Example 728x250
Berita

Unismuh Makassar Gelar Pengajian Zulhijah, KH Abbas Baco Miro Ingatkan Makna Pengorbanan dalam Idul Adha

26
×

Unismuh Makassar Gelar Pengajian Zulhijah, KH Abbas Baco Miro Ingatkan Makna Pengorbanan dalam Idul Adha

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar— Idul Adha tidak hanya menjadi hari raya penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran berkorban, memperkuat kepedulian sosial, serta menata hubungan manusia dengan Allah SWT melalui harta yang dititipkan kepadanya.

Pesan itu disampaikan Dr KH Abbas Baco Miro LC MA dalam pengajian bulanan Universitas Muhammadiyah Makassar di Ruang Teater I-GIFT Lantai 2 Gedung Menara Iqra, Senin, 18 Mei 2026. Pengajian dipandu Abdillah Syarifuddin, dosen Pendidikan Bahasa Arab Unismuh Makassar. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan, Pengkajian, dan Pengamalan Al-Islam Kemuhammadiyahan (P4AIK) Unismuh Makassar.

Example 300x600

Dalam pengajiannya, Abbas menegaskan bahwa ibadah kurban harus dipahami sebagai ibadah yang memiliki ruh pengorbanan. Kurban, kata dia, bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan ikhtiar seorang Muslim mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut Abbas, kata kurban berasal dari makna mendekat. Adapun istilah udhiyah merujuk pada penyembelihan hewan tertentu pada waktu tertentu, yakni setelah salat Idul Adha hingga berakhirnya hari tasyrik.

“Pada saat kita menyembelih hewan kurban, tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Abbas.

Ia mengingatkan, ibadah kurban termasuk sunnah muakkadah bagi Muslim yang mampu. Karena itu, mereka yang memiliki kelapangan rezeki tidak semestinya mengabaikan ibadah tersebut. Dalam pandangan Abbas, harta yang dimiliki manusia bukanlah kepemilikan mutlak, melainkan amanah dari Allah SWT yang harus dikelola sesuai tuntunan agama.

Abbas menyebut, dalam harta terdapat hak Allah dan hak sosial yang harus ditunaikan. Karena itu, kurban menjadi salah satu bentuk kesediaan seorang Muslim mengeluarkan sebagian hartanya untuk ibadah dan kemaslahatan sesama.

“Kalau kita sayang kepada anak-anak dan istri, harus berkurban,” ujar Abbas. Ia menjelaskan, seekor kambing dapat diniatkan untuk satu orang beserta keluarganya, sedangkan seekor sapi dapat menjadi kurban untuk maksimal tujuh orang. Dalam satu keluarga, siapa pun nama yang didaftarkan, kurban itu dapat diniatkan untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya.

Abbas juga mengaitkan kurban dengan keutamaan 10 hari pertama Zulhijah. Menurut dia, umat Islam sering kali lebih bersemangat menyambut Ramadan dibanding Zulhijah, padahal banyak dalil yang menunjukkan besarnya keutamaan amal saleh pada awal Zulhijah.

Ia menjelaskan, amal saleh pada 10 hari pertama Zulhijah memiliki kedudukan sangat tinggi. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa, zikir, takbir, sedekah, membaca Al Quran, salat malam, serta menunaikan kurban.

Abbas menilai, salah satu sebab syiar Zulhijah belum semeriah Ramadan adalah kurangnya pemahaman umat tentang nilai dan keutamaannya. Akibatnya, Idul Kurban sering dipahami secara sempit sebagai seremoni penyembelihan hewan, bukan sebagai ruang pembentukan kesalehan pribadi dan sosial.

Dalam penjelasan fikih kurban, Abbas mengingatkan pentingnya memilih hewan kurban yang memenuhi syarat. Sapi minimal berusia dua tahun, kambing satu tahun, dan domba enam bulan. Hewan kurban juga harus sehat, tidak buta sebelah, tidak pincang berat, tidak terlalu kurus, dan tidak memiliki cacat yang membuatnya tidak sah sebagai kurban.

Ia menambahkan, penyembelihan harus dilakukan setelah salat Idul Adha. Jika dilakukan sebelum salat Id, penyembelihan itu tidak dihitung sebagai kurban, melainkan sedekah biasa.

Abbas juga menekankan adab penyembelihan. Hewan kurban harus diperlakukan dengan baik, alat penyembelihan harus tajam, dan prosesnya tidak boleh menyakiti hewan secara berlebihan. Ia mengingatkan agar hewan tidak disembelih di hadapan hewan lain.

Dalam sesi tanya jawab, Abbas menyoroti pentingnya pengelolaan kurban secara tertib dan terorganisasi. Menurut dia, keberadaan panitia diperlukan agar distribusi daging lebih merata dan tidak hanya berputar pada kelompok tertentu.

“Kepanitiaan itu mengatur supaya merata pembagian daging. Sebab kalau tidak, pasti ada yang dobel-dobel, bahkan mungkin ada yang tidak dapat,” ujarnya.

Daging kurban, lanjut Abbas, dapat dibagi untuk sahibul kurban, fakir miskin, dan hadiah. Ia juga membolehkan daging kurban diberikan kepada tetangga, orang kaya, bahkan non-Muslim sebagai hadiah, selama tidak bertentangan dengan kemaslahatan.

Abbas menegaskan, nilai universal kurban terletak pada kepedulian. Karena itu, daging kurban tidak boleh dipahami hanya sebagai hak kelompok tertentu. Setelah ibadah kurban ditunaikan, pemanfaatan dagingnya harus diarahkan untuk memperluas manfaat sosial.

Ia juga menjelaskan praktik kurban secara daring. Menurut Abbas, kurban boleh dilakukan di tempat lain atau disalurkan melalui pihak yang dipercaya, terutama jika terdapat nilai maslahat. Namun, ia mengingatkan agar kemudahan teknis itu tidak menghilangkan ruh kurban.

“Bukan hanya sekadar menyerahkan kurban, tetapi ada nilai-nilai Islami yang harus diperkuat tingkat kesadarannya,” kata Abbas.

Menurut Abbas, ruh kurban adalah kesadaran untuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim, memperkuat kepasrahan kepada Allah, serta membangun solidaritas sosial. Idul Kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi menjadi pendidikan spiritual agar manusia lebih rela berbagi, lebih peduli kepada sesama, dan lebih bertanggung jawab atas amanah harta yang dimilikinya.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *