Peningkatan Kualitas PAUD, Asa Memajukan Manusia Bangsa

Ilustrasi (sumber: belajar123.com)

POROSMAJU- Sejak tahun 2015 lalu, Pemerintah Republik Indonesia mendorong program wajib pendidikan anak usia dini (PAUD) 1 tahun sebelum sekolah dasar (SD). Ini berlandaskan pada aturan UNESCO.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, kala itu dijabat Anies Baswedan, mengaku sudah mengkaji kebijakan tersebut. Pemerintah, saat itu, akan memberlakukan program ini secara bertahap bagi daerah-daerah yang sudah siap.
Pendidikan bagi anak usia dini memang penting. Usia 0-5 tahun merupakan masa gemilang bagi manusia. Di usia ini, informasi-informasi positif dan perlakuan baik akan membentuk pikir dan psikis manusia untuk masa selanjutnya.
Bahkan, James Heckman, seorang Profesor Ekonomi Universitas Chicago yang menerima Nobel Ekonomi tahun 2000, menyatakan bahwa pendidikan pada usia dini, di bawah enam tahun, merupakan investasi pendidikan yang menghasilkan keuntungan sangat besar.
Bahkan, menurut Heckmen, investasi pendidikan usia dini jauh lebih menguntungkan daripada pendidikan yang lebih tinggi. Keuntungan investasi pendidikan usia dini akan berpengaruh pada semua lini asalkan kemampuan kognitif dan karakter dikembangkan dalam PAUD secara efektif.
Karena itu, Kemendikbud RI saat ini tengah mengupayakan hadirnya pendidik PAUD yang berkompetensi. Peningkatan kompetensi guru kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), satuan PAUD sejenis (SPS), dan taman kanak-kanak (TK) tengah menjadi perhatian serius pemerintah.
Untuk itu, Kemendikbud menggagas Program Generasi Cerdas Desa. Direktorat Pembinaan GTK PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Direktorat Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa (Kemendes), dan Bank Dunia bekerja sama untuk program ini.
Seperti  yang dilansir Kompas.com, Kamis, 30 November 2017, melalui program itu, pelayanan dasar pendidikan anak usia dini didukung dengan memanfaatkan dana desa. Lokasi program PAUD GCD tersebar di 25 kabupaten, 252 kecamatan, dan 2.735 desa.
“Ketiga pihak yang terlibat di dalam program PAUD GCD menyepakati peran yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak sesuai dengan kapasitasnya,” kata Direktur Pembinaan GTK PAUD dan Dikmas Abdoellah  saat meninjau Pendidikan dan Pelatihan Berjenjang Tingkat Dasar ke salah satu PAUD Generasi Cerdas Desa di Kabupaten Lombok Barat, tepatnya di SKB Kecamatan Gunungsari, Kamis November 2017, sebagaimana dilansir Kompas.
Jabaran bagi tugas pihak-pihak tersebut, secara ringkas sebagai berikut ini. Kemendikbud berperan antara lain di dalam pendidikan dan pelatihan (diklat), kurikulum diklat, penyediaan bahan ajar, dan penyediaan training of trainer (TOT)/pelatihan calon pelatih (PCP).
Peran Kemendes di dalam mengorganisasikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang membidangi pemerintahan desa, terkait peningkatan kompetensi pendidik PAUD di desa.  Salah satu aksi riilnya, pengalokasian dana desa untuk membiayai pelatihan kompetensi guru PAUD tersebut.
Sementara, Bank Dunia berperan dalam mengoordinasikan, melaksanakan, dan membiayai pekerjaan peningkatan kompetensi pendidik PAUD.
Mengingat usia dini merupakan usia emas karena saat itulah anak bertumbuh kembang secara optimal,  guru PAUD harus betul-betul memahami hal ini dan berkompetensi yang mumpuni. Maka, peningkatan kompetensi guru PAUD sangat penting untuk  pemanusiaan manusia dan menyiapkan masa depan bangsa ini.
“Setiap rangsangan yang diberikan saat usia dini akan menyambungkan jutaan sel-sel saraf yang ada di otak anak. Sinaps-sinaps akan terjalin sehingga anak akan lebih cerdas dan mampu berbuat lebih baik seiring bertambahnya usia mereka hingga dewasanya. Sebaliknya, jalinan sinaps akan putus setiap kali anak anak mendapat bentakan, celaan dan sejenisnya,” ujar Abdoellah dalam lansiran laman Kompas.
Karena itu, sekali lagi, PAUD dan peningkatan kompetensi gurunya menjadi amat penting demi memanusiakan manusia, demi memajukan bangsa.
 
 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *