Example 728x250
Berita

Kepala LLDIKTI IX: Mahasiswa S2 dan S3 Unismuh Harus Melahirkan Pengetahuan Baru dan Solusi bagi Masyarakat

5
×

Kepala LLDIKTI IX: Mahasiswa S2 dan S3 Unismuh Harus Melahirkan Pengetahuan Baru dan Solusi bagi Masyarakat

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar  — Pendidikan pascasarjana tidak seharusnya hanya menjadi jalan untuk menambah gelar akademik. Mahasiswa magister dan doktor dituntut bergerak lebih jauh: menjadi pencipta pengetahuan, menghadirkan kebaruan, dan menghasilkan solusi atas persoalan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sultanbatara Prof dr Budu, PhD, SpM(K), M.Med.Ed. saat memberikan kuliah umum pada Ta’aruf dan Orientasi Akademik Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Tahun Akademik 2026/2027, Senin, 21 September 2026.

Example 300x600

Kuliah umum yang berlangsung di Ruang I’Gift, lantai 2 Menara Iqra Unismuh itu mengangkat tema “Transformasi Keilmuan dan Tantangan Akademik di Era Global.”

Di hadapan mahasiswa baru program magister dan doktor, Prof Budu menjelaskan perbedaan orientasi belajar antara pendidikan menengah, sarjana, dan pascasarjana.

Menurutnya, pada pendidikan menengah seseorang lebih banyak menjadi penerima pengetahuan atau knowledge consumer. Ketika memasuki jenjang sarjana, mahasiswa berkembang menjadi pengguna pengetahuan atau knowledge user. Namun, di tingkat pascasarjana, tuntutannya meningkat menjadi knowledge creator atau pencipta pengetahuan.

“Kalau S2, kita menguji, mengkritisi, dan memperdalam apa yang sudah diketahui. Tetapi S3 harus menghasilkan pengetahuan dan kontribusi baru. Pascasarjana harus menjadi knowledge creator,” tegas Prof Budu.

Karena itu, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak memasuki pendidikan S2 maupun S3 dengan orientasi utama sekadar memperoleh gelar.

Gelar magister dan doktor, menurutnya, membawa tanggung jawab akademik. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin besar pula tuntutannya untuk mengembangkan ilmu dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Bukan sekadar mencari gelar. Ketika kita menjadi master atau doktor, ilmunya juga harus ikut. Itu pertanggungjawaban akademik yang harus kita emban setelah mendapatkan gelar,” ujarnya.

Kebaruan Jadi Pembeda Pascasarjana

Prof Budu juga menekankan pentingnya kebaruan atau novelty dalam penelitian pascasarjana. Penelitian pada jenjang S2 dan S3 tidak seharusnya hanya mengulang apa yang telah dilakukan pada tingkat sebelumnya.

Pada jenjang magister, mahasiswa dituntut mampu mengembangkan pengetahuan melalui penelitian sehingga menghasilkan karya inovatif dan teruji. Sementara pada jenjang doktor, tuntutannya meningkat pada kemampuan menghasilkan gagasan orisinal, kebaruan, pendekatan multidisipliner, serta kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Karena itu, penelitian pascasarjana tidak cukup berhenti pada pengumpulan data.

Mahasiswa perlu memulai penelitian dengan pertanyaan mendasar: persoalan apa yang ingin diselesaikan, pengetahuan baru apa yang hendak dihasilkan, dan manfaat apa yang dapat diberikan kepada masyarakat.

“Sesungguhnya masalah apa yang ingin kita selesaikan? Pengetahuan baru apa yang ingin kita hasilkan? Itu harus muncul dari kita,” kata Prof Budu.

AI Membantu, Bukan Menggantikan Pikiran

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga mendapat perhatian Prof Budu.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu menghindari AI. Teknologi tersebut dapat membantu akademisi menelusuri literatur, mengolah data, menerjemahkan teks, membuat visualisasi, hingga mendukung proses penulisan akademik.

Namun, kemudahan teknologi tidak boleh membuat mahasiswa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Kemampuan berpikir kritis, etika, integritas, penilaian manusia, kreativitas, hingga empati tetap harus menjadi bagian utama dalam proses akademik.

“Tidak semua informasi adalah pengetahuan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, informasi yang dihasilkan AI tetap harus diverifikasi dengan literatur akademik yang dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti tetap bertanggung jawab menentukan masalah, merancang penelitian, memperoleh data, menguji temuan, hingga memastikan manfaat penelitian.

Prof Budu juga mengingatkan bahwa tantangan besar pada era AI terletak pada integritas akademik. Mahasiswa harus menghindari plagiarisme, penggunaan data yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, maupun referensi fiktif.

Sebelumnya, Pelaksana Harian Rektor Unismuh yang juga Wakil Rektor I Prof Andi Sukri Syamsuri (Prof Andis) saat membuka kegiatan menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi persoalan global.

Ia mencontohkan pandemi Covid-19 yang tidak cukup diselesaikan melalui ilmu kedokteran, tetapi juga membutuhkan statistik, sains, sosiologi, dan komunikasi. Menurutnya, era sekarang menuntut mahasiswa S2 dan S3 tidak hanya berkompetisi, tetapi mampu bersinergi dan berkolaborasi, sekaligus menjaga produktivitas akademik melalui penelitian dan publikasi berkualitas.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana Unismuh Prof Erwin Akib, PhD menyampaikan bahwa jumlah mahasiswa baru program magister dan doktor sementara mencapai 435 orang. Pascasarjana Unismuh saat ini mengelola 17 program studi, terdiri atas 14 program magister dan tiga program doktor.

Menurutnya, meningkatnya jumlah mahasiswa harus dibarengi dengan penjagaan mutu, layanan akademik yang baik, penyelesaian studi tepat waktu, serta tata kelola yang transparan. Ia menegaskan bahwa percepatan studi bukan berarti mempermudah standar, tetapi memastikan mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan secara efisien dengan kualitas akademik yang tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Sejalan dengan SDGs Pendidikan Berkualitas

Ta’aruf dan Orientasi Akademik Mahasiswa Baru Pascasarjana Unismuh tersebut juga sejalan dengan komitmen universitas terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas.

Penguatan budaya riset, kemampuan berpikir kritis, integritas akademik, literasi kecerdasan buatan, serta dorongan menghasilkan pengetahuan baru menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan tinggi yang berkualitas.

Dorongan agar tesis dan disertasi menghasilkan inovasi serta solusi bagi persoalan masyarakat juga berkaitan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, terutama dalam penguatan riset dan inovasi.

Melalui orientasi akademik itu, mahasiswa baru diharapkan memahami bahwa pendidikan pascasarjana bukan sekadar kelanjutan jenjang pendidikan, tetapi ruang untuk menciptakan pengetahuan, menjaga integritas, berkolaborasi lintas disiplin, dan memastikan ilmu yang dihasilkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *