Porosmaju.com, Makassar — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mencatat kenaikan peringkat dalam UI GreenMetric World University Rankings 2026. Kampus ini menempati posisi 502 dunia, naik 122 tingkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di peringkat 624.
Di tingkat Asia, Unismuh berada di peringkat 291, meningkat 68 posisi dari peringkat 359 pada 2025. Sementara secara nasional, peringkatnya bergerak dari posisi 62 menjadi 61 Indonesia. Data UI GreenMetric 2026 mencatat Unismuh memperoleh total skor 7.012,5.
UI GreenMetric 2026 diikuti 2.016 institusi dari 110 negara. Jumlah peserta meningkat dibandingkan dengan 2025 yang diikuti 1.745 institusi dari 105 negara. Pemeringkatan ini mengukur kinerja keberlanjutan perguruan tinggi melalui sejumlah indikator pengelolaan kampus.
Ketua Unismuh Global Excellence Center (UGEC), Prof Hartono Bancong, mengatakan, agenda kampus hijau tidak semestinya dipahami sebatas penataan lingkungan fisik. Keberlanjutan, menurut dia, harus masuk ke dalam tata kelola universitas.
“Bagi Unismuh, kampus hijau bukan hanya soal menanam pohon atau memperindah halaman. Ini adalah cara berpikir, cara mengelola, dan cara memastikan kampus menjadi ruang belajar yang sehat, inklusif, aman, serta berdaya saing global,” kata Hartono, saat dikonfirmasi Jumat, 25 September 2026.
Skor Unismuh
Dalam tujuh indikator UI GreenMetric 2026, Unismuh memperoleh skor 925 untuk Setting and Infrastructure, 1.425 untuk Energy and Climate Change, 875 untuk Waste, 750 untuk Water, 1.087,5 untuk Transportation, 1.112,5 untuk Education and Research, serta 837,5 untuk Governance and Digitalization. Totalnya mencapai 7.012,5.
Angka total tersebut perlu dibaca dengan hati-hati bila dibandingkan langsung dengan skor 2025. Tahun lalu UI GreenMetric menggunakan enam kelompok indikator, sedangkan pada 2026 terdapat indikator Governance and Digitalization. Karena itu, perubahan posisi peringkat memberi gambaran perbandingan yang lebih sederhana daripada sekadar membandingkan total skor kedua tahun.
Pada 2025, Unismuh memperoleh skor 6.445 dengan posisi 624 dunia, 359 Asia, dan 62 Indonesia. Salah satu pencapaian paling menonjol ketika itu terdapat pada indikator Setting and Infrastructure, dengan skor 1.425 yang membawa Unismuh ke peringkat 20 dunia dan peringkat 4 Indonesia untuk kategori tersebut.
Wakil Rektor IV Unismuh Dr Burhanuddin mengatakan, pemeringkatan internasional menuntut perguruan tinggi tidak hanya menjalankan program, tetapi juga memastikan hasilnya dapat dibuktikan melalui data.
“Subkategori ruang terbuka dan infrastruktur hijau menjadi fondasi. Dari sana, indikator lain seperti energi, pengelolaan limbah, air, dan transportasi dapat berkembang secara terukur,” ujar Burhanuddin.
Ia menjelaskan, pengumpulan dan verifikasi data UI GreenMetric dilakukan secara sistematis, mulai dari data ruang terbuka hijau, kebijakan pengelolaan lingkungan, hingga integrasi isu keberlanjutan dalam pendidikan dan penelitian.
Bukan Sekadar Peringkat
Rektor Unismuh Makassar Dr Ir Abd Rakhim Nanda MT IPU sejak awal menempatkan keikutsertaan dalam UI GreenMetric sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu institusi, bukan semata mengejar posisi dalam daftar pemeringkatan.
Rakhim mengatakan perguruan tinggi perlu memiliki kredibilitas, standar, dan kepercayaan yang kuat agar lulusan mampu bersaing.
“Ada yang mengkritik bahwa perguruan tinggi terlalu sibuk mengurus ranking, tapi lupa mengurus mahasiswanya. Unismuh tidak begitu. Kita menyiapkan universitas ini agar memiliki credibility, standard, dan trust yang tinggi. Alumni kita harus mampu bersaing, bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri,” kata Rakhim.
Ia juga menekankan bahwa capaian pemeringkatan harus dibarengi dengan konsistensi peningkatan kualitas.
“Peringkat ini adalah hasil sinergi seluruh unsur kampus. Tantangannya adalah menjaga konsistensi dan meningkatkan kualitas pengelolaan agar lebih berdampak,” ujarnya.
UI GreenMetric 2026 mengangkat tema “Advancing Sustainable Campuses through Governance, Digitalization, and Integrated Performance.” Selain isu lingkungan, metodologi tahun ini turut memasukkan aspek tata kelola dan digitalisasi ke dalam penilaian keberlanjutan universitas.
















