Example 728x250
Berita

Hadiri Promosi Doktor Elly Oschar, Ketum Pemuda Muhamamdiyah: Ilmu Tinggi Harus Berbuah Amal

9
×

Hadiri Promosi Doktor Elly Oschar, Ketum Pemuda Muhamamdiyah: Ilmu Tinggi Harus Berbuah Amal

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar – Wakil Dekan III Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Elly Oschar, meraih gelar doktor ke-53 Unismuh setelah mempertahankan disertasi tentang pemikiran pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Dalam kesempatan itu, Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, mengingatkan bahwa capaian akademik harus diikuti pengamalan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam sidang promosi doktor di Ruang I-GIFT, Menara Iqra lantai 2, Unismuh Makassar, Senin, 12 Oktober 2026..

Kelulusan tersebut sekaligus menempatkan Elly sebagai doktor ke-40 pada Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Unismuh. Dzulfikar, yang juga menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, menyampaikan testimoni setelah Elly dinyatakan lulus oleh tim penguji.

Example 300x600

Dalam testimoninya, Dzulfikar menekankan bahwa pencapaian gelar akademik tidak boleh berhenti pada penguasaan pengetahuan. “Ilmu itu harus selaras dengan amal perbuatan,” kata Dzulfikar, mengingatkan pentingnya menghubungkan ilmu yang diperoleh melalui pendidikan dengan tindakan nyata dalam kehidupan.

Menurut Dzulfikar, lulusan pendidikan doktoral memiliki tanggung jawab untuk menerapkan pengetahuannya dalam menjawab persoalan masyarakat. “Ilmu yang dia dapat itu harus bisa dioperasionalkan,” ujarnya, ketika menjelaskan pentingnya kemampuan mengembangkan pengetahuan menjadi tindakan yang memberikan manfaat.

Untuk menggambarkan pesannya, Dzulfikar mengisahkan seorang anak kepala suku di Papua yang terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor.

Dalam kisah tersebut, sang ayah berulang kali menanyakan bagaimana ilmu yang diperoleh anaknya dapat digunakan untuk mengatasi kemiskinan di kampung mereka, tetapi pertanyaan itu belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Dzulfikar juga mengingatkan Elly agar tidak menganggap gelar doktor sebagai akhir perjalanan intelektual.

“Jangan sampai hari ini promosi, menganggap upaya untuk mencari ilmu itu berhenti,” katanya, seraya menekankan pentingnya terus belajar dan bersikap rendah hati.

Ia kemudian menguraikan pentingnya kerendahan hati dalam proses menuntut ilmu dengan merujuk pada nasihat ulama tentang tahapan pengetahuan manusia. Menurut Dzulfikar, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahui dan perlu dipelajari.

Dalam kesempatan tersebut, Dzulfikar juga mengenang perjalanan panjang Elly sejak menjadi santri, mahasiswa, hingga aktif dalam gerakan kepemudaan. Ia menyebut Elly pernah menjadi aktivis demonstrasi dan menggeluti seni teater sebelum menjalani berbagai peran sebagai dosen, aktivis organisasi, dan politisi.

Dzulfikar mengatakan kedekatannya dengan Elly terjalin sejak keduanya aktif dalam gerakan Pemuda Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Ia berharap gelar doktor yang diraih Elly tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga memperkuat kiprahnya sebagai penggerak dakwah dan penyebar ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Elly meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi berjudul “Pemikiran Pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari: Studi Komparatif dan Kontribusinya terhadap Pengembangan Pendidikan Indonesia”. Melalui penelitian kepustakaan, ia mengkaji persamaan dan perbedaan pemikiran kedua tokoh, terutama dalam hubungan antara ilmu pengetahuan, pendidikan akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Dalam pemaparannya, Elly menjelaskan bahwa Ahmad Dahlan menekankan integrasi ilmu agama dan ilmu umum serta penerapan pengetahuan melalui tindakan nyata.

Sementara itu, Hasyim Asy’ari memberikan perhatian besar pada pendidikan adab, keteladanan guru, dan pembentukan karakter yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren.

Dari kajian tersebut, Elly merumuskan kerangka konseptual Pendidikan Integratif Adat Nusantara (PIAN) yang memadukan pemikiran kedua tokoh.

Kerangka itu memiliki lima pilar, yakni integrasi nilai etika dan spiritual dalam seluruh mata pelajaran, guru sebagai teladan, sekolah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, evaluasi pendidikan secara menyeluruh, serta digitalisasi yang berlandaskan etika.

Elly menjelaskan bahwa gagasan tersebut diarahkan untuk membangun pendidikan yang tidak hanya menekankan kemampuan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak dan tanggung jawab sosial.

Namun, ia mengakui bahwa PIAN masih berupa kerangka konseptual yang memerlukan penelitian empiris untuk menguji kelayakan serta efektivitas penerapannya di lembaga pendidikan.

Sidang promosi doktor dipimpin Wakil Rektor I Unismuh, Prof Andi Sukri Syamsuri, yang mewakili Rektor Dr Abd Rakhim Nanda karena sedang berada di Jepang.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof Abdul Mu’ti, hadir sebagai penguji eksternal bersama tim penguji lainnya, yakni Prof Erwin Akib, Dr Dahlan Lamabawa, dan Dr Sulaiman Masnan.

Sementara itu, Prof Ambo Asse bertindak sebagai promotor dan Prof Bahaking Rama sebagai kopromotor.

Andi Sukri menilai bertambahnya lulusan doktor menjadi bagian dari kontribusi Unismuh dalam pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Kita mengharapkan dalam disertasi itu melahirkan ide-ide baru,” ujarnya dalam wawancara seusai sidang.

Ia berharap capaian akademik tersebut mendorong lahirnya penelitian lanjutan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sejalan dengan pesan Dzulfikar agar ilmu senantiasa diwujudkan dalam amal.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *