Example 728x250
Berita

Ketua Muhammadiyah Sulsel Jelaskan KHGT di Forum Ormas Islam Sulsel

8
×

Ketua Muhammadiyah Sulsel Jelaskan KHGT di Forum Ormas Islam Sulsel

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar— Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan (PWM Sulsel) Prof Dr H Ambo Asse MAg menyosialisasikan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam pertemuan Silaturahim Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam Tingkat Sulawesi Selatan. Penjelasan itu disampaikan di hadapan pimpinan dan perwakilan ormas Islam dalam forum yang berlangsung di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Makassar, Senin, 4 Mei 2026.

Ambo Asse mengatakan, Muhammadiyah telah menggunakan kalender hijriah global sebagai bagian dari ikhtiar menyatukan umat Islam dalam penentuan waktu ibadah. Ia menyampaikan penjelasan itu setelah mengajak ormas Islam memperkuat komunikasi, ukhuwah, dan kerja sama dalam forum silaturahim tersebut.

Example 300x600

“Kaitannya dengan tahun baru Islam, itu Muhammadiyah sudah menggunakan kalender hijriah global,” kata Ambo Asse dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, penggunaan KHGT menandai pergeseran metode Muhammadiyah dari wujudul hilal dan matlak wilayah al-hukmi menuju matlak global atau internasional. Menurut dia, perubahan itu penting dipahami agar masyarakat mengetahui dasar Muhammadiyah dalam menggunakan kalender hijriah global.

“Jadi Muhammadiyah perlu dipahami bahwa Muhammadiyah bergeser dari wujudul hilal dan bergeser dari matlak wilayah al-hukmi, menggunakan matlak global, matlak internasional,” ujar Ambo.

Dalam paparannya, Ambo menyebut KHGT menggunakan kriteria ketinggian hilal 5 derajat di atas ufuk dan elongasi 8 derajat pada wilayah dunia. Ia membandingkan kriteria itu dengan kriteria yang digunakan di Indonesia, yakni ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Ambo mengatakan, penggunaan kalender hijriah global bukan semata perubahan teknis dalam penanggalan. Menurut dia, langkah itu ditempuh Muhammadiyah untuk mendorong kesatuan umat Islam dalam beribadah secara lebih disiplin, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga pada tingkat dunia.

“Itu digunakan tidak lain Muhammadiyah mau bersatu sedunia. Jadi bukan cuma bersatunya di Indonesia, tetapi berupaya bagaimana bersatu di dunia,” kata Ambo.

Ia menjelaskan, gagasan kalender hijriah global menguat setelah Konferensi Islam di Turki pada 2016. Menurut Ambo, konferensi itu diikuti 150 negara dan sebanyak 80 negara menyetujui penggunaan kalender hijriah global, sementara 50 negara tidak setuju dan sebagian lainnya abstain.

Ambo menyebut perwakilan Indonesia dalam konferensi tersebut berasal dari Muhammadiyah, yakni Prof Syamsul Anwar. Setelah kembali ke Indonesia, kata Ambo, kajian dan seminar dilakukan hingga melahirkan kalender hijriah global yang kemudian disosialisasikan pada 2024 dan mulai diberlakukan pada 2025.

“Begitu kembali ke Indonesia, beliau melakukan kajian dan melakukan seminar-seminar. Sehingga melahirkan kalender hijriah global yang disosialisasikan pada tahun 2024 dan diberlakukan tahun 2025,” ujar Ambo.

Ambo menambahkan, kalender hijriah global itu pada dasarnya diberlakukan pada 1446 Hijriah, tetapi baru benar-benar diaplikasikan pada 1447 Hijriah. Ia meminta pimpinan ormas Islam memahami latar belakang tersebut agar perbedaan dalam penentuan kalender tidak terus dibaca sebagai ketidaktaatan Muhammadiyah kepada pemerintah.

Ia menegaskan, dalam urusan ibadah, Muhammadiyah berpegang pada ketaatan kepada Allah. Namun, Ambo juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah tetap taat pada negara dalam urusan-urusan publik, termasuk membayar pajak dan mematuhi aturan lalu lintas.

“Hanya saja kalau Muhammadiyah Lebaran lebih awal, terlalu banyak informasi, berita, Muhammadiyah tidak taat pemerintah. Memang kalau ibadah, bukan taat ke mana-mana. Kalau ibadah harus taat kepada Allah SWT,” kata Ambo.

Penjelasan tentang KHGT itu disampaikan dalam forum yang juga membahas penguatan persatuan ormas Islam. Sebelum masuk pada isu kalender hijriah, Ambo menekankan pentingnya ormas Islam membangun komunikasi yang baik, memperbanyak kawan, dan mengamalkan ukhuwah Islamiah.

Menurut Ambo, pertemuan lintas ormas Islam sejalan dengan kepribadian Muhammadiyah, terutama dalam beramal dan berjuang untuk perdamaian serta kesejahteraan. Ia juga menilai kerja sama dengan golongan Islam mana pun diperlukan dalam usaha menyiarkan, mengamalkan, dan membela kepentingan agama Islam.

Suasana pertemuan berlangsung khidmat di aula Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Para pimpinan dan perwakilan ormas Islam duduk mengelilingi meja panjang, sementara bendera Muhammadiyah, layar tayangan acara, dan podium berlambang persyarikatan berada di bagian depan ruangan.

Dalam forum itu, Ambo juga memperkenalkan jaringan Muhammadiyah Sulawesi Selatan kepada para peserta. Ia menyebut Muhammadiyah Sulsel memiliki kepengurusan di 24 daerah, lebih dari 700 cabang, hampir 3.000 ranting, 14 perguruan tinggi termasuk Aisyiyah, sekitar 40 pesantren dan tahfiz Al-Qur’an, lebih dari 300 lembaga pendidikan menengah, serta 433 taman kanak-kanak Aisyiyah.

Ambo berharap sosialisasi KHGT dalam forum lintas ormas Islam dapat membuka pemahaman bersama mengenai dasar pemikiran Muhammadiyah. Ia juga berharap pertemuan silaturahim itu memperkuat persatuan, mengurangi prasangka, dan mendorong kerja sama umat Islam di Sulawesi Selatan dalam agenda-agenda berikutnya.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *