Ngopi dan Kelas Sosial

 Ngopi dan Kelas Sosial

Ngopi dan Kelas Sosial
Kopi Krimer (Inspirasi Bersama)

POROSMAJU.COM, Budaya ngopi adalah persoalan gaya hidup jika dipandang dari sisi pola perilaku konsumtif. Ngopi bukan lagi tentang ‘apa’. Kini ngopi telah berubah menjadi ‘bagaimana’.
Pandangan yang demikian seolah adalah ilham yang datang tiba-tiba dengan cara yang amat pelan. Kemunculan Starbucks di Indonesia pada tahun 2002 sedikit demi sedikit mengubah citra ngopi.
Ngopi yang dulunya adalah aktivitas para petani sebelum atau sembari beristirahat di pematang sawah, kini berubah menjadi rutinitas Si perenung dan Si pemikir melalui sebuah unggahan di media sosialnya.
Ngopi yang dulunya adalah aktivitas rumahan, kini berubah menjadi aktivitas ngafe, ngewarkop, atau pun ngestarbucks.
Sudahkah Anda ngopi hari ini?
Kurang lebih petikan demikianlah yang mesti kalian unggah sebagai identitas peminum kopi. Lengkap dengan foto secangkir kopi dan sebuah buku (jika beruntung) di sebelahnya. Petuah-petuah tentang hidup pun dihadirkan. Lengkaplah sudah sebuah gambaran hidup standar kekinian.
Seperti yang dikatakan oleh Baudrillard, konsumsi merupakan tindakan yang tersusun secara sistematis untuk memanipulasi tanda, baik sadar maupun tidak.
Untuk memeroleh objek konsumsi, maka objek yang digunakan harus memuat tanda atau menjadi tanda itu sendiri. Oleh karena itu konsumsi dapat diartikan tanda (sign), sebab konsumsi membutuhkan manipulasi simbol-simbol secara aktif.
Dalam aktivitas konsumsi, seseorang tidak lagi mengkonsumsi sesuatu berdasarkan pada aspek nilai guna (use value) dan nilai tukar (exchange value), tetapi pada aspek nilai tanda (symbolik value).
Artinya seseorang hanya akan mengkonsumsi nilai-nilai simbolis yang bersifat abstrak dan terkonstruksi.
Baudrillard menjelaskan, orang pada zaman ini mulai mementingkan konsumsi sebagai bentuk usaha dalam mengekspresikan diri yang digunakan untuk mengkomunikasikan dan menafsirkan tanda-tanda budaya kepada yang lain.
Sehingga konsumsi dianggap sebagai upaya masyarakat untuk merebut makna-makna posisi atau kedudukan sosial tertentu.
Taruhlah misalnya kamu aktivis maka kamu akan meminum kopi hitam, atau mereka yang agak paham akan menyebutkan nama kopi arabica dan kopi robusta. Adapula mereka, perempuan-perempuan dengan tas belanjaan di tangan mungkin akan memesan kopi dengan lukisan krimer di atasnya.
Sementara saya yang menuliskan tentang kopi tapi tidak mengonsumsinya, diam-diam mencoba menebak kopi jenis apa yang cocok untuk saya!

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *