Pernikahan dan Hal-Hal Klise, Pementasan Teater Mahasiswa Bahasa Indonesia UNM

Adegan Ramlah, Emmaq Sitti, dan Sewang dalam Pementasan Drama Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNM di Auditorium Amanagappa, Rabu, 6 Desemebr 2017 malam

POROSMAJU-MAKASSAR, Terang lampu menyorot perempuan itu. Namanya Ramlah, gadis berparas ayu yang sedang menyapu di halaman rumah. Rambutnya sebahu. Tubuhnya dibalut daster motif kotak-kotak berwarna putih-coklat.
Berulang kali matanya menyorot jauh. Kemudian menunduk lagi ke sampah-sampah dan menggiring sampah itu dengan sapu ijuk. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang. Lantunan musik sebagai latar menguatkan resahnya menanti.
Beberapa saat kemudian, seorang pemuda berkemeja batik dengan rambut yang dilumuri jel menghampirinya. “Siapakah gerang pemilik bunga yang mekar halaman hatiku ini?” ungkap pemuda yang berpenampilan klimis.
“Luasnya itu hati-ta, kalau sampai di sini halamannya,” balas Ramlah takmau kalah dengan pemuda itu. Ramlah masih tampak gelisah, ada raut muka yang taknyaman bertemu dengan pemuda itu.
“Perkenalkan namaku Sewang,“ ujar lelaki itu. Seaat kemudian gombalan-gombalan klise muncul dari mulutnya sebagai upaya menggoda Ramlah. Akan tetapi, yang terjadi, Ramlah semakin kikuk akan kata-kata manis yang tampaknya tak berarti untuknya.
Malahan, keresehannya terus terlihat dan meningkat. Dengan segenap kemampuan yang dimiliki perempuan, Ramlah berhasil mengusir laki-laki yang sama sekali takbuat hatinya terpikat.
Meski telah berhasil mengusir Sewang, masalah takkunjung selesai. Datang lagi seseorang berperwakan kurus, memakai topi “sutradara” dengan baju khas pelawak Gogon. Celananya selutut dengan sepatu pantofel yang dihiasi kaos berwarna kuning.
Lelaki bernama Suparto ini takjauh beda dengan Sewang, penuh kata-kata manis yang juga membuat Ramlah semakin muak.
Dua lelaki telah berlalu dan tak mengubah apa-apa pada raut muka Ramlah. Lelaki ketiga pun hadir. Celana selutut, kaos oblong, dan sarung terikat di pinggang sambil menenteng radio.
“Maafkan diriku membuatmu bermuram durja, karena baru datang lagi menemuimu,” ungkap lelaki itu.
Tampaknya lelaki itulah yang sejak tadi ditunggu-tunggu Ramlah. Alunan musik latar menguatkan suasana ceria.
Lelaki yang bernama Bundu, mangubah seluruh raut wajah Ramlah menjadi lebih cantik dengan senyuman manisnya. Mereka bercanda gurau, tampak sangat bahagia.
Petaka pun tiba saat kakak lelaki Ramlah hadir memergoki Ramlah dan Bundu sedang berdua di teras rumah. Ramli, demikian nama kakak Ramlah. Mulailah segala konflik di antara kedua kakak beradik ini.
Emmaq Sitti, janda paruh baya yang merupakan ibu dari kedua muda-mudi itu menjadi tokoh yang terlibat langsung dengan masalah anak-anaknya.
Persoalannya klasik, Ramli yang hendak menikah tetapi keluarga belum memiliki uang. Sedangkan Ramlah yang diincar oleh pemuda-pemuda di kampung itu, tak mendapatkan restu dari Ramli.
Dua ketakutan kultur muncul di dalam cerita itu. Pertama, ketakutan Ramli menyerahkan adiknya kepada seorang lelaki yang tidak memiliki pekerjaan dan kemapanan sebagaimana ukuran-ukuran sosial. Kedua, ketakutan Emmaq Sitti terhadap nasib “perawan tua” yang akan menimpa anak perempuannya jika tidak segera menikahkannya.
Perdebatan di internal keluarga memuncak saat Ramlah dianggap lancang menentang kakak lelakiknya. Ramlah taksetuju cintanya bergantung pada yang bukan inginnya. Ramli pun semakin berang. “Persoalan cinta adalah persoalan keluarga, bukan hanya persoalan pribadi antara lelaki yang kau cintai dan mencintaimu juga.”
Meski pada akhirnya pertentangan Ramlah dan Ramli berujung pada persetujuan Ramli untuk menikahkan adiknya dengan Bundu, akan tetapi, muncul beberapa klise pernikahan di dalam naskah “Ramli dan Ramlah” karya Azis Nojeng ini.
Hal yang pertama adalah ketakutan orang tua yang berlebih jika anak perempuannya lambat menikah dibandingkan dengan anak lelakinya. Kedua, ukuran-ukuran ideal sebuah pasangan selalu terafiliasi dengan konsep kemapanan.
Naskah ini seolah ingin mengatakan bahwa keberanian seorang perempuan “angkat bicara”, ketika itu menyangkut masalah privasinya merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Keterjajahan perempuan atas lelaki, di dalam ranah privat perempuan didobrak melalui karakter Ramlah di dalam naskah ini.
Naskah yang berjudul “Ramli dan Ramlah” ini dipentaskan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2015 Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar. Penulis naskah “Ramli dan Ramlah, Azis Nojeng, merupakan pegiat teater dan kesenian Kota Makassar.  Acara pentas ini berlansung di Auditorium Amanagappa,  6–7 Desember 2017. Secara keseluruhan ada lima kelas yang akan tampil dengan berbagai macam naskah.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *