Manifestasi Gerakan Kewirausahaan Pelajar

 Manifestasi Gerakan Kewirausahaan Pelajar

OPINI.POROSMAJU.com – Berangkat dari Indonesia yang memiliki primadona akan sumber daya alam dan strategis akan geografisnya, membuat banyak bangsa lain ingin memanfatkan dan melakukan hegemon untuk mengambil manfaat dari kekayaan alam yang dimilikim negara yang berjuluk wilayah nusantara ini. Indonesia tentu memiliki semua sumber daya alam yang semua kehidupan manusia butuhkan. Mulia dari tanahnya yang subur, lautnya yang kaya akan biotik maupun abiotik dan kawasanya sebagai sentral maritim dunia. Dan kemudia hutannya juga yang berlimpah ruah; ekosistem mahluk hidup yang beranekaragam, energy bumi yang bermacam-macam, dan keindahan alam yang sebagian dijuluki surga dunia.

Namun kenyataanya emas biru (laut) dan emas hijau (daratan) tersebut, tidak sepenuhnya dimanfaatkan anak bangsa itu sendiri, selain diakbitkan karena tidak adanya kesadaran secara kolektif yang terbangun untuk menjadi actor pengelola sehingga tetap akan menjadi penonton di negeri sendiri. Tentu dahulu terjajahnya bangsa ini, bukan cuman hanya dengan kekerasaan, namun secara halus dan perlahan pun mereka jajah mental dan mindset generasi bangsa untuk menjadi budak atau yang kemudian kita kenal dengan mental buru, sehingga paradigm kita yang terbangun sekarang menjadi seorang karyawan, yang dengan hal itu, untuk menjadi seorang pejuang wirausaha, kecil kemungkinan terbangun dan hanya sebagian jumlah kecil yang terbentuk sebagai pengusaha. Hingga pada hasilnya, bangsa ini selalu jauh dari kemandirian untuk mengelola dan memanfaatkan hasil alam yang melimpah ruah ini untuk dampak kemajuan ekonomi bangsanya sendiri.

Dari pandangan tersebut, kemudian penulis akan masuk dengan dua mental kebiasaan yang terbangun dalam kehidupan masyarakat yang tentu berpengaruh bagi setiap mindset kewirausahaan dari awal generasi kemerdekaan, hingga menuju Indonesia sebagai negara bonus demografi; Pertama, terbangunya Employee Mentalitiy atau mental karyawan. Dan yang kedua terbentuknya Entrpreneurship mentalitiy atau mental kewirausahaan.

Employee Mentalitiy (mental karyawan) Sesungguhnya sangat digemari kebanyakan generasi muda saat ini. Sehingga kalau ditanya cita-citanya, hampir 80 % akan menjawab menjadi karyawaan. Jika demikian mindset kehidupan generasi yang terbangun yang kemudian dimiliki generasi saat ini, akan membuat negara kesusahaan dalam memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakatnya, sehingga melahirkan banyak penganguran yang mengakibtkan berlambatnya pertumbuhan ekonomi akibat kurang terbangunya mindset produksi atau kebiasaan berwirausaha. Terlahirnya mindset tersebut akan memberikan dampak yang buruk bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat, karena kurangnya semangat untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang tentu tidak bisa di ciptakan para karyawan.

Entrpreneurship mentalitiy (Mental kewirausahaan). Dalam memberikan sumbangsi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat, tentu perlu untuk melahirkan dan menciptakan banyak  Entrepreneurship yang sudah tentu akan berimplikasi bagi kemajuan ekonomi dan berkurangnya angka penganguran yang dimana kebanyakan orang akan mengharpkan itu terjadi.  Kalau kita lihat data perbandingan antara pengusaha Singapura dan Indonesia, sangat jauh berbeda kalau di Singapura di angka 7% dari 5,7 juta jumlah populasi penduduknya, maka di Indonesia akan jauh tertinggal dari Singapura, karena hanya diangka 3% pengusaha Indonesia dari jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Seperti harapan pemerintah, Indonesia membutuhkan sedikitnya 4 juta wirausaha baru untuk turut mendorong penguatan struktur ekonomi. Sebab, saat ini rasio wirausaha di dalam negeri masih sekitar 3,1 persen dari total populasi penduduk.

Penanaman spirit gerakan kewirausahaan pelajar

Lebih baik kecil jadi bos dari pada gede jadi kuli. Itulah sering keluar dari mulut ayah saya, sejak saya masih berumur belasan tahun . Bukan tanpa dasar mengucapkan kata-kata itu. Ayah saya merasa menyesal melakukan kesalahan untuk tidak menjadi pengusaha sejak dini. “Jangan ulangi kesalahan papah, lebih baik kecil jadi bos, daripada gede jadi kuli! Kuli kerja, dapat makan, kuli nggak kerja, nggak dapat makan! Kalau bos, nggak kerja pun dapat makan”(Jaya Setiabudi; Pengusaha Muda). Itulah ungkapan yang sungguh penuh makna, yang kemudian bisa  direfleksikan untuk menata dan mempersiapkan masa depan yang penuh dengan semangat kemandirian.

Pelajar atau bisa kita sebut Generasi Z dan G-Alfa, tentu menjadi garda terdepan dalam menentukan nasib ekonomi bangsa ini, apalagi menurut para pakar ekonomi bahwa diprediksikan Indonesia akan menjadi negara ekonomi terkuat ke-4 di 2050 yang akan datang. Hal tersebut memberikan harapan baik, untuk kemajuan dan kesejahteraan ekonomi bangsa. Namun harapan tersebut terjadi jika kesadaran kewirausahaan yang termanifestasi dalam keseharian generasi saat ini.

Begitu banyak kelompok, organisasi, dan komunitas pelajar yang terbangun begitu massif pergerakanya dalam pemberdayaan masyarakat. Bahkan, ada banyak organisasi pelajar yang hirarkis strukturlnya, sebagai contoh misalkan; Organisasi poros pelajar seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU),  Ikatan Pelajar Persis (IPP), Ikatan Pelajar Persis Putri (IPPI),  Ikatan Pelajar Nahdatul Wathan dan Pelajar Islam Indonesia (PII). Tentu masih banyak organisasi dan komunitas kepelajaran lainnya yang tentu memiliki peran yang sama untuk hadir memberikan pemberdayaan kepada pelajar secara kolektif dalam menjawab persoalan bangsa, salah satunya melakukan manifestasi kesadaran dalam melahirkan para pejuang kewirausahaan dikalangan generasi muda saat ini. Sudah saatnya organisasi dan komunitas pelajar (anak muda) melakukan revolusi mindset untuk membangun mental kewirausahaan secara massif, agar terwujud bangsa yang berdikari (berdiri di kaki sendiri) dalam memanfaatkan potensi dan sumber daya alam secara mandiri. Masih sangat sedikit sumbangsi anak muda untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi dikarenakan jumlah pengusaha Indonesia belum mencapai angka yang diharapkan. Oleh karena itu, masih banyak diperlukan anak muda yang berani mengambil peran untuk memajukan perekonomian bangsa melalui pembaharuan paradigma generasi, melalui pemberdayaan, pelatihan, dan mengubah kebiasaan hidup dengan merekonstruksi lagi pola hidup generasi menuju generasi semangat akan berwirausaha.

Sangat diharapkan akan ada, dan banyak generasi yang belajar dan bercermin dari banyak anak muda yang sekarang sangat terbukti memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat saat ini. Misalkan saja seperti Mas Nadiem Makarim dengan gojeknya, Imam Usman dan Belva Devara dengan ruang gurunya, Achmad Zaky dengan bukalapaknya, William Tanuwijaya dengan tokopedianya dan tentu masih banyak lagi anak muda lainnya yang perlu kita jadikan sebagai panutan untuk melahirkan pengusaha-pengusaha muda lainnya yang lebih banyak lagi untuk memberikan kontribusi lebih, dalam mencapai negara yang sejahtera yang kuat tampa dibanjiri dengan para pengangguran.

Pemberdayaan Wirausaha Pelajar

Untuk mewujudkan generasi yang terbangun mindset kewirausahaan, sangat penting diberikan ruang-ruang praktek dan pendampingan secara berkelanjutan yang kemudian menampung banyak ide-ide baru dari seluruh karya anak bangsa, untuk diberikan kesempatan dalam mengembangkan dan melahirkan produk kreatif dan Inovatif untuk menjadi perusahaan yang kemudian bernilai untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Hadirnya pergerakan organisasi dan komunitas atau poros pelajar sangat dibutukan dalam memperkuat dan mendorong pemberdayaan dalam membangun mental kewirausahaan ditingakat pelajar baik melalui kultural maupun structural yang terbangun. Dengan banyaknya basisi masa organisasi kepemudaan tersebut, ada baiknya perlu melakukan rekonstruksi pergerakan kemandirian yang lebih khusus untuk memajukan bidang wirausaha. Jika dalam mereformasi agenda pergerkan dalam bidang kewirausahaan tentu diharuskan untuk melakukan agenda aksi yang dimana bisa menciptakan ruang-ruang laboratorium kewirausahaan yang kreatif dan inovatif, untuk membangun dan memberikan kesempatan yang lebih luas dan penuh untuk melahirkan para pengusaha muda yang otentik.

Penulis : Irpan Kastella

Related post