Asimilasi Budaya Tionghoa dan Makassar Melalui Ho Eng Dji

Asimilasi Budaya Tiongkok dan Makassar Melalui Ho Eng Dji
Masjid Muhammad Cheng Ho Makassar (gosulses.com)

POROSMAJU.COM, Dahulu, lagu-lagu daerah berbahasa Makassar pernah popular sampai ke tingkat nasional, bahkan menjadi juara tangga lagu di RRI. Lagu “Ati Raja”, “Anging Mammiri”, “Anak Kukang”, “Amma Ciang”, dan “Pakarena” merupakan lagu-lagu daerah yang popular saat itu.
Namun, tidak banyak yang mengetahui, beberapa di antara lagu daerah tersebut, seperti “Ati Raja”, “Dendang-dendang”, “Sailong” dan “Amma Ciang”, diciptakan oleh seorang dari suku Tionghoa bernama Ho Eng Dji.
Begitulah! Beberapa bukti berupa teks pada nisan di pekuburan Tionghoa di Makassar (sekarang Kawasan Pasar Sentral) memang menyebutkan, orang Tionghoa sudah datang ke Makassar sejak abad ke 14.
Saat ini nama Ho Eng Dji oleh Pemerintah Kota Makassar sejak tahun 2012 ditetapkan sebagai sebuah nama jalan, menggantikan nama Jalan Jampea.
Hong Eng Jie, melalui lagu Makassar ciptaannya membuktikan bahwa persaudaraan etnis Tionghoa dan pribumi pada masa lampau justru lebih kental dibanding saat ini. Lelaki Makassar boleh meminang gadis keturunan Tionghoa dan juga sebaliknya.
Satu dari beberapa lagu monumental yang dimaksud di antaranya yaitu lagu Ati Raja, yang aransemennya diramu dengan paduan Melayu dan Tiongkok, menjadi lagu Makassar yang abadi sepanjang masa. Berikut liriknya,
Seqre – Seqre ji Batara Baule
Ati raja na ki jai paqnganroi Baule
Rajale ellele kerea minjo ati…ati…ati raja
Ki tarima pappalaqna Baule
Mannamo ki minasai baule
Ati raja ki panaiq ri palatta rikodong
Rajale ellele taqballe tonji ati…ati…ati raja
Ka Batara tangkellai Baule
Manna ni jallo sarea daelle
Ati raja ta empoki ri sunggua ri kodong
Rajale ellele tani kanyame ati…ati…ati raja
Ki tarima passareNa daelle
Lagu tersebut menceritakan tentang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Lagu ini juga mengingatkan pada kita bahwa Tuhan itu hanya satu, kepada-Nyalah tempat kita meminta dan memohon, dan hanya Tuhanlah yang tahu dan mengabulkan yang terbaik untuk diberikan kepada kita.
Sayangnya, hubungan persaudaraan masyarakat Makassar dan Tionghoa sempat ternodai selama beberapa dekade. Ini dibentuk oleh sejarah kelam politik pemerintahan Republik Indonesia pada masa Orde Baru.
Gerak langkah warga keturunan Tionghoa dibatasi. Mereka dilarang mempertontonkan tradisi budaya pada perayaan Imlek. Atraksi barongsai hanya boleh dilakukan tertutup di dalam kelenteng atau gedung.
Makassar pernah dikategorikan sebagai kota yang sensitif dengan sentimen etnis. Hal itu bisa dipicu oleh persoalan yang dilakukan oleh oknum namun dampaknya memicu kemarahan massal.
Pengalaman buruk itu terjadi berulang kali dan terakhir dikenal dengan peritiwa Makassar Berdarah, 15 September 1997.
Berkat kepemimpinan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), etnis Tionghoa merasa lega. Keran kebebasan dibuka kembali.
Era itu ditandai dengan bangkitnya kembali budaya leluhur etnis Tionghoa, khususnya di Makassar. Kebudayaan Tionghoa kemudian membaur dan beradaptasi dengan kebudayaan setempat, baik bahasa, kesenian, tarian, pengobatan, cara berpakaian, bahkan kuliner.
Terdapat cukup banyak bukti yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kesenian gambang kromong, cokek, topeng Betawi, Lenong.
Di bidang kuliner, seperti tahu, kecap, taoge, bakmi, bakso, bihun. Di bidang pakaian seperti kebaya encim, baju koko, oto, dan angkin.
Bahkan naga, binatang legenda Tiongkok juga beradaptasi menjadi naga Jawa, bedanya naga Jawa memakai mahkota.
Demikian juga masjid-masjid dan surau-surau di Indonesia yang pasti digantungi bedug seperti yang terdapat di klenteng-klenteng di Tiongkok.
Jejak-jejak perjalanan Tionghoa di Makassar membuktikan bahwa mereka menyumbang cukup banyak bentuk kebudayaan dan secara tidak langsung telah turut dalam sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia. Mereka adalah bagian dari kita (Kartini).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *