Example 728x250
Berita

Di FKIK Unismuh, Agus Taufiqurrahman: Profesi Kesehatan adalah Amanah Kemanusiaan

13
×

Di FKIK Unismuh, Agus Taufiqurrahman: Profesi Kesehatan adalah Amanah Kemanusiaan

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar terus membekali mahasiswa baru Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) tidak hanya dengan kesiapan akademik, tetapi juga karakter, integritas, dan kesadaran akan tanggung jawab kemanusiaan sebagai calon tenaga kesehatan.

Pesan itu disampaikan dr H Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027, saat memberikan materi kepada mahasiswa baru FKIK Unismuh dalam rangkaian Learning Skill and Information Technology (LSIT) 2026, di Balai Sidang Muktamar, Kampus Unismuh Makassar, Kamis, 10 September 2026.

Example 300x600

Agus merupakan dokter spesialis neurologi lulusan Universitas Gadjah Mada. Selain menjadi Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi pembinaan kesehatan umum, kesejahteraan sosial, dan resiliensi bencana, ia juga merupakan anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) RI periode 2024–2029, anggota Majelis Wali Amanah UGM, serta dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia.

Di hadapan ratusan mahasiswa baru dari berbagai program studi rumpun kesehatan, Agus menegaskan bahwa dokter, perawat, bidan, apoteker, dan profesi kesehatan lainnya pada hakikatnya merupakan pelayan kesehatan.

Karena peserta berasal dari berbagai program studi, ia bahkan mengubah pendekatan materinya. Pesan yang semula lebih berfokus pada profesi dokter diperluas untuk seluruh calon profesional kesehatan.

Memulai Perjalanan Memegang Kehidupan Manusia

Agus mengingatkan mahasiswa baru bahwa memasuki FKIK bukan sekadar memulai perkuliahan. Mereka sedang memasuki perjalanan panjang untuk suatu hari dipercaya menangani kehidupan manusia.

“Hari ini bukan sekadar memulai kuliah, tetapi sedang memulai perjalanan panjang untuk suatu hari dipercaya memegang kehidupan manusia orang banyak,” ujarnya.

Ia memberi contoh, seorang farmasis memiliki tanggung jawab memastikan obat disiapkan dengan benar. Perawat memegang peranan penting dalam proses perawatan pasien, bidan membantu proses kelahiran, sedangkan dokter dituntut mampu menegakkan diagnosis secara tepat.

Karena itu, setiap profesi kesehatan, kata Agus, membawa amanah yang jauh lebih besar daripada sekadar gelar akademik.

Ia meminta mahasiswa sejak awal memahami makna di balik panggilan profesi seperti “dok”, “sus”, atau “bu bidan”.

“Di balik panggilan itu sesungguhnya ada amanah dari orang yang memanggil terhadap nasib dirinya,” katanya.

Profesional Bukan Hanya Soal Pintar

Agus kemudian menekankan bahwa kompetensi akademik saja tidak cukup untuk membentuk tenaga kesehatan profesional.

Menurutnya, profesionalisme merupakan perpaduan antara penguasaan ilmu, keterampilan, serta moral dan etika.

“Profesional artinya ilmunya hebat, keterampilannya hebat, moral etikanya juga hebat. Itulah petugas kesehatan yang profesional,” tegasnya.

Ia mengingatkan mahasiswa untuk membangun integritas sejak masih berada di bangku kuliah. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang, menurut dia, akan berkembang menjadi karakter.

Karena itu, ia mencontohkan kejujuran dalam pencatatan data sebagai salah satu kebiasaan yang harus dijaga.

“Data pun jangan dimanipulasi. Harus menjadi dokter yang berintegritas. Kebiasaan kecil yang diulang-ulang setiap hari nanti akan menjadi karakter,” pesannya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengejar indeks prestasi.

Dalam salah satu bagian materinya, Agus menunjukkan sejumlah hasil survei mengenai karakter lulusan yang disukai dunia kerja. Ia menekankan bahwa kemampuan akademik tetap penting, tetapi karakter dan keterampilan lunak menjadi pembeda ketika seseorang memasuki dunia profesional.

“IP-nya bagus, karakternya bagus. Itu yang paling hebat,” ujarnya.

Jangan Sibuk Membandingkan Diri

Agus juga menyampaikan pesan tentang ketangguhan belajar. Mahasiswa tidak perlu terus-menerus membandingkan kemampuannya dengan orang lain.

Ada mahasiswa yang cukup sekali membaca untuk memahami materi, tetapi ada pula yang membutuhkan beberapa kali pengulangan. Hal tersebut, menurut dia, merupakan bagian dari proses belajar masing-masing.

“Jangan berlomba membandingkan dengan orang lain. Kita sudah hebat kalau bisa membandingkan diri kita dengan hari kemarin dan hari ini sudah lebih baik,” katanya.

Kegagalan juga tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti. Agus meminta mahasiswa menjadikan kegagalan sebagai umpan balik, apakah persiapannya kurang, metode belajarnya belum tepat, atau pengelolaan waktunya perlu diperbaiki.

“Kalau pernah gagal, bikinlah feedback yang baik. Jangan-jangan persiapannya kurang, belajarnya salah, atau tidak mengelola waktu dengan baik. Gagal itu sakit, tetapi tetap bangkit. Jangan putus asa,” ujarnya.

Tiga Bekal Selama Kuliah

Agus kemudian memberikan tiga pesan yang menurutnya penting dibiasakan mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Pertama, mahasiswa Muslim perlu tertib dalam beribadah. Kedua, mereka harus tertib belajar, memiliki target, dan mampu menentukan prioritas.

Ketiga, mahasiswa perlu mengembangkan kepemimpinan melalui kegiatan organisasi.

Menurut Agus, profesional kesehatan juga dituntut mampu menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Karena itu, organisasi mahasiswa dapat menjadi laboratorium untuk belajar mengatur waktu, bekerja sama, menentukan prioritas, dan mengambil tanggung jawab.

Ia mendorong mahasiswa aktif dalam organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, lembaga kemahasiswaan, lembaga pers, lembaga penelitian, maupun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

“Asah kepemimpinan itu dengan belajar di organisasi. Justru ketika di organisasi, kita akan melatih kemampuan mengelola waktu dan mengatur skala prioritas,” katanya.

Kuliah sebagai Ibadah

Sebagai kader Muhammadiyah yang lama bergerak dalam bidang kesehatan, Agus juga menekankan kekhasan pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah, yakni integrasi keilmuan dengan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Ia meminta mahasiswa memaknai perjalanan ke kampus sebagai bagian dari ibadah dan proses menuntut ilmu.

“Prodi apa pun, kalau ke kampus itu diniati sebagai ibadah, bukan yang lain,” pesannya.

Semangat yang sama, menurut dia, kelak harus dibawa ketika mahasiswa telah menjadi tenaga kesehatan.

Profesi kesehatan menawarkan kesempatan luas untuk melakukan kebaikan karena setiap tindakan yang tepat dapat berkontribusi menyelamatkan kehidupan.

“Besok kalau sudah lulus, jadi apoteker, perawat, farmasis, bidan, tolong niati semuanya itu sebagai ibadah,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar orientasi pelayanan kesehatan tidak semata-mata bersifat komersial.

“Profesi ini pahalanya sangat besar, maka niati ibadah. Jangan terlalu komersial. Yakin ketika kita bekerja dengan benar, rezeki tidak akan tertukar,” katanya.

Layani Semua tanpa Membedakan

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa menanyakan bagaimana tenaga kesehatan Muslim dapat membawa nilai Islam ketika harus melayani masyarakat yang berbeda agama.

Agus menjawab bahwa nilai Islam justru harus tampak melalui pelayanan yang membawa rahmat bagi siapa pun.

“Harusnya yang bisa merasakan indahnya Islam itu siapa pun, tidak hanya orang Islam. Kita harus menampilkan Islam yang indah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa tenaga kesehatan Muslim harus melayani pasien tanpa membedakan agama, suku, ras, maupun golongan.

Agus mengingatkan sejarah pelayanan kesehatan Muhammadiyah yang sejak awal membawa semangat menolong kesengsaraan umum.

“Kesehatan bagian yang tidak bisa dipisahkan berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan. Maka layani semua dengan santun,” ujarnya.

Bahkan keramahan sederhana kepada pasien, menurut dia, merupakan bagian dari nilai pelayanan.

Jadi Kebanggaan Orang Tua

Menjelang akhir materi, Agus mengajak mahasiswa membayangkan suatu hari kembali berada di ruangan yang sama bukan sebagai mahasiswa baru, melainkan sebagai wisudawan.

Ia mengingatkan bahwa di balik keberhasilan seorang mahasiswa terdapat pengorbanan dan doa orang tua yang sering tidak terlihat.

“Mari niati sejak semester satu, saya ingin mewujudkan apa yang diinginkan oleh orang tua,” katanya.

Agus berharap mahasiswa dapat menjalani proses pendidikan dengan baik hingga kelak menjadi kebanggaan keluarga.

“Kalau kita sudah menjadi kebanggaan orang tua, sesungguhnya saat itulah kita telah berbakti dengan baik,” ujarnya.

Ia menutup materinya dengan mengajak mahasiswa meneriakkan semangat, “Unismuh Unggul, Unismuh Islami, Unismuh Luar Biasa.” Ia berharap beberapa tahun mendatang para mahasiswa kembali bertemu dalam suasana berbeda, yakni ketika menyelesaikan pendidikan dan mengikuti wisuda.

Pembekalan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4, Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kompetensi, karakter, dan kepemimpinan mahasiswa. Dalam konteks pendidikan tenaga kesehatan, materi tersebut juga mendukung SDGs 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui pembentukan calon profesional kesehatan yang kompeten, berintegritas, humanis, serta mampu memberikan pelayanan tanpa diskriminasi.

Kontributor: Arinal Hidayah
Editor: Hadisaputra

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *