Ilmu Seks Serba Sabar; Lontara’ Assikalabineng Bugis-Makassar

 Ilmu Seks Serba Sabar; Lontara’ Assikalabineng Bugis-Makassar

Ilmu Seks Serba Sabar; Lontara’ Assikalabineng Bugis-Makassar
Ilustrasi (fajar)

POROSMAJU.COM-Sebagian orang mungkin akan bersepakat, membahas seks berarti menyoal tentang ke-erotis-an. Kesepakatan tersebut mengarahkan kita untuk enggan mengangkat tema ini ke ruang diskusi yang bersifat publik.
Seks tidak selalu tentang penanggalan busana yang berujung pada aktivitas penetrasi. Di luar dari itu ada kesakralan dalam setiap tata caranya.
Selama ini mungkin kita tidak asing dengan istilah Kama Sutra. Sekadar bahan diskusi, Suku Bugis juga memiliki referensi Kama Sutra dengan sebutan yang berbeda, yaitu Lontara’ Assikalabineng.
Dalam Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Sulawesi Selatan, ada 4.049 naskah Assikalaibineng, dan 44 ditempatkan dalam entri lontara pendidikan seks. Dari 44 itu, 28 memakai bahasa dan aksara Bugis, dan 16 memakai bahasa Makassar dengan macam-macam aksara (Sulapa’ Eppa, Serang, dan Jangang-Jangang).
Lebih sabar sebelum memulai ‘pemanasan’
Berbeda dengan Kama Sutra yang lebih mengedepankan pada teknik belaka, Assikalabineng lebih dari itu. Di sana dijelaskan tentang aturan sebelum memulai aktivitas seksual yang terkesan bersahaja dan ditutup dengan sopan.
Melalui disertasi ‘To Take Each Other’: Bugis Practices of Gender, Sexuality and Marriage (2003), Nurul Ilmi Idris menjabarkan pada bagian Manners in Sexual Intercourse: from Lontara’ to Practice. Dalam memulai, suami akan mengirim signal berupa sentuhan (makkobbiq) yang kemudian direspons oleh istri dengan sebuah senyum malu-malu (macawa cabberu).
Lebih jauh, orang Bugis tidak hanya menempatkan aktivitas seks sebagai kebutuhan biologis melainkan juga untuk memeroleh rahmat Tuhan.
Nakko nakobbiqko lakkaimmu, pitujui magatti, namakkoto gattiqna pole dalleqmu.
Jika diterjemahkan, maka artinya adalah, jika suami mulai menggodamu untuk memulai aktivitas seks, segera penuhi ajakan tersebut, agar segera pula rezeki datang padamu.
Dalam setiap inci sentuhan selalu ada kata kunci berupa mantra yang harus diucapkan suami sebagai upaya memohon rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Orang Bugis sepertinya harus lebih ‘sabar’. Pasalnya, sebelum aktivitas ‘pemanasan’ atau (foreplay), mesti diawali lagi dengan pembersihan diri dari najis dengan air wudhu serta kode-kodean dengan mengucap salam.
Megapa bercinta mesti di dalam kelambu?
 Entah sensasi seperti apa yang diharapkan dengan bercinta di dalam kelambu. Setidaknya, itulah yang pertama kali muncul di dalam benak. Itu tidak kesempitan?
Ternyata, aktivitas badaniyah ini disarankan untuk dilakukan dengan cahaya yang tidak benderang dan dilakukan dalam satu sarung, atau kain tertutup, atau kelambu demi tata krama.
Masyarakat Bugis, seperti dikemukakan Christian Pelras dalam bukunya, “The Bugis Man (2006)” memang memiliki sarung khusus yang bisa memuat sepasang suami istri.
Teknik mengatur napas adalah inti dari ketahanan pihak suami
Bukan rahasia lagi jika suami selalu mecapai orgasme lebih dahulu daripada istri. Oleh karena itu, sangat penting mempertimbangkan hal yang satu ini. Hal ini masih seputar mantra.
Melalui tulisan Muhlis Handrawi (2009), dengan judul Assikalaibineng terdapat sebuah kutipan mantra berikut;
Ketika kalamung (zakar) bergerak masuk urapa’na (vagina) disarankan membaca lafal (dalam hati) Subhanallah sebanyak 33 kali disertai tarikan nafas.
“Mmupanggoloni kalamummu, mubacasi iyae/ya qadiyal hajati mufattikh iftahkna/…..! Pada ppuncu’ni katauwwammu pada’e tosa mpuccunna bunga’e (sibolloe)/tapauttmani’ katawwammu angkanna se’kkena, narekko melloko kennai babangne ri atau, lokkongi ajae ataummu mupallemmpui aje; abeona makkunraimmu, majeppu mukennai ritu atau…., na mubacaisi yae wikka tellu ppulo tellu/subhanallah../”
Artinya, “….arahkan zakarmu, dan bacalah ini/Ya qadiyyal hajati mufattikh iftakhna/….kemudian cium dadanya,. lalu naikkan panggulnya, … ketika itu mekarlah kelaminnya layaknya mekarnya kelopak bunga, masukkan zakarmu hingga batas kepalanya, dan bacalah subhanallah 33 kali….(Kartini).

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *