Example 728x250
Berkhas

Sebelum Menonton Film "Chrisye", Baca Dulu Kisah Masa Mudanya

13
×

Sebelum Menonton Film "Chrisye", Baca Dulu Kisah Masa Mudanya

Share this article
Example 468x60

Chrisye masa muda (Sumber: wikipedia)

POROSMAJU- Chrisye, salah satu musisi terbaik Indonesia. Kisahnya menarik karena memiliki rekam jejak yang penuh dinamika. Rekam jejak Chrisye sendiri direkam dengan baik melalui dua buku Alberthiene Enda, Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007) dan The Last Words of Chrisye (2008).
Dalam waktu dekat, sebuah film berjudul “Chrisye” akan tayang 7 desember 2017. Dalam film tersebut, sosok Chrisye akan diperankan oleh aktor Vino G. Bastian.
Film ini mencoba merekam sisi lain dari kehidupan Chrisye.  Dinamika kehidupan keluarga dan karir Chrisye merupakan sorotan utama film ini.
Chrisye lahir dengan nama Christian Rahardi di Jakarta pada tanggal 16 September 1949 dari keluarga Laurens Rahadi (Lauw Tek Kang), seorang wirausaha keturunan Betawi-Tionghoa, dan Hanna Rahadi (Khoe Hian Eng), seorang ibu rumah tangga keturunan Sunda-Tionghoa.
Chrisye merupakan anak kedua dari tiga anak laki-laki yang dipunyai pasangan tersebut, saudaranya bernama Joris dan Vicky.
Saat sekolah di SD GIKI, Chrisye berteman dengan anak-anak keluarga Nasution, yang menjadi tetangganya. Chrisye paling akrab dengan Bamid Gauri, teman bermain bulu tangkis dan layang-layangnya.
Sejak SD, dia juga mulai mendengarkan piringan hitam milik ayahnya. Dia bernyanyi mengiringi lagu-lagu Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin.
Saat Chrisye duduk di bangku SMA PSKD Menteng, Beatlemania tiba di Indonesia. Ini membuat Chrisye lebih tertarik dengan dunia musik. Menanggapi minat Chrisye untuk bermain musik, ayahnya membeli sebuah gitar, namun Chrisye memilih gitar bas, sebab dia beranggapan bahwa gitar tersebutlah yang paling mudah dipelajari.
Ngeband dan Awal Mula Merokok
Mereka lama-kelamaan mulai main musik di acara sekolah, Chrisye sebagai vokalisnya. Saat di SMA, Chrisye diam-diam mulai merokok. Pada suatu saat, dia ditangkap kepala sekolah dan disuruh merokok delapan batang secara bersamaan di depan siswa-siswi lain. Inilah yang membuat dia trus merokok sehingga menjadi perokok berat.
Pada pertengahan dasawarsa 1960-an, keluarga Nasution membentuk sebuah band; Chrisye dan Joris menonton mereka main musik. Pada tahun 1968, Chrisye mendaftar di Universitas Kristen Indonesia (UKI) untuk menjadi insinyur seperti yang dihendaki ayahnya.
Sekitar tahun 1969, Gauri mengundangnya untuk menjadi anggota band Nasution, Sabda Nada, untuk menggantikan pemain bas mereka yang sedang sakit, Eddi Odek. Karena puas dengan kemampuannya, Nasution bersaudara minta Chrisye menjadi anggota tetap.
Sabda Nada bermain secara teratur di Mini Disko di Jalan Juanda serta untuk pesta ulang tahun dan pernikahan. Ketika Chrisye diberi kesempatan untuk menyanyikan lagu versi daur ulang, saat itu, dia berusaha untuk menggunakan suara yang mirip penyanyi aslinya.
Chrisye “Cabut” dari Universitas
Pada tahun 1969, Sabda Nada mengganti nama mereka menjadi Gipsy supaya terdengar lebih macho dan seperti band Barat. Jadwal untuk band itu, yang tidak mempunyai manager, sangat padat karena bermain secara teratur di Taman Ismail Marzuki. Akibatnya, Chrisye mengundurkan diri dari UKI. Pada tahun 1970 dia masuk ke Akademi Pariwisata Trisakti karena mengganggap jadwalnya lebih fleksibel.
Dua tahun kemudian, Chrisye ditawari kesempatan untuk main di New York. Saat itu, Chrisye takut untuk menceritakan hal tersebut kepada ayahnya. Dia berpikir ayahnya tidak akan menyetujui. Dia jatuh sakit selama beberapa bulan, sementara Gipsy pergi ke New York.
Karena kecintaanya terhadap musik, Chrisye akhirnya menceritakan kepada ibunya. Ayahnya pun menyetujui agar dia mengundurkan diri dari kuliah dan pergi ke New York. Setelah kesehatannya membaik, pada tengah tahun 1973, dia pergi bersama Pontjo untuk bertemu dengan Gipsy di Amerika Serikat. Di tahun yang sama, dia mengundurkan diri dari Akademi Pariwisata Trisakti.
Selama di New York, Gipsy manggung di Ramayana Restaurant milik perusahaan Pertamina. Band itu ditempatkan di suatu apartemen di Fifth Avenue. Gipsy berada di New York sekitar satu tahun. Mereka menyanyikan lagu-lagu Indonesia serta versi daur ulang dari lagu Procol Harum, King Crimson, Emerson, Lake & Palmer, Genesis, serta Blood, Sweat, and Tears.
Pada pertengahan tahun 1975, dengan beberapa minggu tersisa di kontrak kerjanya, orang tuanya menelepon Chrisye dari Jakarta dan memberi tahu kalau saudaranya Vicky meninggal akibat infeksi lambung. Karena tidak dapat kembali langsung ke Jakarta, pikirannya jadi kacau. Saat kembali ke Indonesia, Chrisye tak berhenti-henti menangis dalam pesawat dan menjadi depresi.
Sempat Berhenti Bermusik
Chrisye sempat berhenti bermain musik. Setelah beberapa waktu tidak bermain musik, Chrisye dihubungi oleh Nasution bersaudara dan diundang untuk bergabung dengan Gipsy. Saat itu, Gipsy bekerja sama dengan Guruh Soekarno.
Guruh juga menawarkan beberapa lagu untuk Chrisye menjadi vokalis utama, dengan lirik ditulis khusus untuk dia. Setelah mengatasi rasa depresinya, Chrisye mengikuti latihan di rumah Guruh di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Saat berlatih, mereka main sampai larut malam dan mencampurkan rock ala Barat dengan gamelan Bali. Perekaman terjadi pada pertengahan tahun 1975, dengan hanya empat lagu yang terselesaikan dalam beberapa bulan pertama. Pada tahun 1976 album Guruh Gipsy diluncurkan dan diterima baik oleh para kritikus.
Pada akhir tahun 1976, Chrisye dihampiri oleh Jockie Soerjoprajogo, seorang pencipta lagu, dan Imran Amir, pemimpin Radio Prambors. Mereka meminta agar Chrisye menjadi vokalis untuk Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors.
Tawaran ini ditolak Chrisye. Beberapa hari kemudian, Sys NS, yang pada saat itu bekerja di Prambors, mendekati Chrisye. Waktu itu, Chrisye sedang berbincang dengan Guruh dan Eros Djarot. Sys menekankan bahwa Chrisye diperlukan untuk lagu “Lilin-Lilin Kecil” karya James F. Sundah.
Setelah dia mendengar lirik lagu tersebut, Chrisye setuju. Lagu ini direkam di studio Irama Mas di Pluit, Jakarta Utara dan dimuat dalam sebuah album dengan pemenang lomba lain. Awalnya, “Lilin-Lilin Kecil” dimuat di urutan kesembilan, tetapi akhirnya dipindahkan ke urutan pertama supaya lebih laris. Setelah itu, lagu ini menjadi terkenal, album LCLR 1977 menjadi album paling laris tahun itu.
Chrisye Naksir Cewek
Biar pun memilik banyak penggemar, Chrisye sampai awal tahun 1980-an jarang berpacaran. Akan tetapi, pada awal tahun 1981, dia mulai mendekati sekretaris Guruh Soekarnoputra, yaitu Gusti Firoza Damayanti Noor (Yanti).
Yanti, yang mempunyai keturunan Dayak dan Minang, juga seorang penyanyi dan berasal dari keluarga musisi. Dia sering membahas musik dengan Chrisye saat mereka menunggu Guruh. Mereka juga bertemu saat Chrisye mengunjungi kakak Yanti, Raidy, yang merupakan salah satu temannya.
Saat Yanti pindah ke Bali untuk bekerja di hotel bintang lima selama beberapa minggu, Chrisye mengikutinya dan menyatakan bahwa dia siap menikahinya ketika Yanti kembali ke Jakarta. Meskipun itu bukan lamaran resmi, Yanti menerima lamaran tersebut.
Pada tahun 1982 Chrisye menjadi mualaf. Pada tanggal 12 Desember 1982, Chrisye dan Yanti menikah bergaya adat Padang.
Sisi-sisi keromantisan dan kepedulian Chrisye terhadap keluarga tampaknya akan menjadi bumbu-bumbu utama di film “Chrisye”. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengantar untuk mengenal Chrisye sebelum menyaksikan film tersebut.
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *