Porosmaju.com, Makassar — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar bersiap menjadi tuan rumah Pelatihan Instruktur Nasional se-Indonesia Timur. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada 2–6 Juli 2026, dengan tetap menunggu persetujuan resmi dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Rencana kegiatan tersebut dibahas dalam rapat panitia yang dipimpin Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr. KH. Mawardi Pewangi, bersama sejumlah unsur panitia di lingkungan kampus, pada Selasa, 9 Juni 2026, di Ruang Rapat Wakil Rektor, Gedung Iqra Lantai 16, Kampus Unismuh Makassar.
Pelatihan ini diproyeksikan menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem perkaderan Muhammadiyah, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
KH. Mawardi Pewangi menegaskan, kebutuhan terhadap instruktur perkaderan menjadi semakin penting seiring meningkatnya aktivitas kaderisasi di lingkungan Persyarikatan, organisasi otonom, dan Amal Usaha Muhammadiyah. Menurutnya, Unismuh Makassar perlu menyiapkan sumber daya instruktur yang memiliki kapasitas ideologis, metodologis, dan organisatoris.
“Selama ini kita masih sangat bergantung pada instruktur dari Pimpinan Pusat. Karena itu, Unismuh dan PWM perlu menyiapkan kader instruktur sendiri agar kegiatan perkaderan di daerah dapat berjalan lebih mandiri dan berkelanjutan,” ujar Mawardi, yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel.
Ia menambahkan, kehadiran pelatihan instruktur nasional di Unismuh Makassar diharapkan menjadi momentum penting bagi penguatan kaderisasi Muhammadiyah di Indonesia Timur. Selain memperkuat kapasitas internal kampus, kegiatan ini juga diharapkan memberi kontribusi bagi persyarikatan di tingkat wilayah dan daerah.
Menurut Mawardi, rencana Pelatihan Instruktur Nasional tersebut juga sejalan dengan agenda besar Unismuh dalam memperluas penguatan ideologi Muhammadiyah di lingkungan kampus. Selama ini, Unismuh Makassar menargetkan seluruh karyawan mengikuti Darul Arqam sebagai bagian dari pembinaan berkelanjutan. Hingga saat ini, program tersebut telah berlangsung dalam empat angkatan.
Darul Arqam menjadi salah satu ikhtiar Unismuh untuk memperkuat pemahaman keislaman, kemuhammadiyahan, kepemimpinan, serta komitmen berorganisasi bagi pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. Karena itu, ketersediaan instruktur yang memadai dinilai penting agar agenda perkaderan dapat berjalan lebih sistematis, merata, dan berkelanjutan.
Ketua Panitia, Ir. Syafaat S. Kuba, ST MT, menjelaskan bahwa pelatihan instruktur berbeda dengan kegiatan perkaderan dasar seperti Darul Arqam. Menurutnya, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilatih untuk memahami desain pelatihan, mengelola forum, memandu diskusi, membangun komunikasi, serta menguasai metode pembinaan kader.
“Karena ini pelatihan instruktur, maka pendekatannya lebih banyak praktik. Peserta akan dilatih bagaimana menjadi instruktur yang mampu memandu proses perkaderan secara efektif,” jelasnya.
Rencananya, kegiatan ini akan dipusatkan di lingkungan Kampus Unismuh Makassar. Panitia juga mulai mematangkan kebutuhan teknis, mulai dari lokasi kegiatan, akomodasi instruktur, pengaturan ruang, konsumsi, hingga sistem absensi peserta. Dalam rapat tersebut, panitia juga membahas kemungkinan penggunaan sistem absensi berbasis barcode atau RFID agar pelaksanaan kegiatan lebih tertib.
Sekretaris Panitia, Dr. Muhammad Alka, menambahkan, pelatihan ini diperkirakan akan melibatkan peserta dari Unismuh Makassar dan perwakilan wilayah Indonesia Timur. Peserta yang disiapkan dari internal Unismuh diperkirakan sekitar 30 orang. Namun, jumlah dan komposisi peserta masih akan menyesuaikan arahan dan persetujuan MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Selain peserta, panitia juga menyiapkan skema kehadiran instruktur dari tingkat pusat, wilayah, dan kampus. Kehadiran instruktur dari MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah diharapkan dapat memberikan penguatan wawasan, pengalaman, dan standar metodologis dalam pelaksanaan pelatihan.
Melalui rencana kegiatan ini, Unismuh Makassar menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem perkaderan Muhammadiyah. Kampus ini tidak hanya ingin menjadi tuan rumah kegiatan nasional, tetapi juga menjadi salah satu pusat penguatan instruktur perkaderan Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur.
Kegiatan tersebut diharapkan melahirkan instruktur yang memahami nilai-nilai Islam Berkemajuan, memiliki kecakapan membina kader, serta mampu menjadi penggerak perkaderan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah dan Amal Usaha Muhammadiyah.
















