Menggairahkan Nilai-Nilai Pendidikan

 Menggairahkan Nilai-Nilai Pendidikan

OPINI.POROSMAJU.com – Pendidikan di Indonesia belum mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa, apalagi untuk bersaing di level dunia. Pendidikan akan maju kalau diterapkan ‘resep’ yang pas untuk itu. Setidaknya ada tiga hal mendasar yang perlu diperhatikan untuk menggairahkan pendidikan di Indonesia. Apabila tiga hal tersebut telah terpenuhi maka out put dari pendidikan akan dapat menghasilkan intelektual yang mumpuni di bidangnya. Tiga hal tersebut adalah; pertama disiplin yang tinggi. Maju mundurnya suatu negara ditentukan oleh tingkat disiplinnya. Jepang misalnya, sehabis Perang Dunia II negara ini hancur, dan terpaksa memulai pembangunan dari nol tetapi sekarang Jepang menjelma sebagai garda terdepan dalam masalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini lain tidak dikarenakan tingginya tingkat disiplin yang diterapkan di negeri sakura itu.

Hal kedua sarana dan pra sarana yang memadai. Pendidikan di Indonesia akan maju kalau sarana dan prasarananya sudah tercukupi dengan baik. Sebagai contoh di salah satu perguruan tinggi misalnya banyak mahasiswa yang mengontrak mata kuliah keterampilan komputer tetapi buta terhadap komputer. Hal ini dikarenakan mereka hanya dihadapkan pada teori-teori tentang mengoperasionalkan komputer tetapi komputernya tidak ada sehingga praktek tidak dilakukan. Masalah teori memang mereka sudah bisa, tetapi teori tidaklah sama dengan praktek. Pelajaran-pelajaran yang sifatnya praktis seperti komputer tidak bisa hanya mengandalkan teori saja, melainkan harus digandengkan dengan praktek. Teori memang perlu tetapi praktek sangat perlu atau wajib hukumnya untuk dilakukan. Komputer merupakan salah satu contoh saja belum lagi masalah kelengkapan labor dan pelajaran-pelajaran yang membutuhkan alat peraga atau praktek lainnya. Minimnya sarana dan prasarana tersebut dapat menghambat laju pertumbuhan pendidikan.

Di samping itu, pengaruh sarana dan prasarana dalam menunjang mutu pendidikan juga bisa dilihat dari skripsi atau karya ilmiyah mahasiswa. Banyak sekali skripsi atau karya ilmiyah mahasiswa yang asal jadi, referensi yang tidak jelas dan plagiat-plagiat liar. Ini semua lain tidak dikarenakan sarana atau alat-alat kelengkapan pendidikan yang sangat minim sekali. Pemerintah harus berani mengambil kebijakan untuk memperbaiki permasalahan seperti itu, ya itu pun kalau ingin maju.

Hal ketiga yang cukup signifikan untuk diperhatikan adalah tenaga pengajar (guru/dosen) yang berkualitas. Kita bisa lihat mutu pendidikan di lingkungan kita sulit sekali untuk mendekati mutu pendidikan di negara-negara maju. Hal ini lain tidak karena kualitas tenaga pengajar yang tidak begitu menggigit. Ada pertanyaan mendasar, yang cukup urgen untuk diselesaikan, sebelum kita melangkah terlalu jauh dalam menggairahkan khasanah intelektual di Indonesia ini. Pertanyaan itu adalah, bagaimana mungkin kalau tenaga pengajarnya semasa duduk di bangku kuliah mendapatkan nilai (ilmu) enam puluh (C-) bisa menghasilkan siswa atau mahasiswa memperoleh nilai (ilmu) yang maksimal seperti nilai delapan puluh atau seratus (A+). Paling tinggi guru/dosen tersebut hanya bisa menggiring siswa atau mahasiswanya untuk menghasilkan nilai (ilmu) enam puluh (C-) karena, kemampuan guru/dosennya hanya sampai di situ.

Pendidikan di negara kita memang memunculkan banyak dilema, tetapi kalau kita benar-benar berkeinginan untuk memajukannya tidak tertutup kemungkinan kalau kita masih bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Setidaknya tiga hal yang penulis paparkan di atas perlu mendapat perhatian kita bersama. Perlahan tapi pasti kita akan mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju dalam berbagai segi, kalau memang kita mempunyai komitmen akan hal itu. Wa Allah A’lam

Penulis : Anggi Manda Putra

Related post