Example 728x250
Berkhas

Gelar Andi dan Politik Kolonial Belanda

9
×

Gelar Andi dan Politik Kolonial Belanda

Share this article
Example 468x60

Gelar Andi dan Politik Kolonial BelandaPOROSMAJU.COM, Ketika mendengar gelar seperti Karaeng, Andi, Daeng, atau pun Opu tentu yang muncul di benak adalah pemberian gelar dengan latar belakang kebangsawanan Bugis-Makassar.
Terdapat beberapa sumber perihal asal muasal pemberian gelar tersebut. Jika masih asing dengan beberapa rentetan gelar yang dimaksud, mungkin kita akan lebih familiar dengan gelar “Andi”.
Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya Pernikahan Bugis (2009) pertama kali diberikan pada tahun 1910-1920an. Saat itu Pemerintah Belanda ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa.
Kemudian muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan.
Karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah.
Sehingga dipakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat.
Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya.
Versi lain dari histats.com menyebutkan bahwa gelar ” Andi” ini dimulai ketika 24 Januari 1713. Gelar ini dipakai pada semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan keturuanan raja, seperti:
1. Lapatau dengan putri Raja Bone sejati
2. Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa)
3. Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa)
4. Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa)
5. Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang
6. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Di situasi yang lain disebutkan bahwa gelar “Andi” diperoleh dari jenjang pendidikan sekolah Belanda.
Sementara itu, dicatatkan Mattulada dalam buku “Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan” bahwa penggunaan gelar “Andi” dimulai sejak tahun 1930-an oleh para kepala swapraja dan keluarga bangsawan.
Di era penguasaan Belanda di tanah air, saat kerajaan di Sulawesi Selatan diintervensi dalam hal pemenuhan tenaga ahli dengan kemampuan baca dan tulis, pemerintah Belanda mendirikan sekolah-sekolah seperti OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), MULO (Meerder Uitbreiding Lager Onderwijs), AMS (Algemene Middelbare School), Normaal School dan HK (Holland Indlands Kwekschool).
Selain itu, di beberapa distrik pun dibangun sekolah-sekolah gubermen, atau sekolah desa. Sementara itu untuk pendidikan setingkat afdeling, didirikanlah sekolah seperti HIS dan Schakel School
Mereka yang ingin bersekolah pun memiliki persyaratan khusus. Sekolah-sekolah setingkat HIS atau OSVIA yang dikenal sebagai sekolah raja mewajibkan para siswanya untuk menyerahkan stambon (daftar silsilah keturunan) dan lembar pernyataan kesetiaan pada pemerintah Hindia Belanda.
Tujuannya adalah untuk mengikat para siswa ini yang nantinya akan menjadi pegawai pemerintahan dan pejabat administrasi untuk perusahaan-perusahaan.
Anak-anak bangsawan yang bersekolah inilah yang kemudian mendapatkan gelar “Andi” ketika mereka menamatkan pendidikan.
Penggunaan gelar Andi saat itu juga diberlakukan di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelaran ‘Andi’ adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.
Ada pun gelar Andi hanya diturunkan dari ayah namun beberapa daerah seperti Soppeng membenarkan jika gelar ini diturunkan dari ibu (jika salah satu tidak bergelar “Andi”).
Saat ini gelar tersebut sangat diagung-agungkan. Bahkan jika perempuan bergelar “Andi” berhak diperuntukkan kepadanya mahar yang tinggi saat dilamar oleh seorang lelaki.
Dari beberapa versi di atas, betapa diketahui bahwa gelar “Andi” tidak terlepas dari urusan politik pemerintah saat masa kolonial Belanda. Selebihnya, siapa yang tahu.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *