Example 728x250
Berita

Uji Disertasi Elly Oschar, Mendikdasmen Dalami Pemikiran Dua Tokoh Islam

6
×

Uji Disertasi Elly Oschar, Mendikdasmen Dalami Pemikiran Dua Tokoh Islam

Share this article
Example 468x60

Porosmaju.com, Makassar – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof Abdul Mu’ti, mendalami relevansi pemikiran pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari dalam sidang promosi doktor Elly Oschar. Melalui dialog akademik, Mu’ti menguji gagasan integrasi kedua pemikiran tersebut bagi pengembangan pendidikan Indonesia di Ruang I-GIFT, Menara Iqra lantai 2, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin, 12 Oktober 2026.

Abdul Mu’ti hadir sebagai penguji eksternal dalam sidang promosi doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Unismuh. Elly mempertahankan disertasi berjudul “Pemikiran Pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari: Studi Komparatif dan Kontribusinya terhadap Pengembangan Pendidikan Indonesia”.

Example 300x600

Pertanyaan Ujian Mendikdasmen

Dalam sesi pengujian, Mu’ti mengajak promovendus mendalami perbedaan dan titik temu pemikiran kedua tokoh, termasuk relevansinya dengan perkembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). “Pasti ada perbedaannya. Dan apa yang menyebabkan perbedaan itu?” tanya Mu’ti ketika meminta Elly menjelaskan latar belakang perbedaan pendekatan pendidikan kedua tokoh tersebut.

Pembahasan kemudian berlanjut pada kesinambungan pemikiran Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari dengan praktik pendidikan yang berkembang saat ini. “Atau sudah mengalami proses diskoneksi?” tanya Mu’ti, saat mendalami hubungan antara gagasan para pendiri dan perkembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah serta NU.

Dialog tersebut menjadi ruang pertukaran pandangan mengenai sejarah, tradisi keilmuan, dan pembaruan pendidikan Islam. Mu’ti juga mengajak Elly memperjelas landasan pemikirannya agar sintesis yang ditawarkan memiliki argumentasi akademik yang kuat serta dapat dikembangkan melalui penelitian lanjutan.

Elly menjelaskan bahwa penelitiannya berangkat dari kecenderungan memahami pemikiran kedua tokoh secara terpisah. “Kedua tokoh ini sering disalahpahami,” ujar Elly dalam wawancara seusai sidang, merujuk pada pandangan yang menempatkan Ahmad Dahlan sebagai simbol modernisme dan Hasyim Asy’ari sebagai representasi tradisionalisme.

Menurut Elly, yang saat ini merupakan Wakil Dekan III FAI Unismuh, Ahmad Dahlan menekankan pentingnya integrasi ilmu agama dan ilmu umum, disertai penerapan pengetahuan dalam tindakan nyata. Sementara itu, Hasyim Asy’ari memberikan perhatian besar pada pendidikan adab, pembentukan karakter, dan keteladanan guru sebagai fondasi proses pendidikan.

Dari kajian komparatif tersebut, Elly menemukan sejumlah titik temu yang dapat memperkaya pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. “Kedua tokoh ini sama-sama sepakat menolak dikotomi ilmu,” ujar Elly dalam pemaparan disertasinya, seraya menjelaskan bahwa keduanya juga menempatkan akhlak sebagai tujuan penting pendidikan dan berkomitmen pada pembaruan untuk kemajuan umat.

Temuan Disertasi: Pendidikan Integratif Adab Nusantara

Temuan tersebut kemudian dikembangkan menjadi kerangka konseptual Pendidikan Integratif Adab Nusantara (PIAN). Kerangka ini memadukan semangat integrasi ilmu dalam pemikiran Ahmad Dahlan dengan pendidikan berbasis adab dan keteladanan yang ditekankan Hasyim Asy’ari.

Elly menjelaskan bahwa PIAN memiliki lima pilar, yakni integrasi nilai etika dan spiritual dalam seluruh mata pelajaran, guru sebagai teladan, sekolah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, evaluasi pendidikan secara menyeluruh, serta digitalisasi yang berlandaskan etika. Kelima pilar tersebut diarahkan untuk membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Meski demikian, Elly mengakui bahwa kerangka tersebut masih berupa sintesis pemikiran yang dihasilkan melalui penelitian kepustakaan. “Ini belum diuji secara empiris,” ujarnya, sembari menjelaskan bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui efektivitas penerapan kerangka tersebut di lembaga pendidikan.

Sidang promosi doktor dipimpin Wakil Rektor I Unismuh, Prof Andi Sukri Syamsuri, yang mewakili Rektor Dr Abd Rakhim Nanda karena sedang berada di Jepang. Tim penguji lainnya terdiri atas Prof Erwin Akib, Dr Dahlan Lamabawa, dan Dr Sulaiman Masnan, sedangkan Prof Ambo Asse bertindak sebagai promotor dan Prof Bahaking Rama sebagai kopromotor.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia sekaligus Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawalla. Dalam testimoninya, Dzulfikar menekankan pentingnya menghubungkan ilmu pengetahuan dengan pengamalan dalam kehidupan, sehingga capaian akademik dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Setelah melalui rangkaian pengujian, Elly dinyatakan lulus sebagai doktor ke-53 Unismuh dan doktor ke-40 pada Program Studi Doktor PAI. Capaian tersebut menambah jumlah lulusan pendidikan doktoral yang dihasilkan Unismuh melalui program pascasarjananya.

Prof Andis, sapaan akrab Andi Sukri Syamsuri, menilai promosi doktor tersebut menjadi bagian dari kontribusi Unismuh dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mengembangkan kajian pendidikan Islam.

“Kita mengharapkan dalam disertasi itu melahirkan ide-ide baru,” ujarnya, seraya mendorong semakin banyak akademisi melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor dan mengembangkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *