi sebuah nafas baru bagi perfilman lokal khususnya di Makassar. Jika sebelumnya ada film “Bombe”, “Uang Panaik”, “Parakang” dan beberapa film bergenre lokal, saat film seperti itu kembali masif diproduksi.
Dua film yang tren saat ini adalah “Maipa Deapati dan Datuk Museng” dan “Silariang”. Keduanya mengangkat fenomena kebudayaan Bugis-Makassar.
Ada sebuah corak di setiap film berupa pengangkatan masalah kebudayaan. Sebut saja “Uang Panaik” tentang tingginya mahar dan uang panaik bugis Makassar. “Silariang” dengan tema cinta yang terlarang. Kemudian, “Maipa Deapati dan Datuk Museng
” tentang pengorbanan cinta di balik sebuah peperangan di Makassar.
Ada sebuah benang merah yang membuat “fenomena sosial budaya” menarik untuk dikomersialisasikan. Tentu sebuah dilematis, karya yang mengutamakan identitas kebudayaan ataukah upaya komersialisasi semata.
Aslan Abidin, seorang sastrawan dan budayawan mengungkapkan bahwa sebenarya persoalan munculnya fenomena film bergenre lokal merupakan sebuah upaya menangkap idiom-idiom untuk dikomersialisasikan.
“Dalam hal seperti ini, masalahnya tidak terutama pada budaya Bugis atau Makassar-nya, tapi budaya massa yang sedang menimpa peradaban global. Salah satu ciri budaya massa adalah pengumpulan keuntungan ekonomi melalui media massa,” ujar Aslan Abidin.
Lebih lanjut, Aslan menyebutkan bahwa pengangkatan film dengan idiom lokal merupakan upaya untuk mencari keuntungan.
“”Film ‘Uang Panai’ atau film-film serupa lainnya di Makasar, hanyalah upaya para pengusaha film untuk mendapatkan keuntungan dengan berlomba membuat film-film dengan menggunakan idiom-idiom budaya Bugis atau Makassar,” ujar Aslan Abidin
Identitas merupakan soal kedua, soal utama menurut Aslan adalah persoalan ekonomi.
“Apakah film itu mengutamakan kualitas atau keuntungan? Jelas yang diutamakan adalah keuntungan ekonomi. Film-film seperti itu kebanyakan dibuat terburu-buru dan minim riset. Jualannya terutama adalah idiom budaya yang ngepop di masyarakat tertentu, mengangkatnya menjadi film dan massa –yang biasanya berpengetahuan rendah– yang terpukau dengan idiom tersebut, pergi menontonnya,” tutupnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *