Letusan Gunung Sinabung, Warga Sudah Terbiasa?

Gunung Sinabung Kembali Meletus, Warga Dinilai Sudah Terbiasa
Sumber: VOA Indonesia

POROSMAJU.COM, Letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, membuat dunia terenyak.  Pasalnya, ini merupakan letusan terbesar sepanjang tahun 2018.
Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600. Gunung Sinabung tercatat mendadak aktif kembali dan meletus pada tahun 2010. Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.
Sinabung mulai bangun setelah gempa bumi disertai tsunami dahsyat  yang mengguncang Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, disusul kemudian dengan gempa Nias Maret 2005 dan Juli 2006 , diikuti  Gempa Padang pada Maret 2007 yang  berulang pada September 2009 yang diikuti Gempa Nias lagi Oktober 2009.
Di tahun 2018, baru-baru ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG menyatakan Sinabung meletus pukul 08.45 WIB, 19 Februari 2018.
Tinggi kolom hingga 5 km disertai luncuran awan panas hingga 4,9 km. Sejak 2014, baru kali ini letusan disertai suara gemuruh .
“Tidak ada korban jiwa. Semua penduduk di zona merah sudah lama diungsikan,” kata Kepala Pusdatin Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo, abu vulkanik telah menciptakan fenomena langka. Sinar matahari takdapat menembus pekatnya abu vulkanik dan menyebabkan langit menjadi gelap gulita seperti malam hari.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pantau Gunung Sinabung, jarak luncur abu vulkanik sektoral Selatan-Tenggara yakni 4.900 meter dan sektoral Tenggara-Timur 3.500 meter.
Selanjutnya awan panas letusan dengan jarak luncur 4.900 meter mengarah ke Selatan. Teramati gugur dengan jarak luncur 1.000-1.500 meter mengarah ke Tenggara dan visual tertutup abu.
Lima wilayah kecamatan di Kabupaten Karo, yakni Kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Naman Teran, Kecamatan Payung, Kecamatan Tiga Nderdet dan Kecamatan Munthe. Tiba-tiba saja dilanda kegelapan seperti malam hari.
Informasi dari Badan, Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Aceh menyebutkan bahwa dampak letusan Gunung Sinabung sudah sampai ke Aceh, bahkan sudah memasuki Aceh Utara.
Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan letusan Gunung Sinabung kali ini tergolong kuat.
Abu vulkanis tersebut mulai terasa turun di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya, pada Senin, 19 Februari 2018 malam, pukul 19.00 WIB. Ini ditandai dengan debu menempel pada benda-benda yang berada di luar rumah, seperti kendaraan bermotor.
Debu vulkanik akibat meletusnya Gunung Sinabung yang dibawa angin juga sudah sampai ke Kabupaten Bireuen. Sebagian warga juga telah dievakuasi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Meski demikian, pada siang hari, aktivitas warga telah normal kembali. Warga dinilai sudah terbiasa melihat letusan Gunung Sinabung.
Wakil Bupati Kabupaten Karo, Corry Sebayang mengatakan, Pemerintah Karo tidak meliburkan sekolah pascaerupsi Gunung Sinabung. Seluruh siswa di seputaran kaki Gunung Sinabung tetap bersekolah.
“Sekolah tidak diliburkan, karena biasa bisa saja. Hanya saja, erupsi ini paling besar. Karena itu, anak sekolah tetap beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

Kepala Pos Pantau Gunung Sinabung, Armen Putra, menjelaskan,  bahwa kondisi mulai berjalan normal.
“Hari ini, kondisi Sinabung relatif normal. Berdasarkan pantauan kami, terjadi 11 kali guguran dengan amplitudo 4 sampai 43 milimeter dengan durasi 40 sampai 125 detik,” katanya, Selasa 20 Februari 2018.
Armen menambahkan, angin bertiup lemah ke arah Barat Daya. Suhu udara relatif normal yakni 16 samping 19 derajat celsius.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *