Example 728x250
Berita

Ruang Publik Tercemari Polusi Visual

340
×

Ruang Publik Tercemari Polusi Visual

Share this article
Example 468x60

Saut Siumorang dan Aslan Abidin saat menjadi Pembicara di Fort Rotterdam, Makassar, Selasa, 28 November 2017

POROSMAJU, MAKASSAR-Isu ruang publik merupakan isu yang berhubungan kota. Ruang publik yang baik menjadi salah satu tolok ukur baiknya suatu kota. Ruang-ruang publik tersebut seperti, pantai, taman, lapangan, hingga jalanan. Hanya saja, persoalan ruang publik ini sekakan-akan bukan milik publik lagi.
Hal ini disampaikan Saut Situmorang dan Aslan Abidin dalam acara Talk Show, yang diadakan oleh UKM Seni UNM, di benteng Fort Roterdam, Selasa, 28 November 2017.
Bagi Saut, ruang publik saat ini tercemari secara visual. Banyaknya spanduk yang tersebar di ruang publik, termasuk di pohon-pohon merupakan bentuk dari pencemaran visual itu.
“Satu, dia rusak visual dan membuat polusi kota. Dua, dia merusak pohon,” ujar Saut terhadap spanduk-spanduk yang ada di ruang publik.
Lebih jauh, Saut membandingkan dirinya saat berada di Selandia Baru. Kenangnya, di sana, ruang untuk kampanye itu sangatlah kecil. Karena ruang publik bukanlah hanya ruang milik calon atau milik parpol, sehingga mereka tidak akan mencemari ruang publik.
“Kalau ada yang berani, memasang foto dia (di ruang publik) karena dia mau jadi calon, apalagi di pohon kayu, itu orang kena sanksi dan pasti tidak akan dipilih,” ujarnya.
Hal ini sangat bertolak belakang di Indonesia. Alat kampanye ada di mana-mana. Apalagi jika itu dipasangnya di tugu untuk hiasan kota yang notabene milik publik. Menurut Saut ini merupakan kekeliruan.
“Saya lihat di tugu yang dibangun untuk hiasi kota itu dipasangi (spanduk kampanye), itu salah itu, sangat salah. Visual kota dirusaknya, estetika visual dirusaknya, itu polusi visual.”
Menurut Saut, kota itu harus cantik bukan karena bangunannya, tetapi visual kotanya. Seni, bagi Saut, bukan hanya puisi, novel, lukisan, dan sebagainya, tetapi juga visual kota atau visual ruang kota. Itu semua adalah seni.
Sedangkan bagi Aslan, spanduk-spanduk yang di ruang publik bukan hanya polusi visual, tetapi nantinya akan menjadi sampah yang sesungguhnya ketika spanduk tersebut tercabut dan tidak ada lagi yang mengurusinya.
Aslan menilai bahwa masalah sekarang ini terjadi karena adanya perubahan peradaban. Dimana kekuasaan terkadang hanya mementingkan diri sendiri.
“Secara politik, kita berada dalam peradaban parpol. Yang berkuasa itu parpol. Siapa yang bersama parpol, tentu saja adalah pengusaha.”
Kebijakan yang ada kemudian hanya berguna untuk kalangan atas dan tidak berguna untuk rakyat kecil. Kebutuhan rakyat kecil adalah hal sederhana saja, seperti, selokan yang bersih, bebas nyamuk dan tikus.
Aslan menilai bahwa kalangan muda perlu memberi sudut pandang yang lain. Pemuda harus menjadi pembeda sebagai kalangan intelektual.
Aslan menutup pembicaraannya dengan pesan yang sederhana, “Buang sampah pada tempatnya dan parkir motor lebih dipinggir,” ujarnya sambil sedikit tersenyum.
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LLDIKTI IX Gelar Bimtek Kurikulum di Unismuh Makassar 2. Unismuh Jadi Tuan Rumah Bimtek Kurikulum LLDIKTI IX 3. LLDIKTI IX Dorong PTS Perkuat Kurikulum Berbasis OBE MAKASSAR – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sultan Batara bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Kurikulum di Aula Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unismuh Makassar, Jumat, 26 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti perwakilan perguruan tinggi swasta di wilayah kerja LLDIKTI IX. Bimtek digelar untuk memperkuat pemahaman perguruan tinggi dalam menyusun, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education atau OBE. Wakil Rektor II Unismuh Makassar, Dr. Hj. Ihyani Malik, M.Si., mewakili Rektor Unismuh membuka sambutan tuan rumah. Ia menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI IX yang mempercayakan Unismuh sebagai tempat pelaksanaan kegiatan. Ihyani mengatakan, kemajuan perguruan tinggi saat ini tidak lagi dapat dicapai secara sendiri-sendiri. Menurut dia, perguruan tinggi harus bergerak dalam ekosistem kolaborasi dan saling menguatkan, terutama dalam peningkatan mutu akademik dan akreditasi. “Kita maju karena kita berada di era kolaborasi, di era bermitra,” kata Ihyani dalam sambutannya. Ia menilai, penyusunan kurikulum menjadi salah satu pekerjaan strategis di perguruan tinggi. Kurikulum, kata Ihyani, tidak hanya berkaitan dengan dokumen akademik, tetapi juga menentukan mutu lulusan, proses pembelajaran, dan capaian akreditasi. “Kurikulum adalah ruh dari kemajuan atau keunggulan sebuah perguruan tinggi. Kalau itu baik, akan ikut memperbaiki komponen-komponen yang lain,” ujar Ihyani. *Kurikulum Jadi Kunci Mutu Perguruan Tinggi* Ihyani menyebut, Unismuh Makassar terus berupaya memperkuat mutu kelembagaan meski telah meraih akreditasi unggul. Ia menegaskan, capaian tersebut bukan akhir dari proses pengembangan kampus, melainkan titik pijak untuk terus memperbaiki diri. Ia juga menyampaikan bahwa Unismuh sedang memperkuat reputasi internasional melalui sejumlah pemeringkatan. Menurut dia, keterlibatan kampus dalam pemeringkatan global menjadi bagian dari upaya meningkatkan tata kelola, mutu akademik, dan daya saing kelembagaan. Ihyani menambahkan, Unismuh juga memperkuat agenda kampus berkelanjutan melalui Sustainable Waste Smart Campus (SWSC). Program itu dikembangkan untuk mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan dan penguatan posisi kampus dalam pemeringkatan UI GreenMetric. “Kami menginginkan tidak ada lagi sampah di Unismuh ini setiap hari. Alhamdulillah, itu sudah berjalan,” kata Ihyani. Dalam kesempatan itu, Ihyani juga menyambut peserta dari berbagai perguruan tinggi swasta di wilayah LLDIKTI IX. Ia berharap forum tersebut menjadi ruang belajar bersama, terutama bagi tim akademik dan pengelola kurikulum di masing-masing kampus. Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara yang diwakili Ketua Tim Akademik, Muhammad Tahir Hamzah, S.T., M.T., secara resmi membuka kegiatan. Ia menyampaikan terima kasih kepada Unismuh Makassar yang menjadi tuan rumah sekaligus mitra LLDIKTI IX dalam pendampingan pengembangan kurikulum. Tahir menjelaskan, LLDIKTI IX melakukan evaluasi terhadap sejumlah aspek akademik, termasuk penyelenggaraan Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL. Dari evaluasi tersebut, LLDIKTI IX menemukan bahwa pelaksanaan RPL sangat berkaitan dengan kesiapan kurikulum di perguruan tinggi. Menurut Tahir, kunci utama penyelenggaraan RPL berada pada Capaian Pembelajaran Mata Kuliah atau CPMK dan sub-CPMK. Karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan kurikulum yang digunakan telah disusun secara tepat dan dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran. “Kunci utamanya RPL itu sebenarnya ada di CPMK dan sub-CPMK,” kata Tahir. *LLDIKTI IX Petakan Tiga Klaster Kurikulum* Tahir mengatakan, LLDIKTI IX memetakan perguruan tinggi ke dalam tiga klaster berdasarkan tingkat pemahaman dan implementasi kurikulum berbasis OBE. Klaster pertama berisi perguruan tinggi yang belum sepenuhnya memahami kurikulum berbasis OBE. Klaster kedua mencakup perguruan tinggi yang sudah mengenal dan mulai masuk dalam proses penyusunan kurikulum, tetapi belum mengimplementasikannya secara penuh. Adapun klaster ketiga terdiri atas perguruan tinggi yang telah menyusun, mengimplementasikan, dan mulai melakukan evaluasi kurikulum. Ia menjelaskan, bimtek di Unismuh Makassar merupakan bagian dari rangkaian pendampingan kurikulum yang digelar LLDIKTI IX sepanjang 2026. Menurut Tahir, kegiatan tersebut merupakan gelombang terakhir dari lima gelombang bimtek yang direncanakan pada tahun ini. Tahir menyebut, setiap gelombang bimtek diikuti sekitar 20 hingga 25 perguruan tinggi. Dengan jumlah tersebut, LLDIKTI IX baru dapat menjangkau sekitar 120 perguruan tinggi dari total 215 perguruan tinggi di wilayah kerjanya. “Kegiatan ini memang sangat terbatas. Kalau diakumulasi, kami baru bisa sentuh sekitar 120 perguruan tinggi, padahal di LLDIKTI IX ini ada 215 perguruan tinggi,” ujar Tahir. Tahir berharap perguruan tinggi yang mengikuti bimtek tidak berhenti pada kegiatan formal semata. Ia meminta peserta menularkan hasil bimtek kepada program studi lain, bahkan kepada perguruan tinggi di sekitar masing-masing. Ia juga menyampaikan harapan Kepala LLDIKTI IX agar pada tahun akademik 2026 perguruan tinggi mulai mengimplementasikan kurikulum berbasis OBE. Menurut dia, implementasi tersebut penting untuk memperkuat mutu pembelajaran dan mendukung evaluasi akademik di perguruan tinggi. “Jangan sampai bimtek ini berakhir di sini. Harapannya, setelah bimtek ini, mohon ditularkan ke teman-teman program studi yang lain,” kata Tahir. Bimtek tersebut diharapkan menjadi ruang konsolidasi bagi perguruan tinggi swasta dalam memperkuat kurikulum, mutu akademik, dan kesiapan menghadapi kebijakan pendidikan tinggi. Melalui pendampingan ini, LLDIKTI IX dan Unismuh Makassar mendorong perguruan tinggi membangun kurikulum yang relevan, terukur, dan berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan.
Berita

Porosmaju.com, Makassar – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI)…