Pengamat Politik Bicara Tradisi Gerak Jalan Santai Politis Kandidat

Pengamat Politik, Andi Luhur Prianto

POROSMAJU.COM, Makassar — Gerak jalan santai menjadi tradisi politik di negeri ini. Tidak terkecuali di Sulsel, hampir semua peserta Pilkada pernah menggelar gerak jalan santai.  Bahkan ada peserta kontestasi yang  dua kali menggelar gerak jalan santai ini.
Atas fenomena itu, pengamat politik, Andi. Luhur Prianto mengatakan, bahwa sebenarnya gerak jalan santai adalah model mobilisasi massa bentuk sosialisasi yang paling konvensional.
“Tidak terlalu sulit menghadirkan massa besar di era politik transaksional seperti sekarang. Sepanjang organizer acara mampu memenuhi kebutuhan massa, maka mereka (massa) hadir,”  jelasnya.
Ia melanjutkan, umumnya yang hadir adalah massa pragmatis, tidak ideologis. Jenis massa seperti ini bukan gambaran dukungan yang sesungguhnya. Bisa jadi di event-event sejenis oleh kandidat lain, massa yang sama juga hadir.
“Tapi untuk kebutuhan show force (unjuk kekuatan) yang bersifat memotivasi tim internal, model penggerakan massa seperti jalan santai, saya kira bisa bermanfaat untuk mengukur kapasitas tim mengorganisir massa,” kata Luhur.
Sementara itu, untuk model mobilisasi massa lainnya yang dibalut dengan semangat filantropi, seperti bakti sosial atau kegiatan amal lainnya, menurut Luhur, hanya pencitraan politisnya yang menonjol.
“Kalau bakti sosial khanya citra politisnya yang sangat kuat. Saya kira publik bisa langsung menilai aksi-aksi sosial aksidental di momen-momen politik seperti itu sebagai upaya memengaruhi pemilih,” ungkapnya.
Lanjutnya, masyarakat pasti akan mengikuti semua gerak jalan dan aksi filantropi aksidental yang dilaksanakan bakal calon. Terlebih, biasanya, massa hadir karena di organisasi.
“Tetapi soal pilihan atau dukungan masih perlu pendekatan lanjutan,” tutup Luhur yang juga Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan Unismuh Makassar itu.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *