Mengenang, Mewaspadai, dan Mengetahui Gempa Bumi di Sulsel

Ilustrasi Gempa Bumi

POROSMAJU-MAKASSAR, Gempa bumi didefinisikan sebagai getaran/guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam bumi yang menciptakan gelombang seismik.
Terkhusus gempa tektonik, getaran tersebut terjadi karena adanya patahan-patahan (faults) dan tarikan atau pergerakan lempeng bumi.
Untuk Sulawesi Selatan, gempa bumi tektonik dengan skala besar bisa dikatakan masih sangat jarang. Tapi, ini tidak berarti Sulsel merupakan wilayah yang aman dari gempa.
Faktanya, pada September 1997, sekitar pukul 09.38 wita, gempa tektonik berkekuatan 6 Skala Richter mengguncang hampir seluruh wilayah di Sulawesi Selatan. Meski hanya berlangsung 28 detik, gempa ini menewaskan 16 orang, 35 orang luka berat, dan merusak ratusan rumah penduduk.
Sementara itu, Pewarta Harian Kompas melaporkan, 7 orang di Kabupaten Pinrang dan 8 orang di Parepare tewas akibat terjepit reruntuhan rumah. Hal yang paling menyedihkan, di Pinrang, korban tewas lebih banyak anak-anak yang tidak cepat ke luar rumah menyelamatkan diri.
Menurut Badan Meteorologi, dan Geofisika (BMG) Jakarta, yang memonitor terjadinya gempa di Indonesia, serta Balai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV Makassar, saat itu, gempa terasa hampir di semua wilayah Sulsel.
Pusat gempa tersebut, jelas BMKG Wilayah IV Makassar, berada pada posisi 3,9 Lintang Selatan – 119,7 Bujur Timur dengan kedalaman 30 kilometer. Tepatnya, titik gempa berada di Kabupaten Pinrang (sekitar 175 km utara Makassar), atau 20 km arah utara Kotamadya Parepare.
Tidak hanya itu, ternyata, pada 12 Desember 2017, gempa bumi dengan skala kecil juga terjadi di Kabupaten Sinjai, Sulsel. Hasil analisis BMKG Makassar menunjukkan, gempa tersebut berkekuatan 3.8 SR dengan koordinat episenter 5.24 Lintang Selatan dan 120.21 Bujur Timur dengan kedalaman 12 Km.
Gempa Sinjai tidak menyebabkan kerusakan, tetapi getaran dapat dirasakan masyarakat, terutama di kabupaten Sinjai. Penyebab gempa bumi tersebut adalah aktivitas Sesar Walennae atau biasa disebut Patahan Walennae.
Berdasrakan penjelasan R. Jamroni dari Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), saat ditemui di kantor BMKG Wilayah IV Makassar, untuk letak geografis Sulsel, memang ada dua patahan yang memungkinkan terjadinya getaran tektonik (gempa), yaitu Patahan Walennae dan Patahan Saddang.
“Kalau secara tektoni dan geologis, Sulsel itu ada Patahan Walennae itu, dia mulai dari sekitaran di atasnya Sidrap hingga ke Selayar, itu ada patahan mendatar. Magnitude masih kecil-kecil dan frekuensi gempanya masih jarang,” ujarnya.
Jamroni mengungkapkan, salah satu masalah utama masyarakat Sulsel  adalah pengetahuan masyarakat tentang gempa yang masih awam.
“Masyarakat kita agak awam yah, gak tau itu dia punya lokasi bangunan dilewati suatu patahan. Saat terjadi gempa, misalnya ada guncangan, (seharusnya) hindari bangunan, pergi ke tempat terbuka,” ujarnya.
Jamroni mengungkapkan bahwa kebanyakan korban gempa bumi karena terkena dan terjebak di dalam reruntuhan bangunan. Hal inilah yang terjadi di Pinrang dan Pare-Pare tahun 1997.
Karena itu, ia juga berharap masyarakat dapat memerhatikan informasi dari pemerintah perihal bencana. Hal ini karena informasi tersebut dari BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai penyalur pertama informasi potensi bencana suatu daerah. Dari kedua lembaga ini, pemerintah menyebar informasi ke masyarakat.
Informasi tersebut, tegas Jamroni, harus diperhatikan masyarakat agar menjadi acuan dalam mengambil tindakan sebelum terjadi bencana. Tindakan sederhana yang harus dilakukan adalah menghindari reruntuhan bangunan, tegangan listrik, dan mencari tanah lapang untuk berlindung dari robohnya pohon atau bangunan.
Atas ini, masyarakat Sulsel tetap harus berwaspada. Sekali lagi, meski, frekuensinya jarang dan dalam skala kecil, daerah ini tetap tidak aman dari gempa. Kenyataan di Pinrang sepuluh tahun lalu semoga dapat menjadi pelajaran. Terutama anak-anak, di saat rawan seperti kini, tetaplah bersama mereka dan memantaunya.
Selain itu, kewaspadaan juga harus dengan tetap memerhatikan informasi pemerintah. Saat gempa, pergilah ke tanah lapang yang bebas dari reruntuhan bangunan atau pohon tumbang. Mari, mewaspadai gempa!

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *