Membahasakan Viral; Klaim yang Lahir dari Pengetahuan Setengah-setengah

Membahasakan Viral; Klaim yang Lahir dari Pengetahuan Setengah-setengah
Ilustrasi (voanews.com)

POROSMAJU.COM, Seringkali sesuatu yang sifatnya viral seolah menjamin kebenaran. Bersamaan dengan momentum pemilu, pertarungan para calon selalu dinanti oleh khalayak ramai.
Saling sikut dalam dunia politik pun dianggap lumrah. Beberapa pihak bahkan dianggap berhak untuk “bertepuk-tangan” bagi kubu masing-masing.
Baru-baru ini sempat beredar video 37 detik yang kemudian viral. Melalui salah satu media daring, terlihat Nurdin Abdullah hanya menyalami beberapa calon saja.
Pihak yang disalami hanya wakilnya, Andi Sudirman Sulaiman, calon Gubernur Nurdin Halid, calon Wakil Gubernur Aziz Qahar Mudzakkar serta komisioner KPU dan Bawaslu Sulsel.
Dalam video itu, Nurdin Abdullah melangkahi Ichsan dan Tanribali yang saat itu naik di atas panggung sebelum mencabut nomor undian. Nurdin Abdullah mengklarifikasi yang sebenarnya terjadi.
“Saya salaman. Tolong ditampilkan yang baik-baik. Maksud saya secara keseluruhan,” ujar calon bernomor urut 3 tersebut.
Bahkan, katanya, takhanya Tanribali, seluruh kandidat pun ia salami termasuk calon Gubernur Sulawesi Selatan Ichsan Yasin Limpo.
“Setelah kami mengambil nomor undian saya salami kok. Tak ada tendensi apa pun dari saya,” jelasnya.
Klaim atas kebenaran sedikit demi sedikit membahayakan. Terutama jika stigma yang dimunculkan negatif.
Atas ini, warganet akan membanjiri kolom komentar dan beranda ruang publik. Sebab demikianlah cara informasi menyebar dengan cepat.
Seharusnya, kita belajar untuk mengetahui keseluruhan sebelum memberi penilaian. Salah satu contoh, seperti yang terjadi September 2017, melalui sebuah postingan, warganet ramai-ramai menghujat seorang ayah yang terlihat membiarkan anaknya tidur di aspal.
Usut punya usut, ternyata Sang anak merengek dan demikianlah cara mereka menghadapi sikap tantrum anak sembari menunggui dan mengawasi.
Sebulan sebelumnya, ramai video yang memberitakan seorang guru memukul muridnya di Pontianak. Titik terangnya, ternyata itu hanyalah perkelahian antar siswa yang pemicunya masalah sepele.
Sebenarnya, guru melerai perkelahian tersebut lalu muncullah penafsiran-penafsiran negatif yang seragam.
Ruang-ruang publik adalah kebebasan bersama. Ruang ini berhak dimanfaatkan bersama pula. Dengan catatan, tidak menyulitkan pihak tertentu apalagi jika belum ada keterangan yang sahih.
Menanggapi video Sang cagub, Haeruddin Nurman, selaku Tim Media Prof Andalan, menegaskan bahwa banyak foto-foto yang menunjukkan bahwa pemberitaan miring tersebut tidaklah benar.
“Berita itu tentunya sangat menyudutkan Prof Nurdin. Video dan berita itu tidak menggambarkan secara utuh kondisi yang terjadi disana saat pengambilan nomor urut. Dan Kami punya banyak foto menunjukkan keakraban Prof Nurdin dengan semua kandidat termasuk IYL dan TBL,” ujarnya.
Tonggak kebebasan berdemokrasi di era reformasi tahun 1998 membawa perubahan besar terhadap dunia pers atau media masa khususnya dalam memberitakan sebuah isu. Tetapi setelah 20 tahun berjalan, kebebasan itu dinilai justru keluar dari jalur, terutama tentang etika.
Seperti yang pernah dikatakan oleh M Qasim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar bahwa ilmu politik seperti semua ilmu pengetahuan lainnya.
Politik adalah sesuatu yang baik. Politik mengajarkan, misalnya, bagaimana kekuasaan diperoleh dan dikelola dengan baik dan benar lalu mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi segenap manusia yang bernaung di bawah dan sekitar kekuasaan itu.
Jadi, apa lagi yang menjadi alasan untuk kita saling menghakimi? (Kartini)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *