Example 728x250
Opini

Siri’ na Pacce di Era Digital: Menjaga Martabat Manusia di Tengah Budaya Virtual

24
×

Siri’ na Pacce di Era Digital: Menjaga Martabat Manusia di Tengah Budaya Virtual

Share this article
Example 468x60

Oleh: Henri (Dosen FISH UNM)

Porosmaju.com — Di tengah derasnya arus digitalisasi, masyarakat kini hidup dalam ruang sosial yang bergerak sangat cepat. Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi, membangun relasi, bahkan memandang dirinya sendiri. Generasi muda tumbuh dalam budaya instan yang menempatkan popularitas, pengakuan virtual, dan tren global sebagai bagian dari identitas keseharian. Di satu sisi, perkembangan teknologi membawa kemudahan dan peluang besar bagi kemajuan masyarakat. Namun di sisi lain, perubahan tersebut perlahan menghadirkan tantangan serius terhadap keberlangsungan nilai-nilai budaya lokal, termasuk budaya Makassar yang sejak lama dikenal kuat memegang prinsip siri’ na pacce.

Example 300x600

Dalam budaya Makassar, siri’ bukan sekadar rasa malu dalam arti sempit, melainkan simbol harga diri, kehormatan, dan martabat manusia. Sementara pacce merepresentasikan empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Kedua nilai ini selama berabad-abad menjadi fondasi hubungan sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Siri’ mengajarkan manusia untuk menjaga perilaku dan kehormatan diri, sedangkan pacce menanamkan kesadaran bahwa penderitaan orang lain merupakan bagian dari tanggung jawab sosial bersama.

Sayangnya, di tengah budaya digital yang semakin kompetitif dan individualistik, nilai-nilai tersebut mulai mengalami pergeseran makna. Fenomena saling menghina di media sosial, penyebaran ujaran kebencian, budaya pamer berlebihan, hingga hilangnya rasa hormat dalam komunikasi publik menunjukkan bahwa sebagian generasi muda perlahan menjauh dari semangat sipakatau — saling memanusiakan manusia — yang menjadi inti budaya Makassar. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana berbagi pengetahuan dan memperkuat solidaritas justru kerap berubah menjadi arena pertarungan ego dan pencarian validasi sosial.

Kondisi ini tentu tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kesalahan generasi muda. Perubahan sosial memang selalu membawa konsekuensi terhadap pola hidup masyarakat. Globalisasi budaya membuat generasi hari ini lebih dekat dengan budaya luar dibandingkan dengan tradisi lokalnya sendiri. Banyak anak muda yang fasih mengikuti tren internasional, tetapi mulai asing dengan nilai budaya daerahnya. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan kehidupan modern.

Padahal, nilai siri’ na pacce justru memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menghadapi krisis sosial di era digital. Di tengah meningkatnya perundungan siber, konflik sosial, dan menurunnya empati sosial, budaya pacce dapat menjadi landasan moral untuk membangun ruang digital yang lebih manusiawi. Begitu pula siri’ dapat menjadi pengingat agar manusia tetap menjaga etika, tanggung jawab, dan kehormatan dirinya dalam setiap tindakan, baik di dunia nyata maupun di dunia virtual.

Karena itu, menjaga budaya Makassar tidak cukup hanya melalui seremoni adat atau festival budaya semata. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dihidupkan kembali dalam praktik kehidupan sehari-hari. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial memiliki peran penting dalam menanamkan kembali nilai siri’, pacce, dan sipakatau kepada generasi muda. Pendidikan budaya tidak boleh berhenti pada hafalan simbol atau sejarah, tetapi harus menyentuh kesadaran moral dan perilaku sosial anak-anak muda di tengah perkembangan teknologi.

Selain itu, media sosial sebenarnya juga dapat menjadi ruang baru untuk memperkuat identitas budaya lokal. Generasi muda Makassar perlu didorong untuk menjadikan budaya daerah sebagai sumber kreativitas dan kebanggaan, bukan sekadar nostalgia masa lalu. Konten digital tentang bahasa daerah, tradisi lokal, cerita rakyat, hingga nilai-nilai sosial budaya dapat menjadi cara efektif memperkenalkan kembali identitas budaya Makassar kepada masyarakat luas.

Pada akhirnya, modernitas tidak seharusnya membuat manusia tercerabut dari akar budayanya. Kemajuan teknologi akan menjadi lebih bermakna jika berjalan seiring dengan penguatan nilai kemanusiaan. Siri’ na pacce bukan hanya warisan leluhur masyarakat Makassar, tetapi juga pedoman moral yang tetap relevan untuk membangun kehidupan sosial yang beradab di era digital. Di tengah dunia yang semakin bising oleh persaingan dan pencitraan, budaya lokal mengajarkan bahwa kehormatan manusia bukan diukur dari seberapa viral dirinya, melainkan dari bagaimana ia memanusiakan orang lain.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *