Example 728x250
Berita

81 Tahun Indonesia Merdeka, Mengapa Warga Ulumanda Masih Harus Ditandu?

19
×

81 Tahun Indonesia Merdeka, Mengapa Warga Ulumanda Masih Harus Ditandu?

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Majene – Di tengah gegap gempita peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:

Sudahkah makna kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pelosok Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene?

Example 300x600

Pertanyaan ini bukan sekedar kritik, melainkan sebuah kegelisahan dari seorang putra daerah yang lahir dan tumbuh di tanah Ulumanda.

Saya, Dr. Aliem Bahri, M.Pd., Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar, lahir di kampung ini. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang Ulumanda, saya tidak sedang berbicara tentang daerah yang jauh dan asing. Saya berbicara tentang kampung halaman yang memiliki potensi luar biasa, namun hingga hari ini masih menghadapi permasalahan mendasar yang seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Ulumanda memiliki alam yang indah dan potensi ekonomi yang besar. Pegunungan, pertanian, perkebunan, potensi wisata alam, serta kekuatan masyarakatnya merupakan modal besar yang jika dikelola secara serius dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Kabupaten Majene.

Apalagi jika potensi tersebut dikembangkan secara terencana, bukan tidak mungkin Ulumanda dapat memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Majene, sekaligus membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun ironisnya, potensi besar itu belum berbanding lurus dengan perhatian dan pembangunan yang diterima masyarakat.

Pribadi yang paling mendasar adalah akses jalan.

Ketika jalan tidak terurus dengan baik, dampaknya bukan hanya pada sulitnya masyarakat bepergian. Jalan yang buruk menjadi penghambat hampir seluruh sektor kehidupan.

Anak-anak mengalami kesulitan mengakses pendidikan. Masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Hasil pertanian dan perkebunan sulit dipasarkan. Biaya transportasi menjadi mahal. Aktivitas ekonomi masyarakat menjadi terbatas. Bahkan potensi wisata yang seharusnya dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat pun sulit berkembang.

Yang lebih memprihatinkan, di tengah perayaan 81 tahun Indonesia merdeka, masih ada warga Ulumanda yang ketika membutuhkan layanan kesehatan harus ditandu melewati akses yang sulit.

Ini bukan sekadar persoalan jalan.

Ini adalah persoalan kemanusiaan. Ini adalah persoalan keadilan. Dan ini adalah pertanyaan tentang bagaimana negara hadir bagi warganya yang berada jauh dari pusat pemerintahan.

Jalan adalah urat nadi pembangunan. Ketika urat nadinya tersumbat, sektor-sektor lain pun ikut tidak optimal.

Oleh karena itu, pembangunan Ulumanda tidak boleh hanya dilihat dari berapa banyak proyek yang masuk. Pembangunan harus dilihat dari seberapa besar ia mampu membuka akses, menggerakkan ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki pelayanan kesehatan, dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Saya memahami bahwa pemerintah memiliki batasan anggaran dan harus membagi perhatian pada banyak wilayah. Tetapi keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan daerah yang memiliki potensi besar terus tertinggal.

Justru daerah-daerah seperti Ulumanda memerlukan kebijakan afirmatif dan keberpihakan pembangunan.

Saya berharap Pemerintah Kabupaten Majene, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, maupun pemerintah pusat dapat melihat Ulumanda bukan sebagai wilayah pinggiran, tetapi sebagai aset masa depan Kabupaten Majene dan Sulawesi Barat.

Potensi alamnya ada. Masyarakatnya memiliki semangat kerja dan gotong royong. Yang dibutuhkan adalah akses, infrastruktur, pendampingan, investasi dan kebijakan pembangunan yang lebih serius.

Momentum kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk bercahaya kembali:

Apa yang sudah kami berikan kepada masyarakat di pelosok negeri?

Kemerdekaan bukan hanya tentang upacara, pengibaran bendera dan berbagai perlombaan. Kemerdekaan juga berarti ketika seorang anak di pelosok dapat bersekolah dengan mudah, ketika sakit dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa harus ditandu karena sulitnya akses, ketika petani dapat membawa hasil kebunnya ke pasar dengan biaya yang wajar, ketika jalan dapat dilalui dengan aman, dan ketika masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sejahtera.

Ulumanda tidak meminta dikasihani. Ulumanda hanya membutuhkan akses, kesempatan, dan perhatian yang adil.

Saya percaya, jika pemerintah serius membangun infrastruktur dasar, terutama jalan, kemudian diikuti dengan penguatan pendidikan, kesehatan, pertanian, ekonomi masyarakat dan pengembangan wisata, maka Ulumanda tidak hanya akan menjadi daerah yang lebih sejahtera, tetapi juga dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru bagi Kabupaten Majene.

Dari tanah Ulumanda saya belajar bahwa masyarakatnya memiliki semangat gotong royong dan daya juang yang luar biasa. Bahkan dalam berbagai keterbatasan, masyarakat masih mampu bergotong royong membangun dan memperbaiki akses mereka sendiri.

Namun, gotong royong masyarakat tidak dapat dijadikan alasan bagi negara untuk mengurangi tanggung jawabnya.

Masyarakat boleh bergotong royong, tapi pemerintah tetap harus hadir.

Di usia kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tahun ini, mari kita pastikan bahwa kemerdekaan tidak berhenti di pusat-pusat kota.

Kemerdekaan harus sampai ke Ulumanda.

Dan dari pelosok Ulumanda, kami ingin mengatakan:

Kami bukan daerah yang tidak memiliki potensi. Kami hanya belum mendapatkan kesempatan yang cukup untuk berkembang

Dr. Aliem Bahri, M.Pd.
Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar
Putra Ulumanda, Kabupaten Majene

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *