Kisah Orang Makassar Pertahankan Siriq di Tanah Rantau

Ilustrasi (Lentera Sulawesi)

POROSMAJU.COM, MAKASSAR- Setelah terjadi Perang Makassar yang dimenangkan oleh kerajaan Bone dan sekutu, terjadi perantauan besar-besaran di Sulawesi Selatan. Dua kelompok yang melakukan perantauan adalah orang Gowa dan orang bugis kerajaan Wajo.
Motif perantauan tidak hanya menghindari kekangan penguasa tetapi lebih kepada menghimpun kekuatan untuk kembali merebut kerajaan Gowa dan Wajo.
Motif seperti ini pernah juga dilakukan oleh Arung Palakka saat Gowa menjadi penguasa di Sulsel. Arung Palakka melakukan pelayaran ke pulau di luar Sulawesi dengan tujuan mencari sekutu untuk membebaskan kerajaan Bone.
Meski nasib antara bangsawan dan rakyat Gowa dan Wajo tidak semujur Arung Palakka, tetapi hal itu pernah membuat Arung Palakka dan kompeni merasa risau, sehingga Arung Palakka memutuskan menyusul para perantau tersebut untuk memaksanya kembali ke Sulawesi Selatan.
Kegagalan bangsawan dan rakyat Gowa menghimpun kekuatan ini karena banyaknya konflik yang dihadapi dengan penguasa setempat tempat mereka berlabuh. Meski demikian, satu hal yang menarik bahwa konflik tersebut terkadang bukan soal kekuasaan politik wilayah, tetapi persoalan perempuan.
Meski tidak banyak literatur yang menjelaskan secara detail konflik tersebut, akan tetapi di dalam buku “Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke 17” karya Leonard Y. Andaya setidaknya mampu merekam fragmen-fragmen tersebut.
Disebutkan bahwa, saat para bangsawan dan masyarakat Makassar sampai di Kesultanan Banten, awalnya mereka diterima dengan baik oleh pemerintah setempat. Hal ini sebagai upaya politik dalam membentuk suatu persekutuan.
Hanya saja, “kebudayaan” patron-klien yang berlaku di kerajaan tersebut hendak dilakukan juga kepada orang Makassar. Patron klien di Banten, contohnya Sultan Banten berhak mengambil perempuan bahkan istri rakyatnya sendiri.
Kebijakan tersebut hendak dilakukan juga kepada orang Makassar, raja di Banten mengambil perempuan Makassar bahkan istri karaeng yang menarik bagi penguasa Banten. Hal ini tentu saja tidak diterima oleh orang Makassar.
Meski mendapatkan tanah dan tempat dari Banten, mereka tidak lantas membiarkan hal tersebut dilakukan sesuka hati oleh penguasa Banten. Sayangnya, beberapa istri karaeng dan bangsawan tatkala ditawan oleh Sultan Banten.
Putra Karaeng Bontomarannu tidak tinggal diam atas ini. Ia berusaha keras mengambil istrinya dari istana Sultan. Bangsawan lain pun nekat melakukan hal yang sama.
Cara paling halus yang dilakukan adalah dengan modus melawat Sultan, padahal untuk merebut lagi istri mereka. Peperangan pun tidak dapat dihindari sehingga membuat mereka mencari daerah lain untuk bermukim.
Demikian halnya dengan kerjasama orang Makassar dengan Trunajaya, Bangsawan Madura, yang juga sempat memburuk karena persoalan wanita. Saat itu Karaeng Galesong mempersuntig wanita dari keponakan Trunayaja. Hal ini sebagai bentuk untuk mempererat persekutuan mereka.
Persekutuan memang sempat saling bantu dalam perang. Akan tetapi, hubungan mereka pecah setelah konflik Kareng Galesong dengan Trunayaja.
Saat itu, Karaeng Galesong berada di ibu kota Madura. Ia ingin agar istri terkasihnya diberikan kepadanya tanpa Sang karaeng harus meninggalkan perahu.
Sikap Karaeng Galesong membuat Trunaya merasa tidak dihormati. Akan tetapi, Karaeng Galesong cuek saja. Ia malai mengancam Trunajaya. Alhasil, Karaeng Galesong kembali mendapatkan istrinya.
Beberapa waktu kemudian, terjadi peperangan yang merenggangkan persekutuan mereka. Hancurlah persekutuan Gowa-Madura.
Bukti kesetiaan orang Makassar untuk menjaga istri dan perempuannya kembali terlihat setelah Arung Palakka mampu mengalahkan mereka dan menyuruhnya kembali ke Sulawesi.
Saat itu, ribuan orang Makassar masih berada di tanah Jawa. Karena tidak ingin kembali ke Sulawesi yang notabene telah menjadi daerah kekuasaan Arung Palakka,  mereka mengikuti beberapa orang Jawa dan pemerintah di Jawa.
Hanya saja, hubungan patron-klien yang juga diterapkan di wilayah Jawa memulai konflik baru di antara Gowa-Jawa. Pemeritah setempat meminta perempuan mereka sebagai tanda terima kasih.
Hal ini tentu saja tidak diterima oleh orang Makassar. Konflik pun terus terjadi demi menjaga harga diri dan perempuan-perempuan Makassar.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *