Example 728x250
Berkhas

Ini Penjelasan Neurosains Mengapa Seseorang Bisa Jadi Hiperseks

9
×

Ini Penjelasan Neurosains Mengapa Seseorang Bisa Jadi Hiperseks

Share this article
Example 468x60

Ini Penjelasan Neurosains Mengapa Seseorang Bisa Jadi Hiperseks
http://www.helpingmen.co.uk/2013/01/is-mens-help-seeking-behaviour-question.html

POROSMAJU.COM-Sebagian orang beranggapan kalau hiperseksual itu melulu masalah kriminalitas. Neurosains membuktikan bahwa hiperseksual terkait erat dengan abnormalitas.
Hiperseksual atau hiperseksualitas memiliki nama lain perilaku seksual kompulsif, ketagihan, atau kecanduan seks. Sebagian ahli ada yang menyarankan istilah Don Juan atau satyriasis untuk menyebut hiperseksualitas pada pria, dan nimfomania sebagai sinonim dari hiperseksualitas pada perempuan. Mengingat belum adanya kriteria diagnosis yang valid serta keterbatasan riset, hiperseksual tidak tercantum dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition).
Kinsey memperkenalkan konsep pelampiasan seksual (sexual outlet, SO) untuk menilai hiperseksual, dengan menghitung jumlah total orgasme dalam seminggu. Kafka (1997) mengarakterisasi hiperseksual lebih dari tujuh kali SO per minggunya.
Epidemiologi
Menurut studi epidemiologi, onset usia hiperseksual diperkirakan 18,7 tahun pada pria yang aktif secara seksual, dengan rerata durasi 12,3 tahun. Penderita hiperseksual ini umumnya berkonsultasi ke dokter untuk meminta terapi rata-rata pada usia 37 tahun. Pria lima kali lebih rentan mengalami hiperseksual dibandingkan perempuan. Lazimnya, hiperseksual pada populasi sekitar 3-6 persen.
Komorbiditas
Dokter beserta tim medis perlu berhati-hati dalam upaya menegakkan diagnosis hiperseksualitas, mengingat adanya penyerta atau komorbiditas, seperti; gangguan suasana hati atau mood, gangguan cemas, penyalahgunaan zat adiktif (Napza) dan pemakaian alkohol, gangguan kepribadian, serta gangguan obsesif-kompulsif.
Sebagaimana pengguna obat-obat rekreasional, maka pencandu heroin dan pengguna obat psikostimulan juga merupakan perilaku seksual berisiko tinggi. Riset menunjukkan bahwa komorbiditas antara hiperseksualitas dan penyalahgunaan zat tinggi, antara 40 – 71 persen.
Perspektif Neurosains
Studi pencitraan (neuroimaging) menggunakan Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) berhasil menunjukkan respons otak terhadap isyarat erotik visual pada heteroseksual pria, ditunjukkan dengan aktivasi beberapa daerah di otak, seperti hipotalamus, talamus, amigdala, girus singulat anterior, insula, girus fusiform, girus presentral, korteks parietal, dan korteks oksipital.
Studi lain tentang respons otak terkait marker fisiologis dari bangkitan seksual—misalnya saat ereksi—menunjukkan aktivasi otak di sejumlah area, seperti hipotalamus, talamus, insula bilateral, girus singulat anterior, girus post-sentral, dan girus oksipital.
Studi aktivitas otak saat orgasme pria dan perempuan menunjukkan adanya aktivasi di jalur dopaminergik yang berasal dari tegmentum ventral menuju nukleus akumbens, serebelum dan girus singulat anterior. Khusus pada perempuan, aktivasi otak kortikal terobservasi selama orgasme.
Ada penelitian menarik yang mengungkapkan bahwa beberapa daerah di otak sama-sama teraktivasi baik saat terpapar obat pun seks. Daerah itu terletak di jaringan hadiah (reward network) dan sistem limbik, bernama tegmentum ventral, amigdala, nukleus akumbens, orbitofrontal, dan korteks insular.
Dari beberapa studi neuroimaging di atas diketahui keterlibatan berbagai area otak terkait reward processing, termasuk nukleus akumbens (umumnya striatum) dan tegmentum ventral, struktur prefrontal, struktur limbik (amigdala dan hipotalamus).
Studi lain berhasil membuktikan adanya lesi (luka) di otak yang melibatkan lobus temporal dan frontal, hipotalamus, serta septum. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa lesi lobus frontal menghasilkan disinhibisi atau hambatan, sedangkan lesi di lobus temporal pencetus dorongan atau hasrat seksual yang lebih tinggi.
Menariknya, hiperseksualitas dan disinhibisi dilaporkan juga pada penderita demensia, yang disebabkan oleh atrofi di korteks frontal dan temporal.
Jelaslah bahwa hiperseksual itu terkait erat dengan ketidaknormalan atau adanya gangguan pada otak. Para pakar di bidang neurosains telah membuktikannya melalui riset ilmiah.
[dr. Dito Anurogo, M.Sc., dokter online/digital, dosen FK Unismuh Makassar, penulis 20 buku, pembelajar neurosains, serta pegiat literasi dan riset]
 
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *