Transformasi Adat "Dilarang Mendahului Kakak Menikah" di Kalangan Bugis

Transformasi Adat "Dilarang Mendahului Kakak Menikah" di Kalangan Bugis
Ilustrasi (seputarpernikahan.com)

POROSMAJU.COM– Mari menyimak syair lagu ini.
Iya’ Memengmi Kasi // Sebenarnya Aku
Nakkatta Na Dutai // Hendak datang dilamar
Nakennami Kasi Ade Toriolo // Hanya saja terkendala adat.
Adat Bugis dahulu kala memercayai bahwa jika adik mendahului kakak menikah maka akan berakibat buruk terhadap si kakak. Salah satu efeknyang paling dekat adalah, si kakak akan sulit mendapatkan jodoh.
Potongan lirik lagu yang berjudul “Ade Toriolo” ciptaan Amir Syam  yang musiknya disadur dari lagu India tersebut merekam tentang salah satu fenomena di kalangan Bugis yang hingga kini masih terasa hingar-bingarnya yaitu larangan mendahului kakak perempuan menikah.
Meski adat tersebut secara rasional sulit untuk diterima secara akal sehat, akan tetapi, petuah dan adat yang digariskan merupakan sesuatu yang dianggap mutlak pada zamannya. Seperti pada lagu tersebut, terlihat sebuah peristiwa tragis menimpa seorang pasangan karena Ade Toriolo tersebut.
Diceritakan bahwa seorang lelaki hendak melamar seorang kekasihnya. Hanya saja, mendahului kakak menikah dianggap pamali oleh ibunya. Karena Ade Toriolo tersebut, si lelaki harus menunda atau justru harus menikah dengan kakak Si perempuan.
Kepercayaan seperti ini hingga kini masih membayangi orang Bugis. Hanya saja, di Kabupaten Barru dan beberapa tempat, hal seperti ini mulai ditiadakan. Hal ini mungkin dianggap tidak sesuai dengan spirit zaman yang seharusnya tidak membedakan seseorang berdasarkan umur atau persoalan urutan kelahiran dalam pernikahan.
Pernikahan yang mendahului kakak kemudian banyak terjadi. Hanya saja, terkhusus untuk di Barru, sepertinya kepercayaan seperti itu tidak sepenuhnya dihilangkan. Akan tetapi, kepercayaan tersebut kemudian ditransformasikan ke bentuk yang lain.
Jadi, terkhusus untuk perempuan, setiap ada dari mereka yang didahului menikah oleh adiknya, maka akan dilakukan “ritual” yang sebenarya sulit juga dijelaskan rasionalisasinya tetapi tetap dijalankan di beberapa tempat. Ritual tersebut yaitu “makkao doi menre“.
Makkao doi menre dilakukan saat doi menre/uang panaik dibawakan kepada perempuan. Setelah didesain sedemikian rupa, kakak perempuan tersebut diperkenankan mengambil uang panaik dari dalam kotak tersebut sesuai dengan kemampuan jangkauan pegangan tangannya.
Biasanya, orang sengaja menempatkan uang panaik secara acak-acakan di suatu tempat. Saat itulah, Si kakak diarahkan untuk melakukan ritual tersebut. Ritual makkao doi menre ini biasanya hanya formalitas saja.
Dengan demikian, jumlah uang yang bisa dijangkau tentunya hanya secukupnya saja. Tujuannya diyakini dapat menjadi tolak bala, terutama dari nasib lambat menikah seperti yang dipetuakan orang terdahulu.
Transformasi adat seperti yang dilakukan orang Bugis Barru menunjukkan adanya keterbukaan terhadap suatu prinsip mau pun adat kebudayaan Bugis. Di sisi lain, hal tersebut dapat menjelaskan bahwa adat/tradisi tidak dapat mereka hilangkan begitu saja.
Hal yang mereka lakukan adalah mengikis sedikit demi sedikit hal-hal yang kemudian tidak sesuai dengan semangat zaman modern.
 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *