Example 728x250
Berita

Gelar Milad ke-109 di Unismuh, Aisyiyah Makassar Dorong Pendidikan, Keluarga Sakinah, dan Penguatan Amal Usaha

10
×

Gelar Milad ke-109 di Unismuh, Aisyiyah Makassar Dorong Pendidikan, Keluarga Sakinah, dan Penguatan Amal Usaha

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar  — Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar menegaskan kembali peran dakwah kemanusiaan sebagai napas gerakan perempuan Islam berkemajuan. Penegasan itu mengemuka dalam Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah tingkat Kota Makassar yang digelar di Gedung Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar, Sabtu, 27 Juni 2026.

Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, Milad Aisyiyah tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai perayaan usia organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang refleksi atas kontribusi panjang Aisyiyah dalam bidang pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi, lingkungan, serta penguatan keluarga.

Example 300x600

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar, Dra. Hj. Suryana Yusuf, dalam pidato miladnya mengatakan, perjalanan Aisyiyah selama lebih dari satu abad menunjukkan bahwa gerakan perempuan Islam memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.

“Milad adalah momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang perjuangan perempuan Islam yang telah memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Suryana.

Ia mengingatkan, Aisyiyah lahir dari kesadaran pembaruan yang dirintis KH Ahmad Dahlan melalui kelompok pengajian perempuan muda bernama Sapa Tresna pada 1914. Dari pengajian sederhana itu, tumbuh kesadaran bahwa perempuan tidak hanya berperan dalam ruang domestik, tetapi juga menjadi pelopor perubahan sosial.

Nama Aisyiyah, kata Suryana, diambil dari sosok Sayyidah Aisyah RA, perempuan cerdas, berilmu, berani menyampaikan kebenaran, dan menjadi salah satu periwayat hadis terbesar dalam Islam. Nama itu menjadi inspirasi bahwa perempuan dapat menjadi pusat pencerahan dan penggerak kemajuan masyarakat.

Di Kota Makassar, lanjut Suryana, Aisyiyah tumbuh dari perjuangan para perempuan pelopor, antara lain Hj. Fatimah Abdullah dan Siti Maimunah Dg Mattiro. Pada 1937, terbentuk Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar dengan Hj. Fatimah Abdullah sebagai ketua.

Pendidikan sebagai Investasi Perdamaian

Kini, Aisyiyah Kota Makassar mengelola 88 TK Aisyiyah Bustanul Athfal, satu sekolah dasar, satu madrasah tsanawiyah, dan satu sekolah menengah umum. Selain itu, Aisyiyah juga mengelola tiga panti asuhan serta layanan bagi lansia.

Menurut Suryana, amal usaha tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan pelayanan sosial merupakan bagian penting dari dakwah kemanusiaan. Setiap lembaga pendidikan Aisyiyah tidak hanya bertugas mencerdaskan anak, tetapi juga menanamkan nilai keislaman, akhlak mulia, toleransi, cinta tanah air, dan semangat hidup damai.

“Setiap anak yang mendapatkan pendidikan yang baik hari ini adalah investasi perdamaian untuk masa depan,” katanya.

Suryana juga menyoroti tantangan sosial yang semakin kompleks, mulai dari kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, degradasi moral, hingga melemahnya ketahanan keluarga. Salah satu persoalan yang ia tekankan ialah meningkatnya angka perceraian di Kota Makassar.

Ia menyebut, data Pengadilan Agama Kelas IA Makassar menunjukkan, pada 2024 terdapat 2.007 kasus perceraian yang diselesaikan. Jumlah itu terdiri atas 1.597 cerai gugat dan 410 cerai talak. Menurut dia, data tersebut menjadi peringatan penting bahwa keluarga perlu diperkuat melalui nilai agama, komunikasi sehat, dan pendidikan keluarga yang berkelanjutan.

Dalam konteks itulah, kata Suryana, Aisyiyah hadir melalui dakwah keluarga, pembinaan keluarga sakinah, pengasuhan anak, pemberdayaan perempuan, serta penguatan ekonomi keluarga. Dakwah kemanusiaan, menurut dia, tidak cukup berhenti pada ceramah dan pengajian, tetapi harus hadir dalam pelayanan nyata.

“Dakwah kemanusiaan harus hadir dalam bentuk pelayanan yang nyata,” ujarnya.

Suryana menambahkan, berbagai program Aisyiyah, seperti Sekolah Wirausaha Aisyiyah, Rumah Sakinah, Posbakum, Gerakan Perempuan Mengaji, layanan Lazismu, panti asuhan, serta program lingkungan, menjadi bukti bahwa dakwah harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Memasuki era digital, Aisyiyah Kota Makassar juga terus beradaptasi melalui penguatan sistem informasi organisasi dan pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah. Langkah itu, kata Suryana, merupakan bagian dari semangat tajdid yang menjadi karakter perempuan berkemajuan.

“Kita tidak boleh menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi pelaku perubahan yang membawa nilai-nilai Islam yang mencerahkan,” katanya.

Milad sebagai Muhasabah Organisasi

Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dr. Mahmudah, M.Hum, dalam sambutannya menyambut baik pelaksanaan Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar. Ia menilai, milad merupakan momentum muhasabah untuk mengevaluasi pelaksanaan program organisasi dari tingkat wilayah, daerah, cabang, hingga ranting.

Mahmudah mengatakan, tema dakwah kemanusiaan untuk perdamaian harus diterjemahkan dalam kerja nyata. Ia mendorong Pimpinan Daerah, Cabang, dan Ranting Aisyiyah mempercepat penyelesaian program kerja yang telah diputuskan melalui musyawarah dan rapat kerja organisasi.

Menurut dia, berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian Milad ke-109 menunjukkan bahwa Aisyiyah Kota Makassar telah bergerak dalam banyak bidang. Kegiatan itu antara lain lomba perawatan jenazah, pelatihan wirausaha, lomba hafalan Al-Qur’an, pelatihan membatik, lomba video kreatif pemilahan sampah, workshop kurikulum PAUD, hingga layanan kesehatan.

Mahmudah juga menekankan pentingnya kerja sama Aisyiyah dengan Pemerintah Kota Makassar. Salah satu isu yang ia soroti ialah pengelolaan lingkungan dan sampah. Ia menyebut, Aisyiyah memiliki Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana yang dapat bersinergi dengan program pemerintah kota.

Ia berharap, Aisyiyah dapat mengambil peran dalam gerakan sampah berdaya, pemilahan sampah, dan penguatan budaya lingkungan dari rumah tangga hingga masyarakat. Dengan begitu, kontribusi Aisyiyah tidak hanya tampak dalam pendidikan dan sosial, tetapi juga dalam pembangunan kota yang bersih dan berkelanjutan.

“Hadirnya Aisyiyah betul-betul harus berkontribusi nyata dan menjadi pelaku sejarah,” ujar Mahmudah.

Menghidupkan Amal Usaha Muhammadiyah-Aisyiyah

Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar, Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag, mengajak warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk menghidupkan amal usaha. Menurut dia, momentum milad harus menjadi pengingat bahwa amal usaha yang telah dibangun perlu diperkuat dan dimanfaatkan oleh warga persyarikatan sendiri.

Darwis mencontohkan keberadaan rumah sakit, sekolah, dan lembaga pendidikan Muhammadiyah-Aisyiyah yang membutuhkan dukungan nyata dari warga persyarikatan. Ia menegaskan, membangun amal usaha tidak cukup hanya dari sisi kelembagaan, tetapi harus diikuti dengan kepercayaan dan partisipasi warga.

“Kita membangun sekolah, kita membangun rumah sakit, tetapi kalau orang Muhammadiyah sendiri tidak pergi ke situ, itu masalah,” katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya penguatan pendidikan melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah. Menurut Darwis, anak-anak warga persyarikatan perlu diarahkan untuk ikut membesarkan lembaga pendidikan yang telah dibina bersama.

Selain soal amal usaha, Darwis juga menaruh perhatian pada isu keluarga, khususnya perceraian. Ia menilai, persoalan ekonomi kerap menjadi tekanan dalam rumah tangga. Karena itu, dakwah kemanusiaan Aisyiyah harus ikut menjawab persoalan sosial tersebut melalui pemberdayaan keluarga dan penguatan ekonomi.

“Dakwah kemanusiaan yang kita ingin kembangkan, mari kita sama-sama melakukan dengan baik,” ujarnya.

Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Makassar Alia Mustika Ilham, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, unsur Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan, Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Makassar, pimpinan cabang dan ranting Aisyiyah, serta perwakilan organisasi perempuan dan lembaga keagamaan.

Ketua Panitia Milad, Dra. Nurhuda Yusuf, sebelumnya melaporkan bahwa rangkaian semarak Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar melibatkan berbagai majelis dan lembaga. Kegiatan itu diikuti peserta dari sejumlah cabang Aisyiyah se-Kota Makassar.

Nurhuda menyebut, peserta yang hadir dalam resepsi milad mencapai sekitar seribu orang, terdiri atas 25 cabang Aisyiyah dan para undangan. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, donatur, sponsor, dan pihak-pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar pada akhirnya menjadi penegasan bahwa dakwah kemanusiaan tidak berdiri di ruang kosong. Ia hadir melalui pendidikan anak, penguatan keluarga, pemberdayaan perempuan, pelayanan sosial, kepedulian lingkungan, dan komitmen membangun masyarakat yang damai.

Memasuki usia ke-109, Aisyiyah diharapkan semakin kokoh sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang memadukan iman, ilmu, amal, dan peradaban. Dari keluarga, sekolah, amal usaha, hingga masyarakat luas, Aisyiyah terus meneguhkan perannya sebagai pelopor dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *