Saut dan Aslan Sentil Losari di Acara UKM Seni UNM


POROSMAJU, Makassar-Saut Situmorang, sastrawan asal Jogjakarta, menyentil perubahan Pantai Losari yang dinilainya tidak lagi menjadi pantai, tetapi panggung beton. Memulai pembicaraannya, ia membandingkan Losari kini dengan saat pertama kali ia datang di tahun 1987.
“Saya dibawa ke Pantai Losari. Itu dulu malam banyak pedagang jualan di sepanjang pantai dan nampak laut, kira-kira tiga bulan lalu saya diundang oleh universitas kalian (UNM), malam-malam dibawa ke sana, saya kaget, lautan gak nampak. Ditutupi lautnya, ditutupi apa-apa saja dan panasnya bukan main,” ujarnya di Benteng Fort Roterdam, 28 November 2017.
Saut menilai, laut sudah sempurna, tetapi orang-orang berusaha membuatnya menjadi lebih sempurna, tetapi justru meruskanya. Banyak orang menanam pohon-pohon besi dan seolah mereka benci terhadap yang alami.
Lebih lanjut, Saut berpendapat adanya pembangunan panggung beton di pantai membuat fungsi laut tidak berfungsi sebagaimana semestinya.
“Fungsi pantai itu kan supaya membawa dari laut angin ke kota ini, biar dingin di sini, biar jangan marah-marah orang Makassar kalau panas, itu fungsinya. Dan angin yang dibawa, kan sehat itu,” ujarnya sambil sedikit tertawa.
Menurutnya, kebijakan menimbun laut dan membuat taman di pantai menjadikan fungsi-fungsi laut bukan solusi terhadap permasalahan kota.
Sementara itu, Aslan Abidin, yang juga seorang sastrawan nasional, mulai berbicara membincangkan kebudayaan dengan mengangkat isu ‘buasnya’ manusia terhadap alam. Kebuasan manusia membuat alam rusak.
“Bumi ini semakin rusak, air laut terus naik, suhu juga terus naik. Persediaan air minum untuk perorang berkurang hingga 20% setiap orang. Beberapa tempat di laut mulai terancam punah,” kata Aslan.
Senada dengan Saut, Aslan menilai bahwa kebijakan menimbun pantai memiliki risiko yang berbahaya terhadap pulau-pulau yang ada di dekat pantai tersebut. Bumi ini penuh dengan keseimbangan, tetapi manusia merusaknya, salah satunya dengan memindahkan gunung ke laut.
“25 tahun yang lalu, tempat dimana menjadi kota sekarang ini (Pantai Losari) adalah tempat air pasang. Jadi kalau siang, tempat itu kering, tapi kalau malam air naik, tetapi itu kemudian ditimbun, membuat kota baru. Tapi kalau malam airnya ke mana? Akhirnya kita punya beberapa pulau yang dekat-dekat hampir tenggelam,” ujar Aslan Abadin.
Aslan menyampaikan, manusia harus membuat karya agar bisa bermanfaat. Tetapi apabila manusia tidak mampu untuk membuat karya seperti menulis, patung, lukisan, dan seni-seni yang lain, maka setidaknya manusia jangan merusak alam yang ada.
Acara ini merupakan rangkaian acara Unit Kegiatan Mahasiswa Seni UNM “Parade 2017” dengan menghadirkan Saut Situmorang dan Aslan Abidin dengan tema pembicaraan “Melalui Karya Mari Kukuhkan Kebudayaan”.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *