Ke Manakah Sawerigading yang Mengarungi Lautan Demi Perempuannya?

Ke Manakah Sawerigading yang Mengarungi Lautan demi Perempuan yang Dicintainya?
Ilustrasi Sawerigading (Lentera Sulawesi)

POROSMAJU.COM- Kurang lebih empat tahun yang lalu, selepas menonton dan membedah film Pesisir Tanah Daeng, produksi Mahasiswa Sastra Indonesia Angkatan 2012 Universitas Negeri Makassar, salah satu peserta diskusi menanggapi sekaligus memprotes, ketika pemeran tokoh lelaki pasrah karena pinangannya ditolak oleh ibu dari perempuan yang ia cintai. Selepas ditolak, ia pun memutuskan mengarungi lautan dan mungkin tidak akan kembali lagi.
Masaq laki-laki Bugis begitu, lembek sekali!” katanya menanggapi,
Hari itu, ketika peserta yang lain hanya tertawa, saya diam tidak mengerti. Lelaki Bugis memangnya harus bagaimana? Memaksakan kehendak diri dan melawan aturan main adat istiadat?
Hari ini saya berusaha menjawab pertanyaan sendiri melalui kisah singkat Sawerigading, sebuah penggalan dari epos La Galigo.
Sawerigading, anak dari kerajaan Luwu yang kelak akan menjadi ayah dari La Galigo, diceritakan pernah mencintai saudara kembarnya sendiri, We Tenriabeng. Kecantikan paras We Tenriabeng membuat Sawerigading ingin menikahinya meskipun Sang ayah melarang.
Diberikanlah solusi agar Sawerigading menemui We Cu Dai di negeri Cina, yang taklain adalah sepupunya sendiri. Dikabarkan ia memiliki kecantikan serupa We Tenriabeng. Rupa pun, perawakan yang bak pinang dibelah dua, menguatkan tekad Sawerigading untuk berlayar ke negeri Cina.
Menurut beberapa sumber, Sawerigading dihadang musuh sebanyak tujuh kali dalam perjalanan. Sebelum berangkat, ia harus menebang pohon untuk dijadikan perahu selama tiga hari lamanya.
Pernah menyamar sebagai penjual obat demi melihat langsung kecantikan We Cu Dai, dan lamarannya pun sempat ditolak. Namun hal tersebut takpernah membuat Sawerigading menyerah walau hanya sebatas dipikirkan.
Kepribadian Sawerigading merupakan contoh sederhana jati diri manusia Bugis yang pantang menyerah. Secara tidak langsung, Sawerigading merupakan representasi keteguhan seorang lelaki Bugis dalam mendapatkan cinta seorang perempuan.
Resopa natinulu, natemmangingi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee
Sebuah ungkapan Lontaraq tersebut memiliki arti, “hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.”
Seseorang dalam hidupnya tidak cukup jika hanya berusaha dalam doa, segalanya harus disertai dengan kerja keras. Karena kerja keras dapat mendatangkan rahmat dari Sang Ilahi.
Ungkapan Lontaraq tersebut adalah salah satu jembatan yang akan mengantarkan kita pada salah satu jati diri manusia bugis; berdaya-saing tinggi (tenricau).
Seperti yang termuat dalam buku Jati Diri Manusia Bugis (2009) tulisan Mashadi Said, kata tenricau berasal dari dua kata yaitu tenri (tidak) dan cau (kalah). Jadi, tenricau artinya tidak kalah.
Dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, manusia Bugis pantang menyerah. Dalam menjalani  persaingan hidup, ia (manusia Bugis) dituntut untuk tampil sebagai pemenang atau pantang mundur.
Masih adakah Sawerigading masa kini?
Sempat ramai di beranda-beranda media sosial kita tentang seorang pengantin lelaki yang menangis lalu pingsan di pelukan Sang mantan kekasih yang datang sebagai tamu. Sambil mendendangkan lagu Mappoji Balo Lipa’, Sang mantan terlihat kaget dan berusaha melepaskan pelukan dari Si lelaki (setidaknya itulah pesan yang sampai ke saya).
Kabarnya, lamaran lelaki – yang sebanyak dua kali – sempat ditolak oleh orang tua Si perempuan. Singkat cerita, ia akhirnya menikahi perempuan lain dan kejadianlah peristiwa dramatis itu.
Terlalu jauh ketika saya kembali ke belakang mengapa Si lelaki memutuskan untuk menyerah. Bentuk kejatuhannya adalah ketika ia menangis, bahkan sampai pingsan sementara Sang mantan hanya melempar respon yang cenderung biasa saja.
Bukankah dia harusnya biasa saja ketika kerja keras dirasa telah cukup? Atau setidaknya kerja keras yang ia tekuni mendapatkan rahmat Ilahi dengan cara yang lain?
Bukannya pasrah, hanya saja, Sawerigading tidak pernah menangis kemudian pingsan ketika ia diperintahkan menikahi We Cu Dai dan bukannya We Tenriabeng.
Sawerigading membuktikan melalui perbuatan bahwa untuk mendapatkan cinta yang ia impikan ia rela mengarungi lautan. Lautan saja ia seberangi, apalagi kalau cuma gerimis (Kartini)!
 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *