Porosmaju.com, Makassar — Perkaderan di perguruan tinggi Muhammadiyah tidak cukup dipahami sebagai kegiatan pembinaan rutin. Ia perlu ditempatkan sebagai sistem yang bekerja untuk merawat ideologi, membentuk karakter, dan memastikan keberlanjutan gerakan Muhammadiyah di lingkungan akademik.
Gagasan itu menjadi salah satu pokok penting dalam disertasi Ya’kub, S.Pd.I., M.Pd.I., yang dipertahankan dalam Ujian Promosi Doktor Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, Selasa, 9 Juni 2026. Ujian berlangsung di Aula Teater I GIFt, lantai 2 Gedung Iqra, Kampus Unismuh Makassar.
Di hadapan promotor, kopromotor, dewan penguji, keluarga, kolega, civitas akademika, dan kader-kader Muhammadiyah, Ya’kub mempertahankan disertasi berjudul “Implementasi Kurikulum Sistem Perkaderan Muhammadiyah dalam Penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Makassar”.
Disertasi tersebut dibimbing oleh Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag. sebagai promotor dan Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag. sebagai kopromotor. Adapun dewan penguji terdiri atas Prof. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Prof. Dr. H. Bahaking Rama, M.S., Dr. M. Ilham Muchtar, Lc., M.A., serta Prof. Dr. H. Musafir Pababbari, M.Si. sebagai penguji eksternal.
Ujian promosi berlangsung dalam suasana akademik yang tertib dan khidmat. Forum itu tidak hanya menjadi ruang pertanggungjawaban ilmiah seorang promovendus, tetapi juga ruang pembacaan atas salah satu isu penting dalam Muhammadiyah, yakni keberlanjutan kaderisasi di amal usaha pendidikan tinggi.
Perkaderan sebagai Sistem Penguatan AIK
Dalam disertasinya, Ya’kub mengkaji bagaimana Kurikulum Sistem Perkaderan Muhammadiyah diimplementasikan untuk memperkuat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan atau AIK di Unismuh Makassar. Penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memikul mandat dakwah dan kaderisasi.
Karena itu, AIK tidak dapat diposisikan semata sebagai mata kuliah atau kegiatan keagamaan kampus. AIK, dalam kerangka penelitian Ya’kub, merupakan nilai dasar yang perlu hadir dalam tata kelola, budaya akademik, pembinaan sumber daya manusia, serta pola perkaderan yang menjangkau seluruh unsur civitas akademika.
Penelitian ini bertujuan menemukan program dan kegiatan perkaderan yang diimplementasikan di Unismuh Makassar, menganalisis bentuk penguatan Keislaman dan Kemuhammadiyahan pada civitas akademika, serta mengidentifikasi dampaknya bagi individu, organisasi, dan institusi.
Dari hasil penelitiannya, Ya’kub menunjukkan bahwa implementasi perkaderan Muhammadiyah di Unismuh Makassar menyasar empat kelompok utama, yakni pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa.
Bagi unsur pimpinan, penguatan dilakukan melalui Darul Arqam pimpinan utama dan Baitul Arqam. Program ini menjadi ruang konsolidasi ideologi, penyamaan orientasi perjuangan, dan penguatan kepemimpinan berbasis nilai-nilai Persyarikatan.
Bagi dosen, perkaderan dilakukan melalui Darul Arqam, Baitul Arqam, dan pengajian rutin. Dalam konteks ini, dosen tidak hanya diposisikan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembina nilai dan teladan moral. Peran dosen menjadi penting karena merekalah yang berhadapan langsung dengan mahasiswa dalam proses akademik dan pembentukan karakter.
Untuk karyawan, penguatan AIK dilaksanakan melalui Darul Arqam dan Baitul Arqam. Kegiatan ini diarahkan untuk membangun etos kerja Islami, loyalitas kelembagaan, integritas, serta profesionalitas. Karyawan dipandang sebagai bagian dari wajah kelembagaan kampus karena kualitas pelayanan dan budaya kerja banyak ditentukan oleh mereka.
Sementara itu, bagi mahasiswa, bentuk perkaderan meliputi Baitul Arqam lembaga mahasiswa, Baitul Arqam mahasiswa berasrama, Baitul Arqam mahasiswa profesi dan purna studi, penguatan ideologi bagi lembaga mahasiswa dan mahasiswa penerima beasiswa, serta pengajian pekanan dan bulanan.
Rangkaian kegiatan itu diarahkan agar mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kepribadian Islami, kesadaran dakwah, dan komitmen Bermuhammadiyah. Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menyiapkan kader umat, bangsa, dan Persyarikatan.
Ya’kub menemukan empat bentuk utama penguatan AIK di Unismuh Makassar. Pertama, penguatan nilai ideologi gerakan Muhammadiyah. Kedua, penguatan paham agama menurut Muhammadiyah. Ketiga, penguatan kader sebagai pelaku gerakan Muhammadiyah. Keempat, penguatan sistem gerakan Muhammadiyah.
Keempat bentuk penguatan itu menunjukkan bahwa perkaderan perlu dilihat sebagai proses yang utuh dan berkelanjutan. Perkaderan tidak cukup berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia harus menjadi proses yang menyatukan nilai, pemahaman, sikap, budaya, dan tindakan.
Dari Ideologi hingga Tata Kelola Kampus
Dalam disertasi itu juga disebutkan sejumlah dampak dari implementasi Kurikulum Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Dampak tersebut antara lain penguatan ideologi dan identitas Bermuhammadiyah, pembentukan karakter dan moralitas etik civitas akademika, serta penguatan tata kelola dan budaya kelembagaan.
Selain itu, perkaderan juga dinilai berkontribusi terhadap reputasi dan citra institusi, meningkatnya aktivitas Bermuhammadiyah di berbagai tingkatan struktural, serta penguatan masa depan karier kader di Muhammadiyah.
Dalam konteks Unismuh Makassar, temuan ini menjadi relevan karena AIK merupakan bagian penting dari Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Kampus tidak hanya dituntut unggul dalam capaian akademik, tetapi juga perlu menjaga karakter kelembagaan sebagai amal usaha Muhammadiyah.
Rekam Jejak
Ya’kub memiliki latar pendidikan yang lekat dengan lingkungan Muhammadiyah. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 1 Ulu Wolo Ponre Waru-Kolaka, kemudian melanjutkan ke MTs Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah dan MA Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah. Setelah itu, ia belajar di Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar, menempuh S1 Pendidikan Agama Islam Unismuh Makassar, S2 Magister Pendidikan Islam Unismuh Makassar, hingga melanjutkan S3 Pendidikan Agama Islam di kampus yang sama.
Dalam dunia kerja, Ya’kub pernah menjadi guru SMP Darul Arqam Muhammadiyah Gombara pada 2016-2018 dan guru SMA Muhammadiyah 1 Unismuh Makassar pada 2018-2021. Sejak 2017, ia tercatat sebagai Dosen Tetap Persyarikatan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Jejak organisasinya juga panjang. Ya’kub aktif di IRM/IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, serta MPK/MPKSDI Muhammadiyah. Ia pernah menjadi Ketua Umum PC IMM Kota Makassar, Ketua Bidang Kader DPP IMM, Ketua Korps Instruktur DPD IMM Sulawesi Selatan, Wakil Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Divisi Pendidikan dan Pelatihan MPK PWM Sulawesi Selatan, Wakil Sekretaris MPKSDI PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan, serta Wakil Dekan IV Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar.
Di tengah aktivitas akademik, pekerjaan, dan organisasi, Ya’kub adalah suami dari Hernawati, S.Pd.I., M.Pd. Mereka dikaruniai empat anak, yakni Afrahatul Huriyah Ya’kub, Afizah Syaffira Ya’kub, Muhammad Afnan Ya’kub, dan Afdhaliah Dzakira Ya’kub.
Ujian promosi doktor ini menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan Ya’kub sebagai akademisi dan kader. Dari ruang akademik Unismuh Makassar, ia menawarkan gagasan tentang pentingnya perkaderan yang terencana, berkelanjutan, dan berdampak bagi penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, sekaligus bagi masa depan Muhammadiyah di perguruan tinggi.
















