Example 728x250
Berita

Mahasiswa Teknik Pengairan Unismuh Unismuh Pelajari Teknologi Analisis Kualitas Air di Jepang

12
×

Mahasiswa Teknik Pengairan Unismuh Unismuh Pelajari Teknologi Analisis Kualitas Air di Jepang

Share this article
Kanazawa Institute of Technology (KIT), Jepang, Selasa, 13 Oktober 2026
Example 468x60

 

Porosmaju.com, Kanazawa, Jepang— Mahasiswa Program Studi Teknik Pengairan, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Baso Ichwan Chasir, mempelajari teknologi analisis kimia dan pengukuran kualitas air melalui Sakura Science Program 2026 di Kanazawa Institute of Technology (KIT), Jepang, Selasa, 13 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan memperluas kompetensi mahasiswa dalam penerapan teknologi laboratorium, khususnya untuk mendukung pemantauan kualitas air dan pengelolaan sumber daya air.

Example 300x600

Dalam kegiatan yang berlangsung di laboratorium KIT tersebut, Baso mengikuti praktik analisis kimia, eksperimen spektrofotometri, serta pengenalan sistem flow injection analysis dan teknologi pengukuran berbasis sensor. Pembelajaran ini memberikan pemahaman tentang pemanfaatan instrumen analisis untuk mengukur parameter lingkungan dan mendukung penelitian di bidang Teknik Pengairan.

Kolaborasi Mahasiswa Tiga Negara

Sakura Science Program 2026 merupakan program internasional yang didukung oleh Japan Science and Technology Agency (JST). Program ini melibatkan 23 mahasiswa dari tiga institusi, yakni 16 mahasiswa KIT dari Jepang, empat mahasiswa Singapore Polytechnic dari Singapura, dan tiga mahasiswa Unismuh Makassar dari Indonesia.

Program tersebut mengusung tema “Build, Measure, and Bring It Home: Learning Analytical Chemistry through Japanese Science and Engineering”. Melalui tema ini, peserta mempelajari hubungan antara kimia analitik dan rekayasa teknologi, sekaligus mengembangkan instrumen analisis portabel dengan memanfaatkan teknologi dioda pemancar cahaya (LED), sensor cahaya, dan mikrokontroler.

Pelaksanaan program berlangsung secara hibrida selama hampir satu bulan. Kegiatan diawali dengan pembelajaran daring pada 3 Oktober 2026, dilanjutkan dengan pembelajaran langsung di KIT pada 12–18 Oktober 2026, kemudian diakhiri dengan presentasi dan evaluasi secara daring pada 31 Oktober 2026.

Selama program berlangsung, peserta dibagi ke dalam kelompok yang melibatkan mahasiswa dari ketiga institusi. Pola pembelajaran ini mendorong peserta untuk bekerja sama dalam menyelesaikan proyek, bertukar pengetahuan lintas disiplin, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dalam lingkungan akademik internasional.

Teknologi Analisis untuk Pemantauan Kualitas Air

Pada sesi Experience Analytical Chemistry, Selasa, 13 Oktober 2026, Baso diperkenalkan dengan fasilitas laboratorium kimia dan mengikuti eksperimen spektrofotometri sederhana. Peserta juga mempelajari prinsip kerja sistem flow injection analysis serta dasar pengukuran menggunakan sensor.

Teknologi tersebut berkaitan dengan kebutuhan bidang Teknik Pengairan, terutama dalam pemantauan kualitas air yang membutuhkan pengambilan sampel, pengukuran parameter lingkungan, dan analisis hasil secara terukur. Penguasaan prinsip kerja instrumen analisis dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami metode penelitian yang mendukung pengelolaan sumber daya air.

Dalam rangkaian kegiatan berikutnya, peserta dijadwalkan mengambil sampel air di tiga lokasi di Kota Kanazawa pada 15 Oktober 2026. Sampel tersebut akan digunakan dalam pengujian menggunakan instrumen analisis yang dikembangkan selama program.

Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan keterkaitan antara pengamatan kondisi perairan di lapangan dan pengujian sampel di laboratorium. Bagi mahasiswa Teknik Pengairan, pengalaman tersebut dapat memperluas pemahaman mengenai penggunaan teknologi pengukuran untuk mendukung penelitian lingkungan dan pengelolaan air secara berkelanjutan.

Integrasi Sains dan Teknologi

Penanggung jawab Sakura Science Program 2026 di KIT, Prof. Mune-aki Sakamoto, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menghubungkan ilmu kimia analitik dengan teknologi rekayasa melalui praktik laboratorium dan proyek kolaboratif. Pendekatan ini diharapkan membantu mahasiswa memahami penerapan ilmu pengetahuan dalam menghadapi persoalan nyata.

“Melalui program ini, mahasiswa belajar mengintegrasikan sains dan teknologi untuk menjawab persoalan nyata. Kami berharap pengalaman praktik dan kolaborasi lintas negara dapat memperluas pengetahuan serta keterampilan mereka,” ujar Sakamoto.

Menurut Sakamoto, pembelajaran berbasis praktik memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal proses pengembangan instrumen analisis sekaligus bekerja bersama peserta dari latar belakang akademik dan budaya yang berbeda. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keterampilan teknis dan kolaborasi internasional.

Dekan Fakultas Teknik Unismuh Makassar, Ir. Muh. Syafaat S. Kuba, ST., MT., mengapresiasi keterlibatan Baso dalam program tersebut. Ia menilai pengalaman mempelajari teknologi analisis dan pengukuran kualitas air di Jepang relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa Teknik Pengairan.

“Pengalaman Baso mempelajari teknologi analisis dan pengukuran kualitas air di Jepang sangat relevan dengan bidang Teknik Pengairan. Kemampuan memahami kondisi dan kualitas air merupakan aspek penting dalam pengelolaan sumber daya air. Kami berharap pengalaman ini menjadi bekal untuk mengembangkan penelitian dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Syafaat.

Ia menambahkan, partisipasi mahasiswa dalam program internasional merupakan salah satu upaya Fakultas Teknik untuk memperluas pengalaman belajar dan meningkatkan kompetensi lulusan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa mengembangkan penelitian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan pengelolaan sumber daya air.

Perluas Wawasan Penelitian Mahasiswa

Pendamping mahasiswa dalam Sakura Science Program dari Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Unismuh Makassar, Dr. Wildhan Burhanuddin, mengatakan kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung hubungan antara bidang keilmuan yang dipelajari dan teknologi yang dikembangkan di laboratorium.

“Bagi Baso yang berasal dari Teknik Pengairan, kegiatan ini sangat relevan karena berkaitan dengan analisis kualitas air dan teknologi pengukurannya. Kami berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk mengembangkan gagasan penelitian serta inovasi pengelolaan sumber daya air yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Wildhan.

Ia juga menjelaskan bahwa interaksi dengan mahasiswa Jepang dan Singapura membuka ruang bagi peserta untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, bertukar gagasan, dan berkolaborasi dalam lingkungan akademik lintas budaya. Kompetensi tersebut melengkapi pengalaman teknis yang diperoleh selama pembelajaran laboratorium.

Keikutsertaan Baso dalam Sakura Science Program 2026 menjadi salah satu bentuk penguatan pengalaman akademik internasional mahasiswa Unismuh Makassar. Melalui praktik laboratorium, pengembangan instrumen analisis, dan kolaborasi lintas negara, pengalaman tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa Teknik Pengairan serta mendorong lahirnya penelitian dan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *