Example 728x250
Berkhas

Ditinjau dari Sisi Sains Interkoneksi, Korupsi Itu Ternyata “Seksi”, Ini Buktinya!

8
×

Ditinjau dari Sisi Sains Interkoneksi, Korupsi Itu Ternyata “Seksi”, Ini Buktinya!

Share this article
Example 468x60
Ditinjau dari Sisi Sains Interkoneksi, Korupsi Itu Ternyata “Seksi”, Ini Buktinya!
Ilustrasi (dailytrust.com)

POROSMAJU.COM, Korupsi itu menarik dan seksi. Terlebih bila dipahami dari sisi multi-lintasdisiplin keilmuan yang terintegrasi. Akar korupsi multifaktorial. Pendekatan religiospiritualitas sebagai solusi fundamental. Diperlukan pula sinergi-kolaborasi lintas-sektoral.

Korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan-kewenangan publik-resmi demi keuntungan pribadi. Korupsi memiliki pola. Menurut Pusat Pencegahan Kriminal Internasional [CICP], pola umum korupsi berupa penyuapan, penyalahgunaan wewenang, penggelapan, pemalsuan, nepotisme, sumbangan ilegal, pemberian komisi, pemerasan, pilih-kasih, dan bisnis keluarga [keterlibatan orang dalam].
Korupsi secara umum dipengaruhi oleh multifaktorial, seperti sejarah, budaya, geografi, gender, nilai-nilai, desentralisasi sistem voting, bentuk demokrasi, struktur pemerintahan, kurangnya kompetisi ekonomi, kualitas regulasi, ukuran sektor publik.
Korupsi menggurita di semua sektor dan di segala lini kehidupan. Salah satunya kesehatan. Selain penyalahgunaan anggaran untuk pengadaan alat kesehatan, dijumpai pula malpraktik medis.
Di negara-negara maju, malpraktik medis seringkali akibat misdiagnosis, kesalahan teknis saat pembedahan, pelayanan yang tidak sesuai prosedur atau tidak patut, munculnya efek samping yang merugikan pasien akibat alergi obat, ketiadaan informed consent yang tepat, supervisi yang tak sesuai, ketidakharmonisan pola komunikasi dokter-pasien.
Data Fakta
Sejak 2013-2015, Indonesia masuk lima negara terkorup di dunia. Tahun 2013 Indonesia ada di posisi ke-114 dari 175 negara. Tahun 2014, Indonesia ada di posisi ke-107 dari 174 negara. Tahun 2015, Indonesia ada di posisi ke-88 dari 167 negara.
Ironisnya, CPI menguatkan hal ini. Corruption Perception Index (CPI) adalah indikator global untuk menilai persepsi korupsi oleh pejabat negara dan politisi di sektor publik. Tahun 2015, CPI Indonesia ada di posisi 117 dari 175 negara. Akhir 2014, skor Indonesia 34 dari skala 0-100. Nilai 0 berarti sangat korup, sedangkan 100 sangat bersih.
Lima negara dengan CPI tertinggi: Denmark [92], Selandia Baru [91], Finlandia [89], Swedia [87], Swiss [86].
Dampak
Korupsi ibarat penyakit. Bila telah masif-kronis, tentu berdampak sistemik. Dampak korupsi kronis berupa rusaknya sistem tatanan masyarakat, perekonomian lesu, ekonomi biaya tinggi, sulit melakukan efisiensi, kemiskinan meningkat, kriminalitas tinggi, muncul beragam problematika sosial di masyarakat, demoralisasi, kehancuran birokrasi, suramnya masa depan demokrasi, runtuhnya supremasi hukum, penderitaan masyarakat di semua sektor kehidupan [kesehatan, ekonomi, administrasi, politik, hukum, pemerintahan], menurunnya kepercayaan publik kepada pemerintah, sehingga kontraproduktif terhadap pembangunan.
Multiperspektif
Berdasarkan perspektif filsafat, akar korupsi bermula dari merajalelanya nafsu duniawi, ambisi untuk berkuasa dan mengeksploitasi, sisi hewani mendominasi, kemalasan-ketidakberpikiran insani, nafsu hedonisme abadi, kekosongan nurani ruhani.
Penyebab utama korupsi diklasifikasikan menjadi penyebab eksternal dan internal. Penyebab eksternal berupa lemahnya penegakan hukum, korupsi di kalangan internal penegak hukum, biaya politik tinggi, sistem politik berjalan menyimpang, sistem birokrasi permisif dan tak efisien, rendahnya upah-gaji, norma sosial permisif terhadap korupsi, didukung sistem ekonomi liberalisme-kapitalisme, budaya hedonisme, dsb.
Penyebab internal lebih berupa problematika psikologis, berupa motif, kepribadian, persepsi [tentang korupsi, penegakan hukum, norma sosial, pemimpin], lokus kontrol. Korupsi dipengaruhi profil kepribadian tertentu.
Koruptor umumnya bertipe kepribadian dengan traits agreeableness dan conscientiousness tinggi, namun keterbukaan relatif rendah. Skor neuroticism-nya sedang.
Kriminal, termasuk korupsi, dapat dianalisis dengan segitiga fraud Cressey, yang terdiri dari elemen tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Integrasi ketiganya berpotensi terjadi korupsi.
Korupsi dapat ditinjau dari perspektif neurosains.
Kerusakan otak di area ventromedial prefrontal cortex (vmPFC) berakibat gangguan pengambilan keputusan [salah satunya terkait investasi finansial berisiko tinggi], kegagalan untuk belajar dari kesalahan yang berulang, gangguan pertimbangan-penilaian moral. Semua perilaku ini merupakan karakteristik individu dengan trait psikopat, termasuk mereka yang berperilaku tak terpuji dan melakukan korupsi.
Lesi vmPFC berakibat berkurangnya empati-simpati, tidak bertanggung-jawab, perilaku sosial menyimpang, gagal merencanakan secara matang, tidak ada rasa bersalah. Defisit vmPFC berdampak terhadap regulasi emosi.
Aktivasi amigdala berpotensi menjadi solusi. Misalnya dengan mendengar, melihat, berpikir, berbicara, berperilaku positif, berinteraksi dengan budaya-lingkungan kondusif, dilakukan secara berkesinambungan. Amigdala berperan di dalam emosi, termasuk takut, marah, senang. Sel-sel di amigdala menerima informasi dari sirkuit nyeri, penglihatan, dan pendengaran.
Dari perspektif spiritualitas-religi, terapi sufi [pensucian jiwa dengan zikir-doa] berbasis psikologi Islam dan tasawuf memberikan alternatif untuk mengatasi korupsi. Paradigma berbasis religiospiritualitas inilah yang merupakan upaya solutif sebagai tindakan pencegahan sekaligus pemberantasan korupsi dari muka bumi (dr. Dito Anurogo, M.Sc.).
Tentang Penulis:
Dokter Dito Anurogo M,Sc., dosen FK Unismuh Makassar, dokter digital/online, pegiat riset dan literasi, pernah aktif di FLAC [Future Leader for Anti Corruption] dan SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi), penulis 20 buku, alumnus S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta, email: ditoanurogo[at]gmail[dot]com

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *