Pelakor Versus Politisi

Pelakor Versus Politisi
POROSMAJU.COM- Beberapa pekan lalu, dua buah video viral di dunia maya tentang aksi persekusi seorang perebut laki orang atau biasa disebut pelakor. Di satu video, terlihat seorang perempuan tertuduh pelakor dilempari berlembar-lembar uang oleh istri sah dari lelaki tersebut.
Terjadi pertengkaran antara pelakor dan istri Si lelaki. Diskursusnya jelas, takada yang ingin menjadi nomor dua di antara mereka. Semua ingin menjadi utama dan diutamakan.
Hal yang menjadi benang merah dari kisah pelaku adalah menjadi pilihan kedua bukanlah pilihan yang menarik. Sekali lagi, ini menjadi sebuah bagian kehidupan sosial yang mengajarkan bahwa menjadi orang nomor dua itu bukan pilihan yang menarik, meski mungkin seksi.
Akan tetapi, jika di tarik ke dunia politik, diskursus tentang posisi nomor dua menjadi sebuah diskursus yang menarik bahkan dianggap vital. Ini terlihat pada fenomena petinggi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhaimin Iskandar, atau biasa disapa Cak Imin, dengan tegas mempromosikan diri sebaga calon wakil presiden (cawapres) di beberapa daerah.
Wacana yang dikemukakan oleh Cak Imin jelas menunjukkan bahwa posisi yang realistis saat ini adalah posisi cawapres. Hal ini tak terlepas dari kekuatan dua figur utama capres, Jokowi dan Prabowo Subianto.
Beberapa hasil riset lembaga survei terombang ambing menonjolkan tentang posisi orang nomor dua. Dari beberapa survei yang ada seperti, Indo Barometer, CSIR, LSI, dan beberapa lembaga yang sudah berpengalaman di Indonesia, hasilnya kurang lebih sama. Nol satu milik Jokowi dan Prabowo, sedangkan nol dua akan diperebutkan oleh banyak figur.
Pilpres 2019 mengajarkan satu hal, bahwa posisi dua bukan lagi bagian pelengkap, tetapi penentu kemenangan. Hal ini tak terlepas dari hasil survei Jokowi dan Prabowo yang kisaran perbedaan elektabilitasnya hanya sekitar 5-7% saja.
Hal ini berarti bahwa, pemilihan orang kedua yang tepat, akan mengangkat nilai elektabilitas suatu calon. Maka muncullah beberapa nama yang dianggap layak menjadi nomor dua.
Ada nama Anies Baswedan, AHY, Ahok, Gatot Nurmantiyo, Cak Imin, Anis Matta, dan beberapa nama lain. Demikianlah, lebih banyak nama yang memungkinkan di posisi nomor dua ketimbang posisi nol satu.
Beberapa fakta tersebut menunjukkan, politik mampu mengubah diskursus nomor dua menjadi bagian penting dalam konstalasi perpolitikan.
Jika ditarik pada realitas pelakor yang tak menerima posisi nomor dua, maka pertayaan yang muncul adalah, tak mungkinkah mereka belajar satu sama lain?
Jika pelakor belajar dan meniru konstalasi politik pilpres 2019, maka harusnya mereka dengan cerdas memanfaatkan posisi mereka untuk menjadi sebuah keluarga dengan berbagi posisi.
Sementara itu, jika politisi belajar dari realitas pelakor, maka harusnya ada yang berani muncul untuk menerobos kekuatan Jokowi dan Prabowo di posisi nol satu. Mereka harus benari menolak posisi nomor dua karena dianggap kehilangan arti oleh posisi kosong satu.
Sayangnya, realitas pelakor begitu skeptis, dan realitas politik begitu dinamis. Keduanya sibuk dengan dunia masing-masing sehingga lupa saling memberi pelajaran.
Kemungkinan terbesarnya adalah, fenomena pelakor kukuh memperebutkan posisi nomor satu, sedangkan di Pilpres 2019, orang lebih sibuk memperebutkan posisi sebagai orang kedua.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *