POROSMAJU-JAKARTA, Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah menyerahkan nama untuk pengganti Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ke Dewan Perkawilan Rakyat (DPR) RI.
Usulan nama ini melalui surat rekomendasi yang diserahkan Menteri Sekretaris Negera Pratikno kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon, pagi ini Senin 4 Desember 2017. Fadli pun membenarkan hal itu.
“Tadi pagi saya menerima Mensesneg Prof. Pratikno yang menyampaikan surat dari Presiden tentang rencana pemberhentian dengan hormat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan juga rencana untuk pengangkatan atau pergantian kepada Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI yang baru,” jelas Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin 4 Desember 2017 sebagaimana dilansir dalam okozone.news.
Lebih lanjut, sebagaimana dilansir Kompas.com, pihak istana berharap agar rekomendasi tersebut segera dibahas. Sesuai mekanisme, surat akan terlebih dahulu dibahas dalam rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR RI untuk mengagendakan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) oleh Komisi I DPR RI.
Fadli berharap proses tersebut dapat diselesaikan sebelum DPR memasuki masa reses pada 13 Desember 2017 mendatang.
Sementara itu, pihak istana mengonfirmasi bahwa perekomendasian Hadi Tjahjanto karena dianggap mampu memimpin TNI.
“Marsekal Hadi dianggap mampu dan cakap, serta memenuhi syarat menjadi Panglima TNI sesuai dengan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI,” ujar Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi Saptopribowo, sebagaimana dilansir dalam Kompas.com Senin, 4 Desember 2017.
Munculnya nama Hadi Tjahjanto merupakan hal menarik. Sebelum mengerucut kepada pemilihan Hadi Tjahjanto, nama yang sempat mencuat, yaitu Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Ade Supandi. Tidak ada calon dari TNI AD.
Hal yang patut diduga sebagai alasan absennya nama petinggi TNI AD dalam daftar calon panglima di antaranya, karena dua panglima sebelumnya adalah TNI AD. Selain itu, patut pula diduga, TNI, di bawah kepemimpinan Gatot Nurmantyo, seorang angkatan darat, sempat diterpa kabar tidak sedap.
Kabar tersebut mulai dari “blunder” Gatot persoalan pembelian senjata, manuver politik, serta isu kudeta sebagaimana yang pernah dilaporkan dalam investigasi Alan Nairn. Tulisan Alan pernah dimuat dalam tirto.id yang kemudian menghasilkan berbagai reaksi termasuk dari pihak TNI.
Hasil investigasi Allan Nairn dengan judul “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President” pertama kali dimuat di situs The Intercept. Tulisan itu kemudian diterjemahkan dan ditampilkan di situs berbahasa Indonesia, Tirto.id, dengan seizin Nairn.
Allan Nairn merupakan jurnalis investigasi asal Amerika yang pernah meliput seputar konflik Timor Timur. Tulisan-tulisan Allan Nairn berfokus pada kebijakan-kebijakan Amerika Serikat di negara-negara seperti Haiti, Guetamala, Indonesia, dan Timor Timur.
Dalam laporan tersebut, dijelaskan Alan, bahwa saat ia menulis laporannya, ada wacana kudeta terhadap pemerintahan dengan memanfaatkan isu agama. Lebih lanjut, Alan menilai bahwa saat ini ada dua poros utama kekuatan politik di Indonesia.
Kedua poros tersebut masing-masing memiliki memiliki tokoh-tokoh “militer”. Di pihak Jokowi, ada nama Wiranto dan A.M. Hendropriyono. Kubu yang lain ada nama seperti Kivlan Zen dan Gatot Nurmantyo.
Pihak TNI merespons laporan tersebut dengan mengungkapkan bahwa hasil investigasi Alan Nairn merupakan hoax.
“Jadi, mengenai tulisan Allan Nairn, saya menyatakan yang berkaitan dengan TNI itu hoax,” kata Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto dalam perbincangan sebagaimana dilansir dalam detik.com.
Presiden Jokowi menanggapi isu tersebut dengan sangat diplomatis. Jokowi tidak memberikan jawaban yang kongkret. Saat itu, Jokowi hanya meminta untuk menanyakan langsung persoalan tersebut ke pihak TNI.
Isu yang berkaitan tentang Gatot tampaknya menjadi salah satu irisan alasan Jokowi kemudian memilih Hadi Tjahjanto dari Angkatan Udara sebagai calon Panglima TNI selanjutnya.
Banyaknya “polemik” dari Gatot dan TNI AD sepertinya mengharuskan Jokowi harus memilih Panglima TNI yang secara pribadi dekat dengan beliau. Ini karena pada tahun 2015, Hadi sempat menjabat Sekretaris Militer Presiden hingga 2016.
Manuver-manuver Gatot jelas meresahkan pihak Jokowi, bahkan kini Sang Jenderal mencuat sebagai salah satu penantang serius Jokowi pada Pilpres 2019. Hal ini bukan hanya isu belaka, sebagaimana yang dilansir dalam survei Indobarometer, bahwa nama Gatot merupakan salah satu nama yang mencuat selain nama-nama lawas seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono dalam Pilpres 2019.
Wacana Pergantian Panglima TNI, Jokowi Pilih AU, TNI AD Tidak Ada
Admin4 min read