Example 728x250
Berkhas

Pergeseran Nilai-nilai dan Leburnya Budaya Tinggi-Rendah

6
×

Pergeseran Nilai-nilai dan Leburnya Budaya Tinggi-Rendah

Share this article
Example 468x60

Pergeseran Nilai-nilai dan Leburnya Budaya Tinggi-Rendah
Ilustrasi penentuan hari baik (myrepro.com)

POROSMAJU.COM, Istilah hari baik mungkin tidaklah asing di telinga modern kita. Masyarakat di berbagai peradaban bahkan masih menjadikan hari baik sebagai pedoman dalam setiap aktivitas.
Masyarakat Makassar percaya bahwa ada waktu yang dianggap baik atau tidak baik untuk suatu aktivitas, seperti melangsungkan pernikahan, melakukan perjalanan, atau mendirikan rumah.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kepercayaan lama itu pun perlahan bergeser. Tajuddin Mainin dalam “Nelayan Makassar – Kepercayaan, Karakter (2002)” menyebutkan, setidaknya ada tiga faktor penyebab kepercayaan tersebut luntur.
Pertama, faktor pendidikan. Orang-orang yang tergolong berpendidikan lebih tinggi sudah berpandangan lain terhadap waktu. Persepsi mereka berdasarkan akal dan rasio, tidak lagi menekankan pada aspek batin, imajinasi, dan perasaan.
Kedua, faktor kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi menambah cakrawala berpikir atau wawasan sebagian anggota masyarakat sehingga hal-hal yang bersifat imajiner, perasaan, dan mistik secara perlahan-lahan mulai memudar di kalangan anggota masyarakat.
Ketiga, faktor tunaaksara lontara. Peminat naskah lontara, lebih-lebih di kalangan generasi muda, hampir dapat dikatakan tidak ada lagi.
Sementara itu, pengetahuan-pengetahuan akan tradisi-tradisi leluhur diperoleh dari naskah lontara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa waktu menggiring perubahan, dan perubahan melahirkan kebaruan.
Saat ini kita berada pada era media menjadi representasi keseharian. Media menampilkan sesuatu yang bersifat komoditas untuk dikonsumsi bersama-sama.
Dari sanalah spontanitas tanpa basa-basi lahir, yang dipercaya sebagai awal lahirnya budaya rendah. Lalu, bagaimana peran media massa dalam melahirkan budaya massa?
Berbicara mengenai budaya massa, dapat berangkat dari pemilahan Leavis dan Arnold antara yang baik dan buruk, yang tinggi dan yang rendah, terpusat pada persoalan tentang kualitas estetis (Barker, 2005).
Ini berarti membandingkan antara budaya tinggi (high culture) dan budaya rakyat (folk culture) dengan budaya rendah (low culture).
Budaya tinggi dikenal sebagai budaya elite yang mengagungkan nilai-nilai yang bersumber dari pemikiran kaum pelajar. Sedangkan budaya rakyat (folk culture) lahir dari pemikiran yang luhur tradisi masyarakat terdahulu dan diturunkan secara turun-temurun.
Budaya massa yang dalam istilah inggris disebut mass culture awalnya berasal dari bahasa Jerman ‘masse‘ dan ‘kultur‘, yang mengandung nada mengejek atau merendahkan.
Ini berarti istilah budaya massa identik dengan lawan kata dari istilah budaya tinggi (high culture) atau budaya elite.
Bergantinya masa tentu takbisa disalahkan. Saat ini, mengacu pada cultural studies, membahas budaya berarti membahas persoalan sehari-hari yang sifatnya remeh-temeh. Budaya tinggi-rendah mulai tersamarkan.
Tradisi leluhur, kesopanan budaya timur, serta bentuk-bentuk identitas yang dimaknai tradisional terewajantahkan oleh produk-produk media massa.
Lawakan yang bersifat menghina, artis tanpa prestasi dengan segudang kontroversi, kebiasaan-kebiasaan impor, dan fenomena-fenomena kebaruan lainnya menggenangi kebiasaan lama.
Perlahan membanjiri, tak lama kemudian menenggelamkan (Kartini).
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *