Dia (Bukan) Dilanku Tahun 2015

Dia (Bukan) Dilanku Tahun 2015
Ilustrasi (mOntasefilm)

POROSMAJU.COM, Sejak jauh-jauh hari, tangan saya gatal ingin turut andil dalam keramaian film Dilan 1990. Atas dasar itulah, ketika kesempatan itu datang saya memberanikan diri ikut arus.
Dengan tekad yang kuat, demi tulisan yang jitu, dan dengan harapan agar tidak hanyut, malam-malam saya berangkat dengan perasaan seperti akan berkencan.
Sama seperti novel, film ini dibuka dengan narasi Milea pada Desember yang basah di Jakarta tahun 2014.
Tanpa sengaja saya berucap basmalah.
Saya takut gelap di ruangan, diikuti latar suasana yang gerimis di ruang kerja Milea yang akan bekerja sama untuk membuat saya turut merasakan drama.
“Jangan hanyut, ini berat, aku nggak akan kuat, biar Milea saja.”
Latar beberapa anak sekolah pun dihadirkan. Ada Milea di sana. Saya ramal, sebentar lagi Dilan akan muncul sambil mengendarai motor.
Setiap adegannya serasa berjalan lambat, gambaran Dilan yang ada di kepala saya terlalu cute untuk ukuran Iqbaal Ramadhan.
Karena itu, penonton yang pernah membaca novel karangan Pidi Baiq tersebut akan kehilangan sosok Dilan Sang Panglima Perang, sosok pelajar yang akan berdiri paling depan ketika tawuran.
Pun tidak akan ada yang percaya bahwa ia adalah ketua geng motor jika adegan tersebut tidak diperadakan. Jadi selama film berjalan, saya kadang lengah bahwa Iqbaal adalah Dilan di tahun 1990.
Mengingat beberapa kritik akan film ini, saya membenarkan bahwa beberapa gombalan Dilan (film) tidak segreget Dilan di teks (novel). Terutama ketika mereka bercakap-cakap via telepon.
“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang”
Ketika dialog ini berlangsung saya biasa saja tapi animo penonton yang tidak biasa memaksa saya untuk mengingat Dilan ala teks. Saya senyum, mengingat kali pertama saya jatuh cinta kepada Dilan 1990 di tahun 2015.
Di menit ke sekian, adegan Dilan menjenguk Milea yang sakit dengan membawa serta Bi Asih, seorang tukang pijit, justru bikin tersentuh. Ketika ia hendak mengantar Bi Asih pulang dengan motornya, dialog yang tercipta kurang lebih seperti ini.
“Hari ini Bi Asih dulu, nanti baru kamu.” Kemudian Milea merespons, ” Itu ramalan?”, “Itu penawaran,” jawab Iqbaal, eh Dilan.
Suatu keberhasilan ketika pembaca tidak dikhianati dengan memotong bagian-bagian yang dianggap penting. Namun ketika dirasa ada bagian yang hilang, jangan kecewa, cukup maklum.
Kalau tidak ingin kecewa, jangan menonton film yang diadaptasi dari karya sastra, yang sebelumnya sudah kalian baca.
Perbedaan yang paling terasa mungkin hanyalah tidak ditonjolkannya peran tokoh lain selain pemeran utama. Keluarga Dilan, keluarga Milea, teman-teman di sekolah, Bi Eem, dan beberapa tokoh lain yang bahkan sama sekali tidak disinggung, misal Mang Ewok. Ada pun beberapa hanya sebatas lewat saja.
Di menit-menit selanjutnya saya yakin sudah menikmati film dengan cara melepas Dilan yang selama ini saya kenal. Menjadi Dilan yang dikenal oleh banyak orang.
Bahkan sebelum film selesai saya sudah menarik kesimpulan bahwa Dilan yang baru ini memang lebih cocok untuk kebutuhan layar lebar. Sementara Dilanku di tahun 2015 hanya cocok diletakkan pada lembaran kertas.
Saya melihat Iqbaal dan bukan Dilan ketika ia menelfon Milea dan ingin mengenalkannya dengan ibu-ibu yang sedang mengantri sambil nyeletuk; “Jangan deh nanti cinta”.
Juga ketika ia menjilat materai untuk ditempelkan ke kertas di 22 Desember 1990.
Sama ketika Dilan bilang, “Aku tdk mau membuatmu cemas. Aku saja yang mencemaskanmu!”
Suatu kesyukuran, ketika saya mengenal Dilan di tahun 2015, tidak ada keributan seperti sekarang. Kalau saja iya, pasti perasaan itu akan mentah karena menolak arus.
Jangan rindu, berat, kamu nggak akan kuat, biar aku saja. 
Sebelum hari ini, kalimat pamungkas Dilan tersebut terdengar seperti kata-kata dari surga. Namun akibat keramaian, kata-kata itu perlahan kehilangan rohnya.
Tapi Dilan yang sekarang juga tidak begitu buruk. Hanya saja, yah, tidak akan ada suatu hal yang diciptakan benar-benar sama.
“Itulah Dilanku, aku sudah tidak minta apa-apa lagi!”
Dialog terakhir Milea menandai berakhirnya film. Lampu dinyalakan dan orang-orang terlihat mengantre di pintu keluar.
Sambil melihat sampah di mana-mana, saya menyadari satu hal. Saya tidak pernah ingin menjadi Milea, saya hanya ingin menjadi petugas bioskop berseragam merah yang terlihat biasa saja sampai film selesai diputar (Kartini).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *