Example 728x250
Hiburan

Begini Neurosains Jelaskan Perilaku Multitasking Anda

7
×

Begini Neurosains Jelaskan Perilaku Multitasking Anda

Share this article
Example 468x60

Misteri Multitasking oleh dr. Dito Anurogo, MSc.
Ilustrasi (selipan.com)

POROSMAJU.COM, Multitasking adalah kemampuan untuk melakukan banyak kegiatan atau aktivitas pada saat yang bersamaan. Misalnya,  anda memasak di dapur sembari mendengarkan musik dan menjawab SMS.
Multitasking bisa dialami baik oleh pria maupun perempuan. Karena itu, asumsi masyarakat bahwa perempuan lebih berpotensi untuk multitasking tidak didasarkan kepada bukti riset.
Berikut ini penjelasan ilmiah multitasking berdasarkan paradigma neurosains.
The Neuroscience of Mutitasking
Dalam perspektif neurosains, multitasking terkait dengan bagian otak yang bernama korteks prefrontal dan area Brodmann 10.
Bagian otak yang disebut dengan korteks prefrontal (KP) adalah daerah kortikal di anterior lobus frontal terhadap korteks motorik asosiasi dan primer. Bagian otak ini meningkat ukurannya bersama dengan perkembangan filogenetik.
Pada manusia, KP terlibat di dalam perencanaan perilaku kognitif yang kompleks, ekspresi kepribadian, dan perilaku sosial. Satu fungsi yang dihubungkan dengan KP adalah multitasking.
Keterlibatan KP terutama dalam seleksi dan pemeliharaan beragam tujuan internal perintah yang lebih tinggi, sementara subtujuan lainnya sedang dilakukan.
Pemeliharaan dan pencarian fleksibel dari beragam tujuan perintah yang lebih tinggi ini memungkinkan kita untuk menyesuaikan perilaku kita terhadap rencana internal, dibandingkan dengan selalu merespons lingkungan eksternal.
Beragam data dari studi neuroimaging fungsional menunjukkan bahwa gangguan fungsi multitasking dan kekurangan perencanaan ditunjukkan oleh orang dengan kerusakan korteks frontal yang luas.
Area Brodmann 10 (AB10), juga dikenal sebagai kutub frontal (frontopolar cortex) atau korteks prefrontal anterior/rostral. Ini merupakan daerah terbesar dan paling anterior di KP manusia. AB10 memainkan peranan penting di dalam kesadaran manusia.
Beberapa neurosaintis meletakkan AB10 di puncak hirarki (the top of a frontal processing hierarchy). Perannya adalah untuk menjaga tujuan di pikiran (mind) yang sementara menyelidiki dan menyelesaikan tujuan-tujuan sekunder.
Singkatnya, AB10 berperan penting di dalam memori kerja (working memory) dan yang popular diistilahkan dengan multitasking. Secara spesifik, bagian AB10 lateral penting untuk menjalankan fungsi multitasking saat “keluar dunia” tidaklah cukup.
Tujuan internal diperlukan untuk mengatur perilaku, yaitu saat kesadaran harus dibimbing oleh pemikiran yang bebas stimulus (stimulus-independent thought). Kerusakan AB10 ini menyebabkan gangguan “management of multiple goals”, yaitu kesulitan untuk memanajemi sejumlah tujuan tindakan.
Riset menunjukkan sekelompok orang dengan lesi frontal, gangguan multitasking berkorelasi dengan tingkat kerusakan AB10. Beberapa riset terbaru menunjukkan relasi antara korteks prefrontal rostral dan memori prospektif, yaitu kapasitas untuk melakukan aksi yang diniatkan setelah tertunda beberapa saat), suatu elemen penting dari multitasking.
Studi neuroimaging fungsional juga menghubungkan AB10 dengan kemampuan untuk berempati, menduga emosi, perasaan, dan pemikiran seseorang.
Ini juga menuntut suatu fungsi kompleks yang secara kolektif mengacu ke teori pikiran (theory of mind). Faktanya, beberapa studi neuroimaging fungsional berhasil membuktikan aktivasi KP saat kemampuan ini dinilai.
Karakteristik Multitasking
Ada dua karakteristik dari situasi multitasking natural yang berbeda dari paradigma multiple-task eksperimental. Pertama, prestasi/perbuatan memadai (adequate performance) tidaklah diisyaratkan secara kuat oleh permintaan atau tuntutan eksternal.
Partisipan haruslah memutuskan untuk diri mereka sendiri target yang dapat diterima dan di mana mereka telah mencapainya. Kedua, proses “marker creation” (kreasi dari tujuan untuk melakukan sesuatu di masa mendatang) adalah murni inisiasi pribadi (self-initiated).
Selanjutnya partisipan memutuskan di mana atau dalam keadaan apa mereka akan menyadari dan mencapai tujuan atau maksud mereka yang tertunda.
Organ Multitasking
Sistem kerja organ tubuh manusia amatlah kompleks. Beberapa di antaranya saling bersinergi. Beberapa di antaranya juga dapat melakukan fungsi yang multitasking, misalnya angiotensin II dan obscurin.
Angiotensin II (Ang II) adalah hormon bersirkulasi perifer yang meregulasi tekanan darah dan homeostasis (keseimbangan) cairan, dikenal pula sebagai “brain neuromodulator“, yaitu penginduksi intake (asupan) garam dan cairan serta peningkatan tekanan darah.
Obscurin adalah protein raksasa ketiga yang ditemukan di otot striated vertebrate bersama dengan titin dan nebulin. Obscurin memiliki peran di dalam memodulasi organisasi dan meng-assembly miofibril dan retikulum sarkoplasma.
Obscurin dijumpai di transverse striations di mioplasma serabut otot orang dewasa (adult muscle fibers). Pada penyakit pembesaran/pembengkakan otot jantung (hypertrophic cardiac myocytes), obscurin terlibat sebagai penekan overload dan respon smiopatik terhadap mutasi di titin.
Titin disebut juga connectin, yaitu suatu protein raksasa pada manusia yang dikode oleh gen TTN. Ini berfungsi di dalam elastisitas otot secara pasif.
Titin adalah protein ketiga terbesar di otot setelah myosin dan actin, memiliki panjang lebih dari 1 µm. Nebulin adalah protein sarkomer filamentosa raksasa, berukuran 600-900 kDa, yang bersifat koekstensif dengan filamen aktin dari sarkomer otot skeletal.
Nebulin berperan di dalam regulasi kontraksi otot, proses myofibrillogenesis, homeostasis kalsium (terutama saat penanganan kalsium dari retikulum sarkoplasma), pengatur molekuler untuk proses spesifikasi panjang filamen tipis, dan mengatur interaksi actomyosin.
Defisiensi nebulin pada penderita miopati nemaline menyebabkan kelemahan otot.
Ditulis oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc. (Dosen FK Unismuh Makassar)
Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *