Example 728x250
Berita

Teguh pada KHGT, Unismuh Tetap Layani Pemantauan Hilal Pemerintah di Observatorium Menara Iqra

22
×

Teguh pada KHGT, Unismuh Tetap Layani Pemantauan Hilal Pemerintah di Observatorium Menara Iqra

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar — ​​Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menunjukkan wajah toleransi yang konkret. Meski Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026, Unismuh tetap memfasilitasi pelaksanaan rukyatul hilal yang akan digelar pemerintah di Observatorium Unismuh Makassar.

Sikap ini ditegaskan dalam rapat koordinasi yang digelar pada Selasa, 17 Maret 2026, di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh Makassar. Rapat tersebut dihadiri Wakil Rektor II Unismuh Dr Ihyani Malik, Wakil Rektor IV Unismuh Dr Mawardi Pewangi, serta perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr Nurdin.

Example 300x600

Bagi Unismuh, keterlibatan dalam rukyatul hilal bukan berarti mengubah sikap organisasi. Muhammadiyah tetap berpegang pada keputusan resmi yang menetapkan Lebaran jatuh pada hari Jumat berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Adapun fasilitasi terhadap rukyat pemerintah dipahami sebagai bentuk pelayanan kelembagaan, keterbukaan akademik, dan penghormatan terhadap perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah.

Pemantauan hilal 1 Syawal 1447 H berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, di observatorium lantai 18 Menara Iqra Unismuh Makassar.

Rapat Koordinasi Persiapan Teknis

Rapat koordinasi itu membahas secara rinci berbagai aspek teknis pelaksanaan rukyatul hilal. Mulai dari kesiapan alat observasi, kapasitas ruangan, penataan tamu undangan, teleskop, area pemantauan alternatif, hingga distribusi konsumsi berbuka posisi.

Evaluasi dilakukan karena pengalaman pemantauan awal Ramadhan lalu menunjukkan tingginya antusiasme peserta. Pada pemantauan menjelang 1 Syawal kali ini, jumlah tamu diperkirakan kembali besar karena melibatkan unsur pemerintah, sejarawan, Organisasi Islam, BMKG, Pengadilan Agama, MUI, serta media lokal dan nasional.

Dr Ihyani Malik menegaskan bahwa rapat koordinasi ini sangat penting agar seluruh aspek teknis dapat diantisipasi sejak awal.

“Pengalaman sebelumnya menunjukkan peserta yang hadir sangat banyak. Oleh karena itu, kita perlu memastikan pengaturan ruang, distribusi tamu, dan kenyamanan seluruh peserta benar-benar dipersiapkan dengan lebih matang,” ujarnya.

Menurutnya, suasana pengamatan hilal menjelang Idulfitri juga memiliki kekhasan tersendiri karena berlangsung saat peserta masih berpuasa. Oleh karena itu, aspek pelayanan tidak bisa dipisahkan dari kesiapan teknis.

“Jangan sampai kegiatan yang penting ini justru menyulitkan tamu. Kita ingin semua yang hadir merasa nyaman, tertib, dan bisa mengikuti proses rukyat dengan baik,” kata Ihyani.

Kemenag Sulsel: Perlu Antisipasi Teknis Sejak Awal

Dari pihak Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr Nurdin menegaskan bahwa koordinasi teknis menjadi sangat penting karena pemantauan hilal selalu melibatkan banyak unsur dan mendapat perhatian luas dari masyarakat.

Menurutnya, pelaksanaan rukyatul hilal bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagian dari proses resmi yang perlu didukung kesiapan tempat, kelancaran alur peserta, dan keterbukaan informasi.

“Peserta yang hadir biasanya cukup banyak. Karena itu, perlu diantisipasi sejak awal agar proses pemantauan berjalan tertib, lancar, dan semua pihak bisa mengikuti dengan baik,” ujarnya.

Untuk mengatasi keterbatasan ruang di observatorium, panitia juga membahas penggunaan area alternatif di lantai 17 Gedung Iqra Unismuh, dengan dukungan layar pemantau agar peserta tetap bisa menyaksikan proses rukyat. Selain itu, penataan ulang posisi teleskop, pengaturan area VIP, dan mekanisme pelabelan kursi turut menjadi perhatian dalam rapat.

Unismuh Teguh pada KHGT: Lebaran Jumat, 20 Maret 2026

Di tengah persiapan teknis tersebut, Unismuh menegaskan bahwa posisi Muhammadiyah sudah jelas: 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Menurut Wakil Rektor IV Unismuh, Dr Mawardi Pewangi, penetapan ini didasarkan pada hisab menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sistem kalender Islam yang memandang dunia sebagai satu kesatuan matlak. Dalam sistem ini, awal bulan hijriah dimulai secara serentak di seluruh dunia apabila parameter astronomis telah terpenuhi di salah satu kawasan bumi.

Mawardi melanjutkan, kriteria KHGT menyatakan bahwa bulan baru dimulai apabila sebelum pukul 24.00 UTC telah terpenuhi elongasi 8 derajat dan tinggi hilal 5 derajat pada saat matahari terbenam. Untuk Syawal 1447 H, seluruh parameter itu dinyatakan terpenuhi.

Data astronomis, sambung Mawardi, menunjukkan bahwa ijtimak terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC. Lokasi pertama yang memenuhi parameter astronomis tercatat pada koordinat 64° 59′ 57,47″ LU dan 42° 3′ 3,47″ BT, dengan tinggi bulan 6,49 derajat dan elongasi 8 derajat. Di Makkah, parameter global itu juga terpenuhi, dengan tinggi bulan geosentrik +06° 09′ 09″ dan elongasi geosentrik 08° 05′ 24″ saat matahari terbenam.

Karena itu, bagi Muhammadiyah, penetapan Lebaran pada Jumat merupakan hasil perhitungan astronomis yang memenuhi kriteria KHGT secara global.

Sosialisasi KHGT: Konsisten Sejak Awal Ramadan

Sikap Unismuh dalam menyikapi perbedaan metode sebenarnya bukan hal baru. Pada penetapan awal Ramadan 1447 H, kampus ini juga telah menegaskan bahwa puasa dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026, sesuai ketetapan Muhammadiyah berbasis KHGT, meskipun pada saat yang sama Unismuh tetap memfasilitasi rukyatul hilal pemerintah.

Dalam kerangka KHGT, penentuan awal bulan tidak dibatasi oleh horizon lokal semata. Artinya, ketika di suatu tempat hilal belum tampak atau bahkan masih di bawah ufuk, awal bulan tetap dapat dimulai jika parameter astronomis telah terpenuhi di wilayah lain di muka bumi sesuai kriteria yang ditetapkan.

Oleh karena itu, bagi Unismuh, sebagaimana pandangan organisasi induknya Muhammadiyah, keputusan Lebaran Jumat merupakan konsekuensi ilmiah dari sistem kalender yang dianut, bukan keputusan yang diambil secara sembarangan.

Toleransi yang Bekerja, Bukan Slogan Sekadar

Yang paling menonjol dari seluruh persiapan ini adalah pesan bahwa perbedaan metode tidak menghalangi kerja sama. Muhammadiyah tetap pada keputusan hisab globalnya, sementara pemerintah menempuh perjalanan rukyatul hilal dan sidang isbat. Namun perbedaan itu tidak berhadapan dengan jarak, melainkan dengan saling menghormati.

Di situlah letak makna penting fasilitasi yang dilakukan Unismuh. Kampus ini tidak mendukung sikap organisasinya. Sebaliknya, Unismuh justru menunjukkan bahwa konsistensi prinsip bisa berjalan beriringan dengan keterbukaan dan pelayanan kepada pihak lain.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *