Pengislaman Sulsel dengan Penaklukan

Masjid Tua Katangka, Masjid tertua milik Kerajaan Gowa.

POROSMAJU.COM– Jika Anda menjelajahi kota Makassar, akan ditemui salah satu jalan protokol yang menghubungkan antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, yaitu Jalan Sultan Alauddin.
Sultan Alauddin bukan hanya sebagai sebuah nama layaknya pahlawan yang dikenal karena keberanian, tetapi ia juga merupakan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap kebudayaan dan kehidupan di Sulsel Sulawesi Selatan.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa Sultan Alauddin merupakan salah satu raja yang memegang gelar di usia yang masih sangat muda. Buku Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke 17 (2011) yang ditulis oleh Leonard Y Andaya menyebutkan, Sultan Alauddin menjabat sebagai raja pada tahun 1593 saat berumur tujuh tahun.
Sebelum mendapatkan gelar Sultan Alauddin karena memeluk Islam, ia lebih dikenal dengan nama I Manga’rangi Daeng Manrabbia. Meski Sultan Alauddin dikenal sebagai raja Gowa pertama yang memeluk Islam, akan tetapi hal tersebut tentunya tidak terlepas dari kerajaan Tallo yang lebih dahulu memeluk agama Islam.
I Mallingkaang atau lebih dikenal dengan “Karaeng Matoaya” merupakan orang yang mendapingi Sultan Aluddin menjalankan pemeritahan saat masih belia. Keduanya menjadi seorang tokoh yang sangat disegani di kerjaaan Gowa dan Tallo.
Pada tahun 1603, Karaeng Matoaya memeluk Agama Islam yang kemudian diikuti oleh raja Gowa, I Mangaqrangi Daeng Manrabbia (Sultan Alauddin). Karena sang raja memeluk Islam, masyarakatnya pun ikut memeluk Islam.
Andaya menyebutkan bahwa keputusan Karaeng Matoa memeluk Islam berakibat penting bukan hanya bagi kehidupan pribadi rakyat tetapi juga sifat kesesejaran politik masa depan Sulsel. Gowa kemudian memiliki kekuatan lebih untuk menguasai Sulsel sekaligus menyebarkan agama Islam.
Tentu saja kekuatan tersebut berasal dari kerajaan-kerajaan nusantara yang memiliki latarbelakang yang sama yaitu Islam. Hal yang paling nyata saat itu adalah kerajaan Luwu yang memilih bersekutu dengan Gowa karena alasan politis dan religius. Luwu berdasarkan beberapa catatan menyebutkan kerajaan pertama yang memeluk Islam.
Andaya menyebutkan bahwa Gowa mulanya mengajak Bone dan Soppeng memeluk Islam. Akan tetapi, Gowa mendapatkan penolakan. Gowa kemudian menyerang Soppeng tetapi gagal. Beberapa waktu kemudian Gowa menyerang Wajo, akan tetapi persatuan Tellupoccoe mampu memukul mundur Gowa.
Meski kerap menderita kekalahan, hal tersebut tak menyurutkan semangat untuk terus berjuang. Gowa kemudian mendapatkan bantuan dari Luwu yang menyerang Paneki di Wajo. Peperangan antara Gowa dan sekutunya Luwu melawan Persekutuan Wajo Soppeng mau pun Bone terus berlanjut.
Peperangan ini kemudian dimenangkan Gowa dan Luwu. Pada tahun 1609 Sidenreng dan Soppeng memeluk agama Islam. Hal tersebut kemudian diikuti Wajo pada tahun 1610 dan Bone pada tahun 1611.
Tentu saja Gowa mendapatkan perlawanan terhadap usaha tersebut, tetapi mampu ditepis sehingga membuat Islam berjaya di Sulsel. Menyusul dipeluknya Islam di Sulsel, dewan penasihat tardisional kerajaan yang terdiri dari para bangsawan dapat diimbangi oleh dewan religius. Jadi, selain penasihat untuk persoalan sekuler, terdapat juga penasihat seputar agama Islam.
Keberhasilan kerajaan Gowa memasukkan Islam melalui kerajaan, menjadi penyebab diakuinya penguasa sebagai pemimpin agama di kerajaan. Islam lalu disebarluaskan ke seluruh masyarakat Sulsel. Keyakinan kabanyakan  orang Sulsel hari ini (Islam) tentunya tak terlepas dari peran kerajaan Gowa dan Luwu dalam menyebarkan Islam meski dengan cara peperangan dan penaklukkan. Dua nama penting tentu saja adalah Sultan Alauddin dan Karaeng Matoaya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *