Mengenang Talaq Salapang, Jalan?

 Mengenang Talaq Salapang, Jalan?

Mengenang Tala'Salapang, Jalan?POROSMAJU.COM- Jika kita menelusuri jalan provinsi, 7 kilometer arah selatan kota Makassar, pada sisi sebelah kiri jalan Sultan Alauddin (dahulu jalan Gowa Raya), tepat di simpang masuk ke wilayah Minasaupa, Kelurahan Mangngasa, Kecamatan Tamalate, akan ditemukan jajaran sembilan pohon Talaq (lontar) menjadi saksi zaman.
Sebelum perluasan wilayah Kota Makassar pada 1970-an, di situlah batas antara kota Makassar dengan Kabupaten Gowa.
Menurut catatan kumpulan tulisan Makassar Doeloe Makassar Kini Makassar Nanti (2000) yang diterbitkan oleh Yayasan Losari Makassar, tidak ditemukan data asli atau catatan otentik atas pohon Talaq yang dalam bahasa latin disebut Borassus Flabellifer, sebangsa plantea dari keluarga Arecaceae.
Talaq termasuk jenis pinang, kelapa, atau pun palem. Konon, awalnya, tanaman berakar serabut tersebut dibawa oleh para saudagar India ke Asia.
Ada pula cerita yang mengisahkan bahwa pohon Tala adalah simbol dari Kasuwiyang Salapang (sembilan buah negeri kerajaan kecil di bawah Laqlang Kerajaan Gowa). Setiap negeri dipimpin oleh seorang Gallarang.
Tersebutlah Gallarang Mangngasa, Gallarang Tombolo, Gallarang Samata, Gallarang Moncong Loe, Gallarang Paccelekang, Gallarang Agang Nionjo, Gallarang Bonto Biraeng, dan Gallarang Data.
Para Gallarang mendapat julukan Bate Salapang (bate memiliki pengertian sebagai bendera, lambang, atau simbol). Tentang kaitan Kasuwiyang Salapang dengan Tala’ Salapang dibantah oleh Djamaluddin Azis, dari Taman Budaya Sulawesi Selatan.
Dahulu, menurut cerita yang dituturkan oleh orang-orang tua, di bawah pohon Tala’ tersebut, pada salah satu tanah di ketinggian yang ada di situ, dibuat semacam panggung seluas 6×6 meter persegi yang dipagari kain kaci putih.
Menjadi arena aqlotteng/assaung (adu keterampilan dan kekuatan, berkelahi ala gladiator). Lelaki jagoan masing-masing datang dari wilayahnya adu kekuatan di sana.
Bahkan, katanya, Bulaenna Parangia dari Selayar pernah assaung (bertarung)  di tempat tersebut. Begitulah hingga keberadaan Tala Salapang jadi terkenal.
Entah mengapa tahun-tahun sesudahnya dianggap keramat. Sehingga kaum hawa selalu menghindari lewat tempat itu.
Di akhir abad XX, riwayat sembilan pohon Tala itu tinggallah menjadi catatan kesedihan. Sekelilingnya berdiri bangunan permanen. Ada perkotaan, termasuk berdirinya kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh).
 
 

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *