Example 728x250
Tokoh

Titisan Doa di Tanah Tuju-Tuju: Sebuah Rindu yang Tak Pernah Pulang

57
×

Titisan Doa di Tanah Tuju-Tuju: Sebuah Rindu yang Tak Pernah Pulang

Share this article
Example 468x60

Ada tempat-tempat di dunia ini yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan, meski langkah kaki telah mengembara jauh melintasi berbagai benua. Bagi saya, tempat itu adalah Pesantren Darul Huffadh, sebuah ceruk ketenangan yang terhampar di Tuju-Tuju, Kajuara. Di tanah itulah, potongan jiwa saya tertinggal terikat oleh gema lantunan Al-Qur’an dan sosok keibuan sekaligus ketegasan seorang ulama besar yang hingga kini bayangnya selalu memanggil-manggil nurani saya: Anre Gurutta KH. Lanre Said.

Mengingat beliau adalah mengingat ketulusan tanpa jarak. Berada di dekat Anre Gurutta seperti berteduh di bawah pohon rindang saat terik membakar. Momen yang paling melekat dalam ingatan saya adalah setiap hari Jumat, usai shalat ditunaikan. Ketika angin sepoi Kajuara menyusup di antara tiang-tiang bangunan masjid, beliau selalu duduk menghadap kami, santri-santrinya. Suaranya yang tenang namun menghunjam dada membawakan petuah-petuah abadi: tentang arti suci sebuah dakwah, tentang keringat dan air mata dalam menghafal Al-Qur’an, serta tentang keteguhan jiwa dalam memperjuangkan tauhid. Beliau tidak hanya mengajar; beliau mengalirkan ruh keikhlasan dan perjuangan ke dalam dada kami.

Example 300x600

Namun, roda kehidupan santri yang saya jalani selama lebih satu tahun tiba-tiba diuji. Saya jatuh sakit. Tubuh saya melemah hingga harus pulang, rawat dan beristirahat lebih dari satu bulan di rumah. Waktu satu bulan dalam kesunyian rumah menjadi jeda panjang yang menguji fisik dan batin saya.

Ketika kesehatan saya berangsur pulih dan masa perawatan usai, tibalah saatnya untuk kembali menjejakkan kaki di pondok. Sebelum melepas saya kembali ke Tuju-Tuju, orang tua mengajak saya bersilaturrahmi terlebih dahulu ke kediaman Anre Gurutta. Kami bermaksud memohon restu dan doa agar tubuh yang baru saja sembuh ini diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.

Di dalam rumah kayu yang sederhana namun sarat berkah itu, suasana berubah haru ketika orang tua saya memohon agar Anre Gurutta berkenan mendoakan saya. Beliau menatap saya dengan pandangan matanya yang teduh, seolah membaca seluruh ketakutan, keraguan, dan potensi yang tersembunyi dalam diri seorang anak muda.

Anre Gurutta kemudian meminta saya mendekat dan duduk berlutut tepat di hadapannya.

“Bukkaki timutta, nak (Buka mulutmu, Nak),” ucap beliau lembut.

Saya mematuhi titahnya. Dengan penuh ketundukan, beliau memberikan ludahnya sebanyak tiga kali ke dalam mulut saya, lalu meminta saya menelannya. Sebuah tradisi tabarruk (mengambil keberkahan) yang dipenuhi rasa takzim mendalam. Usai momen yang menyerap seluruh keheningan ruangan itu, Anre Gurutta menatap orang tua saya dan menyampaikan sebuah kalimat yang terus bergema sepanjang hidup saya:

“Kasi masukmi kepondok, insya Allah tahanji itu.”

Kata-kata itu terasa seperti stempel takdir. Sebuah jaminan dari seorang guru bahwa saya akan bertahan menaklukkan segala ujian di pondok.

Dengan bekal titisan doa itu, saya kembali ke Tuju-Tuju. Namun, jalan hidup kerap kali dituliskan dengan alur yang tak tertebak. Waktu yang lama berpisah saat sakit bukannya melahirkan rindu untuk betah menetap, melainkan memunculkan sebuah keputusan pahit, saya memilih untuk keluar dari pondok.

Ada rasa bersalah yang sempat bersemayam sekian lama. Apakah saya gagal? Apakah saya tidak “tahan” seperti yang diucapkan Anre Gurutta?

Hari-hari berganti, tahun-tahun berlalu. Saya melangkah menempuh jalan hidup yang baru, menaiki tangga demi tangga pencapaian hingga berada di posisi hari ini. Namun, ajaibnya, setiap kali saya mendengar nama Darul Huffadh, atau setiap kali roda kendaraan membawa saya melintas dan berkunjung kembali ke Kajuara, dada ini selalu bergetar hebat. Ada ruang rindu yang begitu dalam, sebuah ruang khusus yang menampung kenangan selama lebih dari satu tahun di bawah naungan Tuju-Tuju.

Barulah setelah bertahun-tahun kemudian, di tengah berbagai pencapaian hidup saya, saya menyadari makna sejati dari doa dan tabarruk Anre Gurutta hari itu.

Mungkin saat itu saya memang keluar dari bangunan fisik pesantren. Namun, ketahanan (tahanji itu) yang ditiupkan oleh Anre Gurutta melalui tiga titisan doa dan petuah-petuahnya tidak pernah meninggalkan darah saya.

Kekuatan dari Tuju-Tuju itulah yang membuat saya tahan menempa kerasnya kehidupan, tahan menjaga prinsip ketauhidan di tengah badai dunia, dan tahan berjuang dalam dakwah hingga saat ini.

Darul Huffadh bukanlah kegagalan yang tertinggal di masa lalu, melainkan fondasi kokoh dari siapa saya hari ini. Di sana, di bawah tatapan teduh KH. Lanre Said, jiwa saya pertama kali ditempa. Dan sampai kapan pun, setiap kali rindu itu menyapa, saya tahu bahwa sebagian kecil dari diri saya akan selalu pulang ke Tuju-Tuju ke tempat di mana doa seorang guru meretas jalan takdir muridnya.

Nasharuddin, S.Pd., M.Sc
(Al-Uswah)

Darul Huffadh Tuju-tuju

#pesantrentujutuju
#darulhuffdh

Selamat Milad Pesantren 77

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *