Example 728x250
Berita

Prof. Azyumardi: Pemerintah dan Ormas Islam Harus Perkuat Pendidikan Agama Tangkal Ajaran Wahabi-Salafi

7
×

Prof. Azyumardi: Pemerintah dan Ormas Islam Harus Perkuat Pendidikan Agama Tangkal Ajaran Wahabi-Salafi

Share this article
Example 468x60

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Azyumardi Azra

POROSMAJU.COM, JAKARTA — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, mengungkapkan, pemerintah dan ormas Islam memiliki peranan penting dalam memperkuat pendidikan agama di Indonesia.Hal ini ia sampaikan pada ‘Violent Extremisme & Religious Education in Southeast Asia‘ di Hotel Oriental Mandarin, Jakarta, Selasa, 12 Desember 2017.
Azyumardi Azra mengatakan, selain organisasi seperti MUI dan NU, pemerintah juga harus terus berupaya memperkuat pendidikan agama di Indonesia. Hal ini perlu karena lembaga pendidikan agama memiliki peran dalam menjaga identitas Islam Indonesia yang moderat dan toleran.
Mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah ini juga menyoroti minimnya pengetahuan para pengajar pendidikan agama. Saat ini, menurutnya, sudah banyak para pengajar terpengaruh paham radikalsime Islam.
“Inilah yang menyebarkan paham satu perspektif saja, soal politik, soal ekonomi tidak paham, sehingga dengan mudah menerima paham mengenai negara Islam,” kata Azyumardi .
Alhasil lanjut Azyumardi, sekarang ini muncul pesantren Wahabi-Salafi yang menyebar di wilayah Indonesia. Lembaga pendidikan ini yang harus diawasi secara ketat oleh pemerintah terutama soal kurikulum terselubungnya.
“Ada sekitar 200 pesantren Wahabi Salafi di Indonesia. Mereka mengklaim ada kurikulum nasional, tapi yang ada, mereka memiliki hidden kurikulum, dimana menolak mengibarkan bendara merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Inilah yang menyebabkan munculnya gagasan radikal,” jelasnya.
Oleh karena itu, Azyumardi meminta, pemerintah dengan tegas melakukan pengawasan secara cermat terhadap pesantren Wahabi Salafi. Sekaligus memberikan pengetahuan secara menyeluruh kepada para pengajar bahwa Islam tidak bertentangan dengan kebangsaan.
“Mereka inilah (para pengajar) diberikan perspektif kebangsaan, Islam yang menyeluruh bahwa Islam tidak bertentang dengan keindonesiaan bahwa kalau Indonesia maju yang akan memberikan manfaatnya seluruhnya kalau kacau yang menanggung adalah umat Islam,” tutup Guru Besar itu.
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *